Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ikut ayah bekerja
ilustrasi ikut ayah bekerja (pexels.com/Gustavo Fring)

Intinya sih...

  • Makanan dan minuman

  • Popok serta pakaian ganti

  • Bantal kecil

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Kantor bukan taman bermain untuk anak-anak. Namun, tidak semua kantor secara ketat melarang karyawannya membawa anak. Beberapa kantor masih menoleransinya selama tidak setiap hari, cuma sebentar atau situasi darurat, serta anak dapat cukup tenang.

Kelonggaran ini memudahkan ayah dan ibu ketika ART di rumah libur atau situasi lainnya. Seperti jam masuk sekolah anak lebih siang sementara orangtua masuk kerja pagi. Terpenting orangtua mengisi daftar hadir dan bekerja dulu sebentar baru mengantar anak.

Meski ada kelonggaran dari kebijakan kantor, orangtua wajib menyiapkan perbekalan anak. Bagaimanapun, situasi kantor mungkin kurang nyaman baginya. Jangan sampai ada perlengkapan yang ketinggalan di rumah dan bikin anak rewel. Catat berbagai perlengkapan yang perlu dibawa saat ajak anak ke kantor serta siapkan dalam tas khusus.

1. Makanan dan minuman

ilustrasi ikut ibu bekerja (pexels.com/Anastasia Shuraeva)

Di kantormu juga ada kantin atau warung-warung. Namun, belum tentu anak akan cocok dengan makanan yang dijual. Apalagi saat anak masih balita. Jajanannya saja berbeda dari kudapan kesukaan orang dewasa.

Lebih aman untukmu membawa sendiri makanan dan minuman buat anak. Biar bisa sama seperti camilannya di rumah. Ini meningkatkan rasa nyaman anak. Walaupun anak cuma ikut ke kantor sebentar, makanan serta minuman ampuh buat mengatasi rasa bingung serta cepat bosan.

Bila anak agak lama di kantormu, jangan lupa makan besarnya juga dibawa. Dirimu tentu repot bila harus turun dari lantai sekian hanya untuk membelikannya makanan. Stok makanan serta minuman aman, anak cenderung tenang sampai kembali ke rumah.

2. Popok serta pakaian ganti

ilustrasi ikut ibu bekerja (pexels.com/Helena Lopes)

Kalau anak belum konsisten bisa buang air di toilet, memakaikannya popok selama ikut ke kantormu lebih aman. Apalagi lokasi kamar mandi kantor pasti gak sedekat di rumah. Andai anak sempat bilang ingin pipis atau BAB pun, belum tentu ia mampu menahannya hingga mencapai toilet.

Lebih baik anak tetap memakai popok dan bila ia bisa tahan hingga sampai kamar mandi berarti popoknya gak usah diganti. Bayangkan jika anak buang air besar atau kecil sembarangan, siapa yang akan membersihkannya? Belum tentu OB mau.

Jangan lupa, bawa pula popok cadangan dan pakaian ganti satu setel. Kondisi anak kadang tak terduga. Selain ia dapat mengompol atau berak di tempat, sedikit tak enak badan bisa membuatnya muntah.

3. Bantal kecil

ilustrasi ikut ibu bekerja (pexels.com/Yan Krukau)

Bantal kecil seperti bantal mobil atau bantal leher cukup buat bikin anak lebih nyaman. Kapan pun ia capek duduk tegak dapat bersandar atau berbaring memakai bantal tersebut. Kamu barangkali kadang juga memakainya setelah lelah duduk di kantor.

Apabila anak cuma sebentar di kantormu, gak usah bawa bantal lagi. Pakai saja bantal kecilmu biar tak repot membawanya. Akan tetapi, jika anak lama di sana dan dirimu juga bakal capek, bawa tambahan bantal kecil dari rumah.

Walaupun untuk tidur anak tetap perlu dipangku, bantal kecil dapat menyangga beberapa bagian tubuhnya. Syukur-syukur ada kursi nganggur yang aman untuk anak tidur dengan bantal mininya. Kalau tidurnya nyaman, anak bangun tanpa rewel.

4. Baju hangat

ilustrasi bekerja membawa anak (pexels.com/William Fortunato)

Jangankan anakmu. Kamu dan teman-teman saja kerap kedinginan ketika bekerja. Suhu AC disetel rendah sampai bikin kalian lebih suka pakai jaket atau bahkan membawa kain pantai buat menyelimuti tubuh.

Memang anak yang aktif akan mudah berkeringat. Akan tetapi, pergerakannya selama di kantormu pasti terbatas. Daripada anak pulang-pulang tidak enak badan, siapkan baju hangat dari rumah.

Sebelum anak mengeluh dingin pun jaket dapat dipakaikan. Lepas jika anak bilang atau terlihat agak gerah. Usahakan dirimu gak bawel minta suhu AC dinaikkan demi anak. Nanti teman-teman yang suka dingin malah menyalahkanmu karena membawa anak ke kantor.

5. Mainan sederhana atau bacaan

ilustrasi ibu dan putrinya (pexels.com/Nicola Barts)

Seperti disebutkan di awal, kantor bukan tempat bermain anak. Namun, anak yang belum bersekolah sulit tenang berjam-jam tanpa mainan sama sekali. Maka dari itu, lebih baik ada mainan yang dibawa ke kantor.

Dengan catatan, jenis mainannya kecil dan gak berisiko merusak dokumen kerja atau mengganggu ketenangan. Mainan yang mengeluarkan bunyi atau air jangan dibawa. Juga cukup 1 atau 2 buah. Seperti orang-orangan.

Jangan lupa, kasih tahu anak tentang cara memainkannya selama di kantor. Misal, anak cuma boleh memainkannya di dekatmu. Jangan memakai meja atau kursi orang lain buat tempat bermain.

Anak pun gak boleh duduk-duduk di lantai dan bermain karena akan mengganggu orang lewat. Untuk anak yang lebih besar serta sudah bisa membaca, bawa buku lebih baik. Selain buku bacaan sebagai pengisi waktu, juga sarana belajar anak.

6. Obat-obatannya

ilustrasi ikut ibu bekerja (pexels.com/Vitaly Gariev)

Terakhir, perlengkapan yang perlu dibawa saat ajak anak ke kantor adalah obat-obatan. Anak berangkat bersamamu dalam keadaan sehat pun dapat tiba-tiba menunjukkan tanda gangguan kesehatan. Obatan-obatan yang umum seperti obat penurun demam dan diare perlu dibawa. Apalagi jika anak sedang kurang enak badan.

Di rumah ia telah minum obat. Rencana awal, kamu akan segera mengajak anak pulang untuk beristirahat. Namun, terkadang setelah dirimu tiba di kantor ada saja urusan yang harus diselesaikan.

Waktu anak pulang menjadi molor. Jangan sampai jadwal minum obatnya terlewat karena dirimu gak membawanya. Mending obat dibawa lengkap buat sehari untuk mengantisipasi keterlambatan pulang. Kasihan anak bila sakitnya tak kunjung sembuh atau tambah parah karena telat minum obat plus capek ikut ke kantormu.

Mengajak anak ke kantor kadang karena paksaan situasi. Namun, ada sisi positif dari sesekali membawa anak ke kantor. Ia menjadi tahu kesibukan orangtuanya. Anak juga belajar tenang plus berinteraksi secara sopan dengan orang-orang dewasa. Boleh jadi setelah ini anak menemukan cita-cita pertamanya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team