Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
bekerja
ilustrasi bekerja (freepik.com/pressfoto)

Ada fase di mana kerjaan gak cuma banyak, tapi juga terasa ngebut. Satu tugas belum selesai, notifikasi lain sudah masuk. Pikiran loncat ke mana-mana, badan tetap duduk, tapi rasanya kayak lagi dikejar sesuatu yang gak kelihatan.

Di kondisi seperti ini, sering kali kamu malah maksa diri buat terus jalan. Padahal, ngebut terus tanpa jeda bikin fokus bocor dan badan cepat capek. Bukan berarti kamu malas, tapi memang sudah waktunya pelan-pelan ngerem.

Ngerem di sini bukan soal berhenti kerja, tapi menurunkan kecepatan biar kamu tetap pegang kendali. Beberapa cara sederhana ini bisa bantu kamu kembali ke ritme yang lebih masuk akal.

1. Sadari dulu kalau ritme kamu lagi kepanjangan

ilustrasi rileks (freepik.com/freepik)

Langkah pertama ngerem adalah sadar kalau kamu lagi ngebut. Biasanya ditandai dengan napas yang makin pendek, rahang tanpa sadar mengeras, atau kebiasaan buka banyak tab sekaligus. Tubuh sering ngasih sinyal sebelum pikiran sempat menyadarinya.

Daripada langsung lanjut kerja, berhenti sebentar buat mengenali tanda-tanda itu. Gak perlu lama, cukup satu-dua menit buat jujur ke diri sendiri kalau ritme hari ini lagi kebut. Kesadaran kecil ini penting karena bikin kamu gak jalan otomatis. Dari sini, kamu punya pilihan buat pelan-pelan nurunin tempo.

2. Kerjakan satu hal kecil sampai selesai

ilustrasi fokus pada proses (freepik.com/pch.vector)

Saat kerja terasa ngebut, godaan terbesar adalah mengerjakan semuanya sekaligus. Padahal, itu justru bikin kepala makin penuh. Coba pilih satu tugas paling kecil dan fokus menyelesaikannya dulu.

Gak harus yang paling penting atau besar. Yang penting bisa kamu tutup dengan jelas. Rasa selesai, sekecil apa pun, bisa jadi rem alami buat pikiran yang terlalu lompat.

Dengan satu hal yang selesai, otak kamu dapat sinyal kalau kamu masih pegang kendali. Dari situ, ritme kerja jadi lebih stabil.

3. Pelanin gerakan fisik tanpa mengubah kerjaan

ilustrasi bekerja (freepik.com/benzoix)

Kamu gak harus berhenti kerja buat ngerem. Cukup pelanin gerakan fisik, seperti cara kamu mengetik, menggerakkan mouse, atau berdiri dari kursi. Perubahan kecil ini ngaruh ke cara tubuh memproses stres.

Saat gerakan lebih pelan, napas biasanya ikut melambat. Pikiran pun gak segesit sebelumnya. Kerjaan tetap jalan, tapi sensasinya gak sekejar-kejaran. Cara ini cocok dipakai diam-diam, terutama di tengah jam kerja yang padat. Efeknya halus, tapi terasa.

4. Tarik napas di sela transisi tugas

ilustrasi rileks (freepik.com/freepik)

Transisi antar tugas sering dilewatin begitu saja. Padahal, ini momen alami buat ngerem. Sebelum pindah dari satu kerjaan ke kerjaan lain, tarik napas pelan dan buang perlahan.

Gak perlu teknik khusus atau hitungan ribet. Cukup hadir di napas selama beberapa detik. Rasakan badan kamu masih di tempat yang aman.

Kebiasaan ini bikin pikiran gak kebawa ngebut dari satu tugas ke tugas berikutnya. Kamu tetap bergerak, tapi dengan jeda yang lebih manusiawi.

5. Akhiri satu sesi dengan penutup sederhana

ilustrasi disiplin dalam bekerja (freepik.com/jcomp)

Kerja sering terasa ngebut karena gak ada penutup yang jelas. Semua terasa sambung-menyambung tanpa batas. Coba biasakan ngasih penutup kecil di akhir sesi kerja.

Bisa dengan merapikan meja, menutup laptop sebentar, atau nulis satu kalimat tentang apa yang sudah kamu kerjain. Tindakan kecil ini kasih sinyal ke otak kalau satu putaran sudah selesai. Dengan penutup yang jelas, kamu gak terus kebawa arus. Ritme kerja jadi lebih pelan, tapi tetap jalan.

Kerja yang ngebut terus-menerus jarang bikin hasil lebih baik. Justru, dengan ngerem pelan-pelan, kamu bisa tetap fokus tanpa kehabisan tenaga di tengah jalan. Kadang, yang kamu butuhin bukan tambahan kecepatan, tapi ruang buat bernapas dan kembali ke ritme sendiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team