Pernah gak, lagi santai tapi pikiran muter ke satu kejadian terus? Obrolan yang harusnya sudah lewat, keputusan yang sudah terjadi, atau skenario “seandainya tadi aku…” yang muncul berulang kali. Kalau iya, kamu gak sendirian.
Fenomena ini dikenal sebagai ruminasi, yaitu kebiasaan berpikir berulang tentang hal negatif tanpa benar-benar sampai ke solusi. Otak seolah terjebak dalam kebiasaan menganalisis semua situasi secara terus menerus.
Di kalangan Gen Z, ruminasi sering muncul karena tekanan akademik, sosial, karier, dan ekspektasi diri yang tinggi. Tanpa disadari, ruminasi dianggap sebagai pola pikir yang terasa “logis”, padahal justru menguras energi mental.
Ruminasi bahkan sering kali terbaca sebagai produktivitas dalam berpikir hingga tanpa sadar terus dibiarkan menjadi kebiasaan. Lalu, apa saja pola pikir yang diam-diam memicu ruminasi? Berikut beberapa di antaranya.
