Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi wanita
ilustrasi wanita (pexels.com/Karolina Grabowska www.kaboompics.com)

Intinya sih...

  • Mengritik diri sendiri berlebihan sebagai tanda evaluasi.

  • Overwork diri dengan dalih kerja keras.

  • Terlalu pelit sebagai wujud berhemat.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Banyak orang salah tangkap mengenai makna tanggung jawab dalam hidup. Kamu mengira, mengemban tugas berat, penat, dan tidak mengenakkan adalah salah satu bentuk kedewasaan, padahal tidak semua bisa dipukul rata demikian. Bila tidak bijak dan berhati-hati, mengambil keputusan salah bisa berdampak pada bagaimana diri sendiri mengambil keputusan di masa mendatang.

Bukan hanya lelah fisik dan mental yang dirasa, kamu pun sudah kehilangan rasa percaya dengan diri sendiri. Orang yang seharusnya memberi dukungan, malah jadi pribadi pertama yang menusukmu.

Berikut lima hal toksik yang perlu diwaspadai. Berhenti lakukan ke diri sendiri, ya.

1. Mengritik diri sendiri berlebihan sebagai tanda evaluasi

ilustrasi wanita sedih (pexels.com/Antoni Shkraba Studio)

Seringkali, orang menyalahartikan evaluasi diri sebagai wadah untuk mengritik, menghina, bahkan menjatuhkan diri sendiri secara berlebih. Tiap melakukan kesalahan, kamu langsung gencar menekan diri dengan berbagai monolog internal yang menjatuhkan. Lambat laun, kamu merasa capek mental.

Coba keadaannya diubah: bayangkan bila orang lain melakukan kesalahan serupa. Apakah kamu masih akan mencerca dia berlebihan? Kalau jawabannya adalah tidak, mengapa kamu lakukan itu pada dirimu? Kritik berlebihan tidak akan membuatmu maju, justru jadi bumerang yang bersifat destruktif ke diri sendiri.

2. Overwork diri dengan dalih kerja keras

ilustrasi wanita berhadapan dengan laptop (pexels.com/Karolina Grabowska www.kaboompics.com)

Salah satu wujud dari tanggung jawab ialah mengerjakan tugas dan kewajiban dengan baik. Tetapi, ini bukan berarti kamu harus overwork diri hingga mengorbankan kesehatan fisik dan mental. Justru, dengan bekerja berlebihan kamu sedang menjadi tidak bertanggung jawab terhadap kondisimu sendiri.

Kamu tetap bisa, kok, bertanggung jawab dan melakukan yang terbaik di pekerjaan sembari tetap punya batasan yang jelas antara dunia kerja dan personal. Jangan sampai demi mengejar sukses instan, kamu mengabaikan hal penting yakni kesehatanmu.

3. Terlalu pelit sebagai wujud berhemat

ilustrasi wanita menghitung uang (pexels.com/Karola G)

In this economy, siapa sih yang gak pengin hemat? Tapi ingat guys, hemat tidak sama dengan pelit, ya.

Ada tipe orang yang sangat berhemat, sampai gak mau mengeluarkan sepeser pun untuk diri sendiri maupun orang lain. Biasanya, sikap seperti ini lahir dari pola pikir bahwa kamu belum cukup layak untuk bersenang-senang. Kamu jadi lebih menahan diri dan keinginan.

Ini bisa memicu mental miskin dalam diri sendiri. Sukanya dibayarin, apa-apa sayang duit, sampai minim empati ke orang di sekeliling. Hemat pun perlu bijak, jangan sampai uang menjadi prioritas utama yang menyetir kehidupanmu.

4. Sering membandingkan diri dengan hidup orang sebagai motivasi

ilustrasi wanita bermain gawai (pexels.com/Artem Podrez)

Hayo, apa kamu termasuk salah satunya? Hobi membandingkan diri dengan orang lain dengan dalih motivasi. Kamu kira, dengan ini kamu akan semakin terpacu untuk kerja keras dan produktif.

Kenyataannya, kebiasaan membandingkan seperti ini malah memicu rasa rendah diri dan tidak puas yang konstan. Alih-alih melihat dan mensyukuri prosesmu sekarang, kamu terus-menerus tergoda untuk melirik proses orang. Pada akhirnya, kamu mudah merasa gak bahagia.

5. Menunda-nunda karena perfeksionis

ilustrasi wanita bekerja (pexels.com/cottonbro studio)

Orang perfeksionis cenderung ingin segalanya sempurna tanpa cacat cela. Biasanya, orang tipe ini sulit banget untuk mulai bekerja. Mereka selalu tunggu momen yang tepat atau perencanaan yang matang dulu baru mau melangkah.

Akhirnya, jadi terjebak dalam siklus menunda. Tahu-tahu, waktu udah lewat gitu aja. Sementara kamu masih stuck di tempat yang sama, belum mencapai apa-apa.

Kalau diselidiki lebih dalam, ternyata nggak sedikit kebiasaan toksik yang berjubahkan hal baik dan positif. Kamu perlu hati-hati, terutama dalam bersikap dan mengambil keputusan. Tanya benar-benar ke dirimu, apakah yang kamu lakukan sungguh-sungguh bermanfaat dan membangun diri, atau hanya sekadar bual-bualan yang malah menjatuhkan diri sendiri?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team