Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi perempuan bahagia
ilustrasi perempuan bahagia (freepik.com/freepik)

Intinya sih...

  • Ikigai dari Jepang: menemukan alasan untuk bangun setiap pagi.

  • Lagom dari Swedia: hidup secukupnya itu cukup.

  • Stoikisme dari Yunani: tenang pada hal yang bisa dikendalikan.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Di tengah hidup yang serba cepat, banyak orang merasa lelah bukan karena fisik, tapi karena batin yang tak pernah benar-benar istirahat. Kita terbiasa mengejar target, membandingkan diri, dan takut tertinggal, sampai lupa rasanya hidup dengan tenang. Padahal, ketenangan batin bukan sesuatu yang mewah, melainkan kebutuhan dasar agar hidup terasa seimbang. Menariknya, berbagai negara punya filosofi hidup sederhana yang justru membantu warganya menemukan kedamaian.

Filosofi-filosofi ini lahir dari pengalaman panjang menghadapi hidup, kegagalan, dan keterbatasan. Bukan soal menjadi selalu bahagia, tapi tentang berdamai dengan keadaan dan diri sendiri. Konsep kebahagiaan yang mereka tawarkan terasa relevan dengan kehidupan modern yang penuh tekanan. Yuk, simak lima filosofi hidup dari berbagai negara yang bisa membantu kamu menjalani cara hidup damai.

1. Ikigai dari Jepang: menemukan alasan untuk bangun setiap pagi

ilustrasi perempuan bangun tidur (freepik.com/lifeforstock)

Ikigai adalah filosofi hidup Jepang tentang menemukan makna dalam keseharian. Konsep ini mengajak kita memahami titik temu antara hal yang kita cintai, kuasai, dibutuhkan dunia, dan memberi penghidupan. Dengan ikigai, hidup terasa lebih terarah dan tidak kosong. Batin pun lebih tenang karena setiap hari punya tujuan.

Ikigai tidak selalu tentang pekerjaan besar atau prestasi luar biasa. Hal sederhana seperti merawat tanaman, membantu orang lain, atau menekuni hobi bisa menjadi sumber makna. Saat kamu tahu alasan bangun setiap pagi, tekanan hidup terasa lebih ringan. Inilah inti dari filosofi hidup tenang ala Jepang.

2. Lagom dari Swedia: hidup secukupnya itu cukup

ilustrasi perempuan bekerja (freepik.com/rawpixel.com)

Lagom berarti tidak berlebihan dan tidak kekurangan, melainkan pas. Filosofi ini menekankan keseimbangan dalam bekerja, beristirahat, dan menikmati hidup. Orang Swedia percaya bahwa kebahagiaan muncul saat kita tidak memaksakan diri. Dengan hidup secukupnya, batin jadi lebih stabil.

Lagom mengajarkan kita untuk berhenti mengejar standar yang tidak perlu. Kamu tak harus selalu paling produktif atau paling sukses untuk merasa bernilai. Dengan menerapkan lagom, konsep kebahagiaan menjadi lebih realistis dan menenangkan. Hidup pun terasa lebih ringan tanpa tekanan berlebih.

3. Hygge dari Denmark: menikmati kehangatan dalam kesederhanaan

ilustrasi perempuan menikmati teh saat hujan (freepik.com/benzoix)

Hygge adalah seni menciptakan rasa nyaman dan aman dalam momen kecil. Filosofi ini terlihat dari kebiasaan menikmati teh hangat, cahaya lilin, atau obrolan santai bersama orang terdekat. Fokusnya bukan pada kemewahan, tapi pada rasa hadir dan syukur. Dari sinilah ketenangan batin tumbuh.

Dalam hygge, kebahagiaan tidak harus direncanakan besar-besaran. Justru momen sederhana yang dilakukan dengan penuh kesadaran memberi dampak emosional yang kuat. Konsep ini relevan untuk kamu yang sering merasa lelah secara mental. Hygge mengingatkan bahwa rumah dan kehangatan bisa jadi sumber cara hidup damai.

4. Ubuntu dari Afrika Selatan: aku ada karena kita ada

ilustrasi berkumpul dengan teman (freepik.com/freepik)

Ubuntu adalah filosofi hidup yang menekankan keterhubungan antar manusia. Maknanya sederhana, identitas diri terbentuk dari hubungan dengan orang lain. Kebahagiaan bukan hanya soal diri sendiri, tapi juga tentang memberi dan menerima dalam komunitas. Dengan rasa kebersamaan, batin terasa lebih utuh.

Filosofi ini mengajarkan empati dan kepedulian sebagai sumber ketenangan. Saat kita merasa terhubung, rasa sepi dan terasing berkurang. Ubuntu membantu melihat hidup dengan perspektif kolektif, bukan kompetisi semata. Dari sini, konsep kebahagiaan terasa lebih hangat dan membumi.

5. Stoikisme dari Yunani: tenang pada hal yang bisa dikendalikan

ilustrasi perempuan rileks (freepik.com/lifeforstock)

Stoikisme mengajarkan kita untuk fokus pada hal yang berada dalam kendali. Pikiran, sikap, dan respons adalah wilayah kita, sementara hasil sering kali di luar kuasa. Dengan memahami batas ini, stres dan kecemasan bisa berkurang. Batin pun lebih stabil menghadapi ketidakpastian.

Filosofi ini bukan tentang menekan emosi, tapi mengelolanya dengan bijak. Saat kamu berhenti melawan hal yang tak bisa diubah, energi mental jadi lebih terjaga. Stoikisme relevan sebagai filosofi hidup tenang di era penuh distraksi. Hidup damai dimulai dari pikiran yang terlatih menerima.

Pada akhirnya, setiap filosofi menawarkan sudut pandang berbeda tentang cara hidup damai. Kamu tidak perlu menerapkan semuanya sekaligus, cukup pilih yang paling sesuai dengan kebutuhan batinmu. Ketenangan lahir dari kesadaran, bukan dari hidup yang sempurna. Yuk, ambil satu filosofi hari ini dan jadikan hidup terasa lebih tenang dari dalam.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team