Victim mindset sering kali hadir tanpa disadari. Ia muncul dalam percakapan santai, keluhan di media sosial, bahkan dalam cara kita merespons hal-hal kecil sehari-hari. Yang menarik, banyak orang yang terjebak dalam pola pikir ini justru merasa dirinya kuat dan mandiri. Mereka tidak sadar bahwa di balik kata-kata dan tindakannya, ada narasi korban yang terus dipelihara.
Paradoksnya, di era self-improvement yang marak ini, victim mindset justru makin mudah bersembunyi di balik kedok "curhat" atau "berbagi pengalaman". Media sosial memberi ruang tak terbatas untuk mengeluh, sementara algoritma memberi validasi lewat likes dan komentar simpati. Akibatnya, pola pikir korban bukan lagi sekadar masalah personal, tapi jadi identitas yang tanpa sadar kita rawat setiap hari. Nah, berikut adalah lima kebiasaan yang tanpa sadar menunjukkan victim mindset.
