Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
6 Sebab 2 Minggu Terakhir Ramadan Sebaiknya Buka Puasa di Rumah
ilustrasi buka puasa (pexels.com/Meruyert Gonullu)
  • Dua minggu terakhir Ramadan disarankan berbuka di rumah agar lebih hemat, menjaga keseimbangan waktu dengan keluarga, dan menghindari pengeluaran berlebihan dari bukber di luar.
  • Berbuka bersama keluarga membantu mempererat hubungan, memenuhi kerinduan mereka, serta memberi kesempatan untuk fokus ibadah di sepuluh malam terakhir Ramadan.
  • Selain menghindari kemacetan dan kelelahan, buka di rumah juga memudahkan persiapan Lebaran serta koordinasi rencana mudik bersama keluarga.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Tidak terasa Ramadan telah masuk minggu ketiga. Kamu sudah berapa kali buka bersama di luar bareng teman-teman? Biasanya kawan kerja yang paling gercep bikin bukber. Sekalian untuk meningkatkan keakraban dan kekompakan kalian.

Kemudian disusul buka bersama teman-teman semasa kuliah atau sekolah. Ada juga bukber kawan arisan, nge-gym, dan sebagainya. Memasuki minggu ketiga serta keempat nanti, sebaiknya dirimu fokus ke buka bareng keluarga di rumah saja.

Tidak ada larangan sih, untukmu lanjut bukber di luar dengan teman-teman. Akan tetapi, mungkin berbuka di rumah bersama keluarga malah lebih banyak manfaatnya. Mumpung Ramadan belum kadung pergi. Meski suasana dan hidangannya gak mewah, ada enam alasan yang perlu dipertimbangkan.

1. Dari awal Ramadan kamu sudah buka di luar bareng teman terus

ilustrasi menyiapkan buka puasa (pexels.com/Los Muertos Crew)

Coba dihitung lagi. Sejak puasa hari pertama sampai sekarang, sudah berapa banyak bukber bareng teman yang diikuti? Untukmu yang masih senang-senangnya nongkrong di sela-sela kesibukan boleh jadi tiap hari bukber di luar.

Uang yang dikeluarkan tentu gak sedikit. Apalagi buka puasanya selalu mencari tempat-tempat yang estetik. Bahkan per orang ambil paket buka puasa sekitar 100 sampai 200 ribu rupiah. Duh, tanpa terasa setengah gaji sudah ludes cuma buat membatalkan puasa.

Selain soal banyaknya uang yang dibelanjakan, ini juga tentang keseimbangan. Masa kawan-kawan terus yang diprioritaskan? Keluarga yang selalu ada untukmu malah seperti tidak dianggap. Yuk, bukanya di rumah saja sampai Ramadan usai.

2. Keluarga juga rindu kehadiranmu di tengah mereka

ilustrasi buka puasa (pexels.com/Vanessa Loring)

Kamu mungkin merasa biasa-biasa saja tidak berbuka bersama keluarga di rumah. Malah lebih seru buka puasa dengan teman-teman. Makan dan minumnya sebenarnya maksimal cuma setengah jam.

Akan tetapi, ngobrol, bercanda, serta bikin foto dan videonya bisa lebih dari dua jam. Kamu gak salah karena merasa happy di tengah mereka. Itu artinya, dirimu punya circle yang menyenangkan. Namun, sebaiknya kamu gak egois dalam membagi perhatian serta waktumu.

Bagi keluargamu di rumah, kosongnya satu kursi di meja makan sudah menciptakan rasa kehilangan. Apalagi ini terjadi berkali-kali. Bersyukurlah ada keluarga yang masih merindukanmu. Pulang dan nikmati makanan serta minuman bersama mereka.

3. Biar lebih fokus ibadah di 10 hari terakhir

ilustrasi buka puasa (pexels.com/Jonathan Borba)

Bagi muslim, 10 hari terakhir di bulan Ramadan sangat penting. Di antara hari-hari tersebut terdapat malam seribu bulan atau lailatulqadar. Umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah dan melakukannya dengan sungguh-sungguh.

