ilustrasi orang sedang berjalan (Unsplash.com/jonflobrant)
Ada yang bilang, setelah menikah, cinta tinggal tersisa satu persen saja. Sembilan puluh sembilan persen sisanya adalah kemampuan menoleransi. Tak hendak menyalahkan pandangan dari orang-orang yang mengalaminya sendiri.
Namun pertanyaannya adalah, apakah kamu akan sanggup terus menjalani hidup bersamanya dengan kondisi seperti itu? Apakah kamu bisa bahagia? Kalau tidak bahagia, itu pasti berarti menderita, kan?
Kemampuan menoleransi sisi kurang dari pasangan tentu tetap dibutuhkan. Namun jika pemujaanmu padanya gak berlebihan, persentase rasa cintamu padanya setelah menikah akan tetap tinggi. Tugasmu untuk belajar menoleransinya juga gak terlalu banyak. Kamu jadi lebih bahagia dalam menjalani hubungan itu.
Jika sikap memuja gak bisa dipisahkan dari orang yang sedang kasmaran, paling gak kamu masih bisa mengendalikannya. Tetaplah ingat bahwa semenarik atau sehebat apa pun dia di matamu, dia tetap manusia biasa.
Membuat pemujaanmu padanya lebih masuk akal justru akan membuatnya merasa lebih diterima dengan apa adanya. Ini baik untukmu, baik juga untuknya.