Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
4 Tips agar Terhindar dari Overcaring Sampai Membebani Diri Sendiri
ilustrasi wanita (pexels.com/Anna Alexas)
  • Artikel menyoroti bahaya overcaring yang membuat seseorang kelelahan emosional karena terlalu memikul tanggung jawab dan masalah orang lain.

  • Ditekankan pentingnya mendengarkan tubuh, memberi dukungan tanpa harus menyelesaikan masalah orang lain, serta meluangkan waktu untuk recharge diri sendiri.

  • Pembaca diajak mendefinisikan ulang peran dalam relasi agar tetap empati namun memiliki batas sehat demi menjaga keseimbangan mental dan emosional.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Punya empati dan peduli dengan orang sekitar adalah sikap yang baik. Tetapi, kalau perasaanmu tumpah-ruah sampai kamu sulit mengendalikan diri sendiri, hal itu justru bisa jadi batu sandungan. Kepedulian yang berlebihan membuatmu terus membawa beban emosional yang gak perlu.

Kamu merasa perlu untuk selalu menyelesaikan masalah yang sebenarnya bukan tanggung jawabmu. Walau kelihatan “baik”, sikap seperti itu pada dasarnya gak bijak. Kamu jadi gampang capek, kepikiran, dan overthinking sendiri.

Perlu ada batas yang sehat, agar kamu gak lagi dihantu beban emosional berlebih. Ini empat tips yang bisa diterapkan untuk mengontrol perasaanmu.

1. Dengarkan apa yang tubuhmu katakan

ilustrasi wanita stres (pexels.com/Darina Belonogova)

Kepedulian pada orang lain hanya jadi sebuah kebohongan ketika kamu gak peduli pada diri sendiri. Seringkali, kita mencurahkan seluruh waktu, energi, dan perhatian pada orang lain sampai lupa tentang dirimu. Kamu terus menolog orang, tapi tidak tahu apa yang dirimu benar-benar butuhkan.

Tubuhmu pun perlu didengar. Beranilah mengatakan “tidak” ketika tubuhmu memang menolak. Misal, saat dadamu terasa berat atau tubuhmu terasa lelah. Ini tanda dari tubuhmu bahwa kamu butuh istirahat.

Jangan sepelekan apa yang tubuhmu coba untuk sampaikan. Bisa jadi, ini pertanda untukmu lebih memperhatikan diri sendiri.

2. Alih-alih fokus menyelesaikan, fokuslah memberi dukungan

ilustrasi percakapan (pexels.com/RDNE Stock project)

Kebanyakan dari kita berpikir bahwa menolong berarti menyelesaikan masalah orang. Padahal, kita pun manusia dengan keterbatasan masing-masing. Akhirnya, kita jadi merasa stres sendiri, overthinking dan merasa bersalah karena tidak bisa membantu teman kita.

Ini bisa jadi batu sandungan yang serius. Ketika kamu memikul tanggung jawab yang seharusnya berada di luar kendalimu, kamu malah akan jadi kepikiran dan tertekan.

Padahal, gak selalu orang datang ke kita meminta solusi. Terkadang, hal sederhana seperti kehadiran, dukungan, dan telinga yang mau mendengar sudah lebih dari cukup.

3. Luangkan waktu untuk recharge diri sendiri

ilustrasi wanita merenung (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)

Jadi pribadi yang empati gak sama dengan jadi orang yang selalu ada sampai mengabaikan diri sendiri. Sadari bahwa dirimu berharga, termasuk kesehatan fisik dan mentalmu. Sadari bahwa kamu pun manusia terbatas, dan kamu gak bisa menyelesaikan masalah semua orang.

Meluangkan waktu untuk diri sendiri bisa jadi investasi terbaik, karena kamu akan belajar untuk membangun batasan yang sehat. Kamu juga jadi lebih kenal diri sendiri, dan lebih percaya diri dalam mengambil keputusan ke depannya.

4. Definisikan ulang peranmu dalam relasi

ilustrasi wanita mengobrol (pexels.com/Edmond Dantès)

Berempati pada masalah teman gak berarti kamu harus menyerap seluruh kesedihan mereka. Ingin membantu dan memberi dukungan pada sahabat gak berarti kamu harus menyelesaikan masalahnya saat itu juga. Terkadang, pemahaman yang salah seperti ini yang mudah membuat kita terjerumus dalam perasaan yang salah.

Coba deh, ambil waktu lima menit untuk refleksi peranmu. Kehadiranmu sebagai teman, sahabat, pasangan adalah untuk memberi dukungan, bukan malah melangkahi orang itu untuk menyelesaikan masalahnya.

Overcaring mungkin terlihat baik, padahal ini bisa jadi awal burn out ke diri sendiri. Inilah mengapa, kamu butuh batasan yang sehat dan jelas dalam membangun hubungan dengan orang. Agar kamu bisa memisahkan masalah orang dan masalahmu sendiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team