ilustrasi fokus berkarya (pexels.com/George Milton)
Setiap orang sebenarnya punya kebutuhan untuk dikenal oleh orang lain. Bukan sebatas nama, alamat, atau siapa saja keluarganya. Namun juga cara pandangnya tentang berbagai hal, kemampuan-kemampuannya, hal-hal yang disukai dan tidak disukainya, serta banyak lagi.
Bila kamu akan menjelaskan yang sebanyak itu pada orang lain, tak ada yang mau mendengarnya. Terlalu panjang dan mungkin saja kamu cuma berbual. Akan tetapi jika kamu punya banyak karya, hampir semua tentang dirimu sudah menjadi nyawa dari karya itu.
Kamu tidak perlu lagi repot-repot mendefinisikan dirimu. Orang lain pun lebih nyaman karena karyamu dapat mereka nikmati atau gunakan. Karyamu adalah penjelasan tentang siapa kamu dengan cara yang paling ringkas dan bermanfaat.
Bicara konsistensi dalam berkarya bukan artinya kamu tidak boleh merasa capek, bosan, dan mengambil jeda. Berkarya secara konsisten sesimpel kamu tetap menghasilkan karya secara berkala dan bukan berhenti total atau hanya berkarya ketika kamu ingin.
Di dalam konsistensi ada kedisiplinan dan rasa tanggung jawab atas apa pun yang dikerjakan. Jadi, menunggu mood yang sesuai untuk berkarya bukanlah cara membangun konsistensi. Tak jarang kamu benar-benar harus memaksakan diri.