Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi ngobrol
Ilustrasi ngobrol bersama (Pexels.com/Gustavo Fring)

Menghadapi balita memang sering bikin orang tua naik turun emosinya. Kadang mereka bisa manis dan nurut, tapi di waktu lain bisa tantrum tanpa sebab yang jelas. Apalagi, di usia balita, anak belum sepenuhnya bisa mengungkapkan perasaan dan kebutuhannya dengan kata-kata. Alhasil, emosi mereka sering keluar dalam bentuk tangisan, teriakan, atau penolakan. Hal ini wajar banget, tapi tetap saja bikin orang tua kewalahan.

Salah satu kunci penting agar balita lebih tenang dan mudah diarahkan adalah pola komunikasi yang tepat. Cara kita berbicara, intonasi suara, hingga bahasa tubuh ternyata sangat berpengaruh pada respons anak. Balita cenderung meniru dan merespons apa yang mereka rasakan, bukan hanya apa yang mereka dengar. Jadi, kalau komunikasinya keliru, anak bisa makin rewel dan susah nurut. Berikut ini beberapa pola komunikasi yang bisa membantu balita merasa lebih tenang dan kooperatif.

1. Gunakan nada suara lembut dan stabil

Ilustrasi ayah dan anak (Pexels.com/Timur Weber)

Nada suara punya peran besar dalam komunikasi dengan balita. Anak usia dini sangat sensitif terhadap intonasi, bahkan sebelum mereka memahami arti kata-katanya. Saat orang tua berbicara dengan nada tinggi atau terdengar marah, balita bisa langsung merasa terancam atau takut. Akibatnya, mereka justru makin menolak dan sulit diarahkan.

Sebaliknya, nada suara yang lembut dan stabil bisa membuat anak merasa aman. Meski sedang menegur, usahakan tetap berbicara dengan tenang agar pesan lebih mudah diterima. Ingat, balita lebih merespons emosi dibanding logika.

2. Pakai kalimat sederhana dan jelas

Ilustrasi ibu dan anak (Pexels.com/Anna Pou)

Balita belum mampu mencerna kalimat yang terlalu panjang atau berbelit-belit. Kalau orang tua terlalu banyak menjelaskan, anak justru bingung dan tidak menangkap maksud utamanya. Oleh karena itu, gunakan kalimat yang singkat, jelas, dan langsung ke poin.

Misalnya, daripada berkata panjang lebar, lebih baik ucapkan instruksi sederhana seperti “Ayo duduk” atau “Mainannya disimpan, ya.” Kalimat sederhana membantu anak memahami apa yang diharapkan dari mereka. Selain itu, hindari memberi terlalu banyak perintah sekaligus. Fokus satu instruksi dalam satu waktu supaya anak tidak kewalahan.

3. Validasi perasaan anak sebelum menasihati

Ilustrasi ibu dan anak (Pexels.com/August de Richelieu)

Salah satu kesalahan yang sering dilakukan orang tua adalah langsung menegur tanpa mengakui perasaan anak. Padahal, balita juga punya emosi yang perlu dihargai. Saat anak marah atau menangis, coba validasi perasaannya terlebih dahulu.

Misalnya dengan mengatakan, “Kamu lagi kesel, ya,” atau “Kelihatannya kamu capek.” Dengan begitu, anak merasa dimengerti dan lebih tenang. Setelah emosinya mereda, baru berikan arahan atau solusi. Pola ini membuat anak belajar mengenali dan mengelola emosinya sejak dini.

4. Konsisten antara ucapan dan tindakan

Ilustrasi beebelanja (Pexels.com/Gustavo Fring)

Balita belajar dari apa yang mereka lihat, bukan hanya dari apa yang mereka dengar. Kalau orang tua sering berkata satu hal tapi melakukan hal lain, anak bisa bingung dan tidak menganggap serius aturan yang ada. Konsistensi sangat penting dalam membangun rasa aman dan kepercayaan anak.

Misalnya, jika aturan mengatakan tidak boleh main gadget sebelum makan, maka aturan itu harus diterapkan setiap hari. Jangan berubah-ubah hanya karena sedang capek atau tidak enak hati. Dengan konsistensi, balita jadi lebih mudah memahami batasan dan lebih nurut. Lama-kelamaan, mereka akan terbiasa mengikuti aturan tanpa perlu diingatkan terus-menerus.

Membangun komunikasi yang baik dengan balita memang butuh kesabaran ekstra. Tidak ada pola yang langsung berhasil dalam semalam, karena setiap anak punya karakter yang berbeda. Namun, dengan komunikasi yang tepat, anak bisa merasa lebih aman, tenang, dan dihargai. Hal ini akan berdampak positif pada perilaku mereka sehari-hari. Ingat, balita bukan anak yang “nakal”, mereka hanya sedang belajar memahami dunia dan emosinya sendiri. Saat orang tua mau menyesuaikan cara berkomunikasi, hubungan dengan anak pun jadi lebih hangat dan harmonis.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team