Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Penyebab Gak Betah Mudik ke Rumah Mertua, Tetap Kudu Jaga Sikap
ilustrasi kumpul saudara (pexels.com/Craig Adderley)
  • Hubungan yang kurang harmonis dengan mertua sering jadi sumber ketidaknyamanan saat mudik, membuat suasana Idulfitri terasa canggung dan melelahkan bagi pasangan muda.
  • Perbedaan suasana rumah, baik terlalu ramai maupun terlalu sepi, dapat memicu stres dan rasa bosan selama tinggal di rumah mertua saat Lebaran.
  • Kejutan budaya antara kota dan desa serta rasa rindu pada orangtua sendiri memperkuat perasaan tidak betah ketika harus merayakan Idulfitri di rumah mertua.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

1. Hubungan yang kurang baik

ilustrasi bersama mertua (pexels.com/Gustavo Fring)

Hubungan antara kamu dengan mertua yang tidak harmonis menjadi akar dari rasa gak nyaman yang kuat tiap mudik. Bukan hanya mudik Lebaran, melainkan kapan pun pasanganmu mengajak ke sana. Dirimu hendak berangkat saja sudah gak antusias.

Apalagi setibanya di sana dan baik kamu maupun mertua sama-sama tak bisa menahan ekspresi serta sikap yang kurang bersahabat. Detik demi detik selama dirimu di sana bakal terasa amat lambat. Mudik tiga hari saja bisa terasa setahun.

Harapan terbaiknya tentu di momen Idulfitri kali ini, hubungan menantu dan mertua dapat sepenuhnya pulih. Kalaupun itu masih sulit, setidaknya dijaga supaya tak bertambah buruk. Kamu bisa mengomunikasikan rasa gak nyamanmu pada pasangan biar ia yang menengahi dan sedikit lebih cepat kembali ke rantau.

2. Suasana rumah terlalu ramai atau justru begitu sepi

ilustrasi kumpul keluarga (pexels.com/karim Ouakkaha)

Bayangkan apabila kamu seorang introver yang terbiasa nyaman di rumahmu yang tenang mendadak berada dalam suasana gaduh terus. Rumah mertua setiap Lebaran kebanjiran tamu baik menginap maupun sekadar mampir. Keluarga pasanganmu benar-benar besar.

Dari pagi sampai larut malam suasananya terus-menerus berisik. Rasa lelahmu pasti luar biasa. Baik capek fisik karena mesti terus menghidangkan makanan dan minuman maupun lelah mental.

Kondisi sebaliknya juga dapat memicu rasa bosan. Di rumah orangtuamu, Idulfitri amat meriah. Sementara di rumah mertua malah begitu hampa. Hampir gak ada orang yang datang untuk bersilaturahmi. Bahkan lontong dan opor pun tak tersaji. Menu seperti hari-hari biasa saja.

3. Perbedaan drastis antara kota dengan desa

ilustrasi kumpul saudara (pexels.com/Matheus Bertelli)

Untukmu yang bergerak mudik dari kota besar ke pelosok desa sangat mungkin mengalami kekagetan yang bikin tidak nyaman. Di kota, orang bersilaturahmi tak perlu lama-lama. Hanya bersalaman di depan rumah pun beres.

Setelah itu hari berjalan seperti biasa. Akan tetapi, di desa menyerupai orang hajatan. Tetangga-tetangga mesti masuk ke rumah dulu. Hidangannya juga anti praktis. Mertuamu merasa gak pantas apabila tamu disuguhi air mineral kemasan.

Harus bikin teh manis sendiri. Artinya, nanti dirimu juga kudu mencuci banyak gelas. Itu baru dari segi acara silaturahmi. Belum lagi fasilitas yang minim dan bikin kamu cepat stres. Minimarket saja jauhnya bukan main. Jam 21.00 suasananya sudah bak kampung mati. Beda dengan kota yang hidup 24 jam nonstop.

4. Merasa risi dengan reaksi orang-orang di sekitar

ilustrasi bersama saudara (pexels.com/Macjoy Peñaredondo)

Biasanya rasa risi atas reaksi orang-orang di sekitar berawal dari pandangan mereka padamu. Seakan-akan kamu orang aneh karena datang dari jauh. Di kampung halaman pasanganmu barangkali tidak banyak pendatang.

Kehadiranmu di sana dengan gaya berpakaian serta bicara yang berbeda menjadi pusat perhatian. Dirimu tak melakukan apa-apa pun tetap menjadi sorotan. Mereka cuma lebih sering melihatmu tanpa berkedip saja sudah membuatmu tidak nyaman.

Apalagi jika pertanyaan atau perkataannya kurang menyenangkan untukmu yang belum terbiasa. Rasanya kamu ingin sekali membalasnya dengan gayamu sendiri. Namun, dirimu tahu itu dapat dinilai mereka sebagai sangat tak sopan. Nanti mertuamu kena imbasnya. Akibatnya, usahamu menahan diri justru bikin tertekan.

5. Kangen berat dengan orangtua sendiri

ilustrasi kumpul keluarga (pexels.com/khezez | خزاز)

Penyebab yang satu ini gak boleh disepelekan. Sekalipun kamu bukan lagi anak-anak dan malah sudah menjadi orangtua, menahan rindu itu berat. Apalagi di momen Lebaran, pikiranmu pasti melayang.

Kamu terbayang-bayang indahnya merayakan Idulfitri bersama orangtua. Dirimu kangen berat dengan masakan-masakannya. Sama-sama mertua bikin opor dan rendang pasti terasa beda dengan buatan orangtua kandung.

Rasa rindu orangtua tambah kuat seandainya kalian lama tak berjumpa. Bila dirimu mudah rapuh karena rindu ayah ibu, usahakan sebelum mudik ke tempat mertua sudah sempat pulang dulu. Khususnya jika jarak rumahmu dengan orangtua kandung tidak terlalu jauh.

Bila tak memungkinkan, sering-sering video call saja. Akan tetapi, saat kamu sudah di rumah mertua jangan asyik bertelepon terus dengan orangtua di kamar. Sesekali saja dan libatkan mertuamu supaya mereka dapat mengobrol. Keakraban mereka membantumu lebih merasa seperti sedang di rumah orangtua kandungmu.

Meski kamu kurang betah berlama-lama di rumah mertua, jangan lantas ogah ke sana sama sekali. Juga di rumah mertua terlalu sebentar sehingga dirimu lebih seperti tamu biasa ketimbang bagian dari keluarga. Suatu saat kamu juga akan punya menantu dan menjadi mertua. Jaga sikap sepatutnya dan cobalah menikmati suasana.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team