Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Cara Negosiasi Workload ke Atasan di Bulan Puasa, Tetap Profesional!
ilustrasi berbicara dengan atasan (pexels.com/Sora Shimazaki)

Bulan puasa sering bikin ritme kerja terasa berubah total. Pagi masih fokus, siang mulai melambat, sore tinggal sisa tenaga. Sementara itu, notifikasi email dan chat kantor tetap berdatangan tanpa kompromi. Di titik ini, kamu mungkin mulai bertanya, apa workload bulan puasa memang harus sama seperti biasa?

Sebagian orang memilih bertahan dan pura-pura kuat. Ada juga yang diam-diam kewalahan tapi gak tahu harus mulai bicara dari mana. Padahal, komunikasi asertif ke atasan bukan hal tabu selama disampaikan dengan tepat. Supaya tetap profesional tanpa harus memaksakan diri, yuk, simak lima cara berikut.

1. Datang dengan data, bukan keluhan

ilustrasi berdiskusi dengan atasan (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Negosiasi bukan berarti kamu datang sambil mengeluh soal lapar dan lemas. Atasan lebih mudah menerima argumen yang konkret daripada curhatan emosional. Coba petakan dulu daftar tugas, deadline, dan estimasi waktu pengerjaan. Dengan begitu, kamu terlihat siap dan serius, bukan sekadar mencari keringanan.

Saat bertemu atasan, jelaskan bahwa kamu ingin menjaga produktivitas karyawan tetap stabil. Tunjukkan bagian mana yang realistis disesuaikan selama workload bulan puasa. Bahasa yang kamu pakai harus lugas dan fokus pada solusi. Sikap seperti ini mencerminkan komunikasi asertif ke atasan yang dewasa.

2. Pilih waktu ngobrol yang tepat

ilustrasi berbicara dengan atasan (freepik.com/pressfoto)

Waktu menentukan suasana pembicaraan. Hindari membahas beban kerja saat atasan sedang sibuk atau emosinya kurang stabil. Cari momen ketika situasi lebih tenang agar diskusi berjalan dua arah. Negosiasi yang baik butuh ruang untuk saling mendengar.

Kamu bisa mulai dengan kalimat sederhana seperti, “Aku ingin diskusi soal pembagian tugas selama Ramadan.” Nada yang tenang membuat pesan lebih mudah diterima. Jangan menunggu sampai kamu benar-benar kelelahan baru bicara. Lebih cepat dibahas, lebih cepat juga ditemukan titik tengahnya.

3. Tawarkan alternatif, bukan sekadar pengurangan

ilustrasi berbicara dengan atasan (pexels.com/Khwanchai Phanthong)

Cara negosiasi kerjaan yang efektif bukan hanya meminta pengurangan tugas. Kamu bisa mengusulkan pengaturan ulang prioritas atau shifting jam kerja. Misalnya, tugas yang butuh konsentrasi tinggi dikerjakan pagi hari saat energi masih penuh. Sementara pekerjaan administratif bisa dilakukan menjelang sore.

Dengan menawarkan solusi, kamu menunjukkan tanggung jawab. Atasan pun melihat bahwa kamu tetap berkomitmen pada hasil kerja. Ini bukan soal menghindari tanggung jawab, tapi menyesuaikan ritme kerja saat puasa. Profesionalisme tetap terjaga tanpa harus memaksakan diri.

4. Gunakan bahasa yang tegas dan sopan

ilustrasi orang berbicara (freepik.com/pressfoto)

Komunikasi asertif ke atasan berarti jujur tanpa menyudutkan. Hindari kalimat yang menyalahkan seperti, “Tugasnya terlalu banyak.” Ganti dengan, “Aku merasa perlu menyesuaikan ritme kerja agar hasilnya tetap maksimal.” Perbedaan kecil ini berdampak besar pada respons lawan bicara.

Bahasa yang tegas dan sopan menunjukkan kamu bertanggung jawab atas perasaan dan performamu. Kamu tidak menyerang, tapi juga tidak merendahkan diri. Ini penting agar diskusi tetap profesional dan tidak melebar. Intinya, tegas tapi tetap hormat.

5. Jaga performa setelah negosiasi disepakati

ilustrasi laki-laki bekerja (pexels.com/Yan Krukau)

Setelah atasan memberi penyesuaian, tugas berikutnya adalah membuktikan komitmenmu. Jangan sampai kelonggaran yang diberikan justru membuat performa menurun. Tetap disiplin dengan jadwal yang sudah disepakati. Ini soal menjaga kepercayaan.

Kerja saat puasa memang menantang, tapi bukan alasan untuk asal-asalan. Justru di momen ini integritas kamu terlihat. Ketika hasil tetap baik, atasan akan lebih terbuka di kesempatan berikutnya. Negosiasi jadi pengalaman profesional, bukan drama musiman.

Menyesuaikan workload bulan puasa bukan tanda kamu lemah. Itu bentuk kesadaran diri agar produktivitas tetap terjaga tanpa mengorbankan kesehatan. Cara negosiasi kerjaan yang tepat membantu kamu tetap profesional sekaligus realistis. Yuk, berani mulai komunikasi yang jujur dan asertif demi ritme kerja yang lebih sehat selama Ramadan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team