Pernah gak sih kamu mendengar kalimat seperti 'jangan sedih, harus tetap positif' atau 'gak boleh nangis, harus kuat'? Sekilas terdengar seperti bentuk dukungan, tetapi dalam beberapa kondisi justru bisa membuat anak merasa gak dipahami. Anak yang sedang belajar mengenali emosinya butuh ruang untuk merasakan berbagai perasaan, bukan hanya yang terlihat 'baik'. Jika semua emosi negatif ditekan, ada dampak yang mungkin muncul dalam jangka panjang. Di sinilah pentingnya memahami konsep toxic positivity.
Toxic positivity adalah kondisi di mana seseorang dipaksa untuk selalu berpikir positif tanpa memberi ruang pada emosi lain. Dalam konteks anak, hal ini bisa terjadi tanpa disadari oleh orang dewasa di sekitarnya. Niatnya mungkin ingin menghibur atau melindungi, tetapi cara penyampaiannya kurang tepat. Anak justru bisa merasa bingung atau bahkan bersalah atas perasaannya sendiri. Nah, untuk memahami lebih dalam, yuk lihat beberapa alasan kenapa toxic positivity bisa berdampak pada kesehatan mental anak.
