Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi mencoba memprediksi sesuatu
ilustrasi mencoba memprediksi sesuatu (Pexels.com/Marcelo Chagas)

Intinya sih...

  • Mengulang-ulang kejadian yang gak sesuai harapan.

  • Memeriksa masalah berkali-kali demi merasa terkendali.

  • Mencoba memprediksi semua hal buruk agar bisa bersiap.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Pernah gak, lagi santai tapi pikiran muter ke satu kejadian terus? Obrolan yang harusnya sudah lewat, keputusan yang sudah terjadi, atau skenario “seandainya tadi aku…” yang muncul berulang kali. Kalau iya, kamu gak sendirian.

Fenomena ini dikenal sebagai ruminasi, yaitu kebiasaan berpikir berulang tentang hal negatif tanpa benar-benar sampai ke solusi. Otak seolah terjebak dalam kebiasaan menganalisis semua situasi secara terus menerus.

Di kalangan Gen Z, ruminasi sering muncul karena tekanan akademik, sosial, karier, dan ekspektasi diri yang tinggi. Tanpa disadari, ruminasi dianggap sebagai pola pikir yang terasa “logis”, padahal justru menguras energi mental.

Ruminasi bahkan sering kali terbaca sebagai produktivitas dalam berpikir hingga tanpa sadar terus dibiarkan menjadi kebiasaan. Lalu, apa saja pola pikir yang diam-diam memicu ruminasi? Berikut beberapa di antaranya.

1. Mengulang-ulang kejadian yang gak sesuai harapan

ilustrasi mengulang-ulang memikirkan kejadian yang lalu (Pexels.com/Keira Burton)

Pola pikir mengulang-ulang kejadian masa lalu yang gak sesuai harapan mungkin tanpa sadar sering kamu lakukan. Alih-alih membiarkan semua berlalu, kamu justru sibuk melakukan analisa kesalahan yang dilakukan.

Kamu mulai berasumsi kalau cara ini akan membuatmu menemukan penjelasan, padahal gak sama sekali. Proses mengulang masa lalu gak akan mengubah apa pun dan hanya memperpanjang rasa kecewa.

Bukannya belajar dari kesalahan, pikiran malah terjebak dalam versi kejadian yang gak bisa diperbaiki. Terima saja yang sudah berlalu, apa pun kesalahan itu, sebab kamu masih bisa mencobanya lain kali.

2. Memeriksa masalah berkali-kali demi merasa terkendali

ilustrasi memeriksa masalah berkali-kali (Pexels.com/Alex Green)

Banyak orang merasa tenang kalau semuanya terasa terkendali. Akibatnya, pikiran terus mengecek “Sudah aman belum?” atau “Ada yang terlewat gak, ya?” demi memastikan kondisi gak akan menjadi lebih buruk lagi.

Sekilas terlihat produktif, tapi sebenarnya ini bentuk overchecking mental. Kamu gak sedang menyelesaikan masalah, justru mencari rasa aman palsu yang gak pernah benar-benar cukup.

Sebab, semakin sering diperiksa malah semakin kuat rasa cemasnya. Akan lebih baik kalau kamu memeriksa sinyal masalah. Kalau gak ada, berarti semua baik-baik saja dan gak perlu diperiksa ulang.

3. Mencoba memprediksi semua hal buruk agar bisa bersiap

ilustrasi merenung (pexels.com/Mikhail Nilov)

Pola pikir ini sering disamakan dengan “antisipasi”. Kamu merasa harus membayangkan semua kemungkinan terburuk supaya gak kaget nantinya sebagai bentuk pertanggungjawaban untuk mengantisipasi yang bisa saja terjadi.

Padahal, memprediksi hal buruk terus-menerus justru membuat pikiran hidup di masa depan yang belum tentu nyata. Kamu jadi lelah sebelum benar-benar menghadapi apa pun.

Ada baiknya saat skenario buruk terlintas, mulailah untuk mengingatkan diri sendiri kalau kamu sudah melakukan yang terbaik yang kamu bisa. Itu sudah cukup, kok, gak perlu memprediksi hal buruk apa pun lagi.

4. Menganggap ketidakpastian sebagai masalah yang harus segera diperbaiki

ilustrasi sedang memikirkan sesuatu (Pexels.com/Juan Pablo Serrano)

Hidup di era serba cepat sering kali membuat ketidakpastian terasa gak nyaman. Pola pikir ini seolah menuntutmu merasa harus segera menemukan jawaban dan jalan keluar atas semua hal.

Akibatnya, kamu jadi sulit menikmati proses, gelisah saat belum tahu hasil, dan memaksa diri untuk “fix” sekarang juga. Padahal, gak semua hal bisa atau perlu diselesaikan hari ini.

Ketidakpastian adalah bagian normal dari hidup, bukan kegagalan berpikir. Alih-alih terjebak pola pikir ini, lebih baik fokus pada aktivitas lain yang akan membuatmu lebih bahagia dan menikmati hidup.

5. Menjaga pikiran tetap aktif biar gak lupa menanganinya nanti

ilustrasi sedang berpikir (Pexels.com/Andrea Piacquadio)

Ada keyakinan diam-diam yang berbunyi “Kalau aku berhenti mikir, nanti lupa”. Maka pikiran dipaksa tetap aktif, bahkan saat istirahat. Ironisnya, ruminasi bukan pengingat yang efektif.

Justru pikiran yang terlalu aktif membuatmu sulit fokus, sulit tidur, dan makin jauh dari solusi nyata. Istirahat bukan tanda menyerah, tapi bagian dari proses pemulihan mental. Gak apa-apa kalau kamu berhenti memikirkannya, kok.

Sebagai gantinya, kamu bisa menulis masalahmu dan langkah konkret yang bisa dilakukan. Setelah itu, berhenti mengingat-ingat masalahmu lagi karena kamu boleh gak memikirkannya terus-terusan.

Ruminasi bukan tanda kamu lemah atau kurang usaha. Ia sering muncul dari niat baik yang salah arah. Dengan mengenali pola pikir yang memicunya, kamu bisa mulai mengubah hubunganmu dengan pikiran sendiri.

Karena hidup itu gak harus selalu dipahami sepenuhnya agar bisa dijalani dengan tenang. Biarkan juga mentalmu terlepas dari beban yang kamu berikan sendiri dan nikmati juga hidupmu tanpa tekanan berlebih.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team