Dari kecil, bahkan sedari bayi, kita sudah terlatih memandang hidup layaknya sebuah pertandingan. Sebagai contoh, saat bertemu dengan orangtua anak tetangga, kita dibanding-bandingkan. ‘Oh anak saya sudah bisa merangkak, kalau anak ibu sudah bisa belum?’.
Belum lagi waktu di sekolah. Kalau tidak mendapat peringkat satu, rasa-rasanya kita jadi anak paling gagal di dunia. Inilah yang kemudian memengaruhi bagaimana kita melihat hidup saat dewasa. Semua dilihat dari kacamata menang atau kalah.
Padahal, kebahagiaan hakiki bukan terletak dari berapa banyak piala berjejer di rumah. Tapi lebih pada pemaknaan bahwa hidup ini sebenarnya sudah indah adanya. Jadi harusnya dinikmati saja. Seperti alasan yang akan dikemukakan di bawah ini, sudah saatnya kita menyadari bahwa hidup itu bukanlah untuk dipertandingkan!
