Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Tanpa Disadari, Sikap Orangtua Ini Bisa Membuat Anak Rentan Campak
ilustrasi ibu, bayi serta anak balita bermain (pexels.com/rdne)
  • Kasus campak meningkat di berbagai negara dan terutama menyerang anak-anak, dengan risiko komplikasi serius seperti pneumonia dan peradangan otak.
  • Kebiasaan orangtua seperti menunda vaksin, mengabaikan gejala awal, serta percaya mitos kesehatan dapat membuat anak lebih rentan tertular campak.
  • Edukasi kesehatan yang baik membantu orangtua memahami pentingnya vaksinasi, mengenali tanda awal penyakit, dan menjaga kebersihan untuk mencegah penularan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Dalam beberapa waktu terakhir, kasus campak kembali meningkat di berbagai negara. Penyakit yang sangat menular ini terutama menyerang anak-anak dan dapat memicu komplikasi serius, seperti infeksi telinga, pneumonia, hingga peradangan otak. Karena itu, perlindungan sejak dini menjadi hal yang sangat penting untuk mencegah dampak yang lebih berat.

Sayangnya, ada beberapa kebiasaan orangtua yang tanpa disadari justru bisa membuat anak lebih rentan terhadap campak. Mulai dari menunda vaksin hingga kurang memahami gejala awal penyakit, hal-hal kecil ini bisa berpengaruh besar pada risiko penularan. Berikut beberapa sikap orangtua yang tanpa disadari dapat meningkatkan risiko campak pada anak.

1. Menunda vaksin

ilustrasi orangtua dan bayi (pexels.com/nappy)

Sebagian orangtua mungkin menunda vaksinasi karena berbagai alasan, misalnya jadwal yang padat atau anggapan bahwa anak masih terlalu kecil. Padahal, vaksin campak dirancang untuk diberikan pada waktu tertentu agar sistem imun anak bisa membentuk perlindungan optimal terhadap virus.

Tanpa vaksinasi yang lengkap, anak akan lebih mudah tertular jika terpapar virus campak di lingkungan sekitar. Dikutip dari BBC, Julie E. Mangino, pakar penyakit menular dari The Ohio State University Wexner Medical Center, menjelaskan bahwa kasus campak sering muncul pada kelompok masyarakat yang tidak divaksinasi.

“Kemunculan campak biasanya terjadi pada kelompok orang yang belum mendapatkan vaksin,” jelas Julie E. Mangino.

2. Kurang perhatian pada gejala awal

ilustrasi seorang anak menangis (pexels.com/jepgambardella)

Gejala awal campak sering kali terlihat seperti penyakit ringan, misalnya demam, batuk, hidung meler, atau mata merah dan berair. Karena tampak mirip dengan flu biasa, sebagian orangtua mungkin tidak langsung menyadari bahwa anak sedang mengalami infeksi campak.

Padahal, beberapa hari setelah gejala awal tersebut muncul, biasanya akan diikuti ruam merah yang menyebar dari wajah ke seluruh tubuh. Jika tanda-tanda awal ini terlewatkan, anak yang sudah terinfeksi bisa tetap beraktivitas dan tanpa sadar menularkan virus kepada orang lain.

Frank Esper, spesialis penyakit menular anak dari Cleveland Clinic Children's, dikutip dari BBC, menjelaskan bahwa campak memang lebih sering menyerang anak-anak dan bisa menyebabkan infeksi yang lebih berat. Ia mengatakan bila campak merupakan virus yang terutama menyerang anak-anak dan pada kelompok usia ini infeksinya sering terlihat lebih parah.

3. Terlalu percaya mitos kesehatan

ilustrasi anak balita perhatian dengan adik bayi (pexels.com/kampus)

Di era media sosial, informasi kesehatan bisa tersebar dengan sangat cepat. Namun sayangnya, tidak semua informasi tersebut didukung oleh bukti ilmiah. Beberapa orangtua mungkin percaya bahwa pola makan sehat atau suplemen tertentu sudah cukup untuk melindungi anak dari penyakit menular.

Padahal, para ahli menegaskan bahwa nutrisi yang baik tidak dapat menggantikan perlindungan dari vaksinasi. Dikutip Science News, Scott Weaver, seorang virolog dan direktur Institute for Human Infections and Immunity di University of Texas Medical Branch, menegaskan bahwa nutrisi tidak dapat menggantikan vaksin dalam mencegah campak.

4. Mengabaikan kebersihan

ilustrasi anak kecil berkumur (pexels.com/mikhailnilov)

Campak juga termasuk salah satu penyakit yang sangat mudah menular melalui udara. Virus dapat menyebar ketika seseorang yang terinfeksi batuk atau bersin, lalu partikel virus tersebut terhirup oleh orang lain di sekitarnya.

Selain itu, virus campak juga bisa bertahan di udara dalam ruangan selama beberapa waktu setelah penderita meninggalkan tempat tersebut. Jika orangtua kurang memperhatikan kebersihan lingkungan atau membiarkan anak berada di tempat yang berisiko tinggi penularan, kemungkinan anak terpapar virus bisa meningkat.

“Kamu bisa tertular campak hanya dengan memasuki ruangan yang sebelumnya ditempati penderita. Bahkan, virusnya masih bisa bertahan di udara hingga satu sampai dua jam setelah orang yang terinfeksi meninggalkan ruangan tersebut. Jika seseorang belum memiliki kekebalan terhadap campak, risiko tertular pun tetap tinggi,” ujar Larry Kociolek, dokter spesialis penyakit menular anak, dikutip dari Science News.

5. Kurangnya edukasi tentang kesehatan anak

ilustrasi ibu duduk bersama dua anak (pexels.com/ellyfairytale)

Kurangnya pemahaman mengenai penyakit menular juga dapat membuat orangtua tidak menyadari risiko yang dihadapi anak. Misalnya, tidak mengetahui pentingnya vaksinasi, tidak mengenali gejala campak, atau tidak memahami bagaimana virus tersebut menyebar.

Padahal, pengetahuan yang cukup dapat membantu orangtua mengambil langkah pencegahan yang tepat. Dengan memahami informasi kesehatan yang akurat, orangtua dapat memastikan anak mendapatkan vaksin lengkap, mengenali gejala sejak dini, serta segera mencari pertolongan medis jika diperlukan.

Pada akhirnya, perlindungan terhadap anak dari penyakit menular seperti campak sangat bergantung pada kesadaran orangtua. Langkah sederhana seperti mengikuti jadwal vaksin, memahami gejala awal, dan mencari informasi kesehatan dari sumber tepercaya bisa memberikan perlindungan besar bagi kesehatan anak.

 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team