Di tengah maraknya konten rekomendasi produk di media sosial, muncul sebuah tren yang dikenal sebagai de-influencing. Berbeda dengan tren yang umumnya mendorong orang untuk membeli berbagai produk, de-influencing justru mengajak audiens untuk lebih kritis terhadap pola konsumsi dan tidak mudah terpengaruh oleh promosi yang beredar di internet.
Tren ini berkembang seiring meningkatnya kesadaran banyak orang terhadap kebiasaan belanja impulsif yang sering dipicu oleh konten viral. Tidak semua produk yang ramai dibicarakan di media sosial benar-benar dibutuhkan atau sesuai dengan kondisi setiap individu, sehingga penting untuk memiliki pertimbangan yang lebih sadar sebelum memutuskan untuk membeli.
Dengan pendekatan tersebut, de-influencing menjadi pengingat bahwa keputusan konsumsi sebaiknya tidak hanya didasarkan pada tren, tetapi juga pada kebutuhan dan prioritas pribadi. Berikut beberapa hal yang perlu dipahami tentang tren de-influencing.
