ilustrasi rekan kerja ngobrol (pexels.com/Christina Morillo)
Jika orang yang terasa menjauh adalah seseorang yang penting, seperti keluarga atau sahabat dekat, maka membicarakannya bisa menjadi langkah terbaik. Daripada terus menebak-nebak, lebih baik membuka ruang percakapan dengan tenang. Cara ini membantu hubungan tetap sehat dan jelas.
Priscilla Shin menyarankan pendekatan yang lembut, misalnya dengan menanyakan apakah ada sesuatu yang membuat hubungan terasa tegang. Kalimat sederhana seperti itu bisa membuka kesempatan untuk klarifikasi. Kamu juga gak perlu langsung menyalahkan diri sendiri atau orang lain.
Dalam dunia kerja, situasi seperti ini juga sering muncul saat harus memberi feedback atau menghadapi percakapan sulit. Chee Sze Yen, executive director di Career Agility International, menjelaskan bahwa feedback perlu disampaikan secara konstruktif dan tetap tulus. Tujuannya adalah memperbaiki keadaan, bukan menjatuhkan orang lain.
Memberi pemberitahuan sebelum percakapan penting juga bisa membantu lawan bicara lebih siap secara mental. Setelah itu, tindak lanjut tetap penting agar hubungan profesional tetap terjaga. Komunikasi yang sehat membuat masalah gak terus menumpuk diam-diam.
Takut tidak disukai orang lain adalah hal yang wajar karena manusia memang ingin diterima. Namun jika rasa takut itu terlalu besar, kamu bisa kehilangan keberanian untuk mengambil keputusan penting dan menyuarakan apa yang benar. Hidup akhirnya hanya dipenuhi usaha untuk menyenangkan semua orang.
Gak semua orang akan menyukaimu, dan itu bukanlah kegagalan. Kadang justru dari situ kamu belajar tentang batasan, nilai hidup, dan keberanian untuk tetap menjadi diri sendiri. Selama kamu bertindak dengan niat baik, kamu gak perlu terus mengejar persetujuan semua orang.
Bersikap legawa bukan berarti cuek atau gak peduli, lho. Legawa berarti menerima bahwa hidup memang gak selalu penuh persetujuan. Saat kamu bisa berdamai dengan hal itu, hidup terasa jauh lebih ringan.