Kalau kamu terus berbuka di luar bersama teman-teman pasti tidak mudah untuk mengatur waktu ibadah. Boro-boro dirimu mengaji di rumah. Salat Magrib dan Isya saja jadi sering terlewatkan.

Cuma sesi makannya yang tepat waktu serta penuh semangat. Salat Magrib yang seharusnya dapat dilaksanakan segera justru dijamak dengan salat Isya. Itu pun baru ditunaikan sekitar jam 21.00 atau 22.00 setibanya dirimu di rumah.

4. Jalanan makin macet, apa-apa jadi lama

ilustrasi menyiapkan buka puasa (pexels.com/Kampus Production)

Makin mendekati Idulfitri, lalu lintas tambah ramai. Baik siang maupun malam rasanya orang-orang terus memadati jalanan. Ini bukan tanpa alasan. Mayoritas masyarakat berbelanja kebutuhan Lebaran.

Gak cuma satu kali belanja, tetapi bisa setiap hari. Daftar belanja terus memanjang hingga semua kebutuhan hari raya dianggap lengkap. Kemacetan di berbagai ruas jalan bisa menipiskan kesabaranmu.

Kamu mau buka di luar bareng teman-teman saja sudah terjebak macet ketika berangkat. Tubuh makin lemah selama di jalan. Pulangnya pun sama. Malah jalan kian ramai karena orang-orang yang sudah berbuka lebih siap pergi belanja. Dirimu sebenarnya cuma buang-buang waktu serta energi.

5. Tubuh lebih mudah lelah dan gampang sakit bila kurang istirahat

ilustrasi buka puasa (pexels.com/Kampus Production)

Puasa dari hari ke hari bukan hal mudah. Apalagi setelah setengah Ramadan terlalui. Tenagamu gak sama seperti saat awal puasa. Boleh jadi berat badan juga sudah turun 1 atau 2 kilo.

Terkadang penyakit-penyakit ringan, tetapi tetap mengganggu juga mulai menyerang. Seperti flu terutama untukmu yang bekerja di luar dan sering kehujanan. Kamu butuh ekstra istirahat supaya puasa lancar hingga Lebaran nanti.

Kalau dirimu malah buka di luar terus sama teman-teman bisa-bisa keesokannya ngedrop. Berjam-jam buka puasa, asupan air putihmu kurang. Sampai rumah dirimu langsung tidur. Saat kamu bangun sahur, tahu-tahu tenggorokan sudah sakit dan badan terasa lemah. Dua minggu terakhir di bulan Ramadan adalah perjuangan untuk menuntaskan ibadah puasamu.

6. Sekalian bahas persiapan Lebaran dan mudik

ilustrasi buka puasa (pexels.com/Meruyert Gonullu)

Ada banyak hal terkait persiapan Lebaran yang kudu dibicarakan bersama. Baik kamu dan keluarga akan mudik atau tidak. Jika kalian pulang kampung, tiket saja tak cukup. Kalian mesti memikirkan mau bawa apa saja.

Kemudian persiapan rumah sebelum ditinggal pergi lama. Kalau rumah dititipkan ke satpam kompleks, sebaiknya kuncinya dikasih sekalian biar lampu bisa dinyalakan dan dimatikan tiap hari atau gak. Lalu satpam mau diberi uang atau bingkisan Lebaran plus oleh-oleh.

Andai pun kalian tidak mudik, nanti di rumah mau ngapain saja. Apa yang mesti disiapkan buat menyambut tamu? Hal-hal di atas perlu dibicarakan bersama keluarga secara langsung. Bukan cuma lewat WA apalagi diserahkan seluruhnya ke satu orang. Nanti ada hal-hal yang kamu kurang cocok malah dia disalahkan.

Kalau sejak awal Ramadan dirimu sudah gas pol bukber di luar, waktunya berbuka di rumah saja. Bareng keluarga yang ketika kamu buka di luar pun tetap menyisakan jatah makanan dan minuman untukmu. Itu bentuk rasa sayang yang sangat besar. Jangan malah mereka dicueki.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Topics

Editorial Team