Macet di Jakarta sering terasa seperti ujian kesabaran yang datang tanpa aba-aba. Niat berangkat dengan kepala dingin bisa runtuh hanya karena lampu merah terasa terlalu lama. Klakson bersahutan, motor menyelip seenaknya, dan notifikasi kantor terus masuk. Di titik ini, emosi biasanya ikut terjebak bersama kendaraan.
Padahal, tidak semua hal dalam kemacetan perlu kamu lawan dengan amarah. Filosofi stoikisme mengajarkan satu hal penting, yaitu membedakan apa yang bisa dan tidak bisa dikendalikan. Macetnya jalan bukan kuasamu, tapi reaksimu sepenuhnya milikmu. Yuk, simak lima cara sederhana mempraktikkan stoicism agar mental tetap kuat saat menghadapi macet Jakarta.
