Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
6 Alasan Lansia Perlu Punya Kegiatan, Terpenting Tak Berlebihan
ilustrasi menulis (pexels.com/Yan Krukau)

Setelah orangtua memasuki lanjut usia (lansia), pensiun, dan anak-anak bekerja biasanya kamu serta saudara-saudara memintanya untuk di rumah saja. Mereka gak perlu melakukan apa-apa. Urusan uang dan kebutuhan sehari-hari sudah dijamin oleh anak-anak atau tercukupi dari tabungan pensiunnya.

Kalian cuma tidak ingin orangtua kelelahan kemudian jatuh sakit. Bagaimanapun juga, kondisi fisiknya tentu tak sama dengan beberapa tahun yang lalu sebelum mereka memasuki usia lanjut. Namun, orangtua sendiri terkadang sukar diminta buat bersantai di rumah saja.

Ada saja yang ingin dikerjakannya bahkan mau tetap bekerja atau buka usaha kecil-kecilan seolah-olah simpanannya masih kurang. Sabar, jangan kesal dulu dengan sifat keras kepala orangtua. Beraktivitas juga ada manfaatnya untuk lansia, kok. Ikuti pembahasannya berikut ini dan bicarakan saja dengan mereka seputar batasan kegiatannya.

1. Jauhkan mereka dari kebosanan selama 24 jam di rumah saja

ilustrasi mengajari lansia (pexels.com/Kampus Production)

Mari mencoba berempati pada hari-hari orangtua setelah mereka pensiun. Ketika kamu masih sekolah atau kuliah dan libur semesternya panjang sekali, dirimu pasti juga bosan. Libur yang benar-benar dapat dinikmati cuma seminggu pertama.

Selebihnya kamu mulai bingung mau melakukan apa setelah bangun tidur sampai tidur lagi. Begitu juga ketika pekerjaanmu diubah dari WFO menjadi WFH saat pandemik COVID-19. Dirimu dan teman-teman hanya bisa menikmati bekerja dari rumah selama beberapa hari karena merasa dapat sambil beristirahat.

Setelahnya semangat bekerja mulai mengalami penurunan. Begitu pula yang dirasakan lansia usai pensiun. Enaknya cuma beberapa bulan sekalian mengistirahatkan diri setelah puluhan tahun bekerja. Tapi tanpa kegiatan sama sekali, mereka akhirnya merasa bosan terutama saat anak dan cucu pergi semua.

2. Menjaga hubungan dan memperoleh dukungan sosial

ilustrasi tiga lansia (pexels.com/Anna Shvets)

Hubungan dengan sesama dibutuhkan oleh semua orang meski tingkatannya berbeda-beda. Bahkan lansia yang introver pun butuh terhubung dengan orang lain. Khususnya kawan sebaya sehingga mereka dapat nyambung ketika mengobrol.

Mereka bisa membicarakan masalah kesehatan masing-masing selama berjam-jam. Demikian pula bertukar pengalaman kerja dahulu dan hal-hal yang bikin pesimis dalam kehidupan mereka kini. Sesama lansia akan lebih saling memahami dan mampu menghibur.

Jika mereka membicarakannya dengan orang yang lebih muda, sudut pandangnya dapat sangat berlainan. Lansia merasa kurang dipahami olehmu sekalipun kamu sudah berusaha. Lebih mudah untuk mereka menerima masukan dan motivasi dari kawan seusia.

3. Menjaga kebugaran tubuh dan ingatan

ilustrasi berolahraga (pexels.com/Barbara Olsen)

Untuk lansia, kegiatan dapat membuat mereka lebih sehat atau justru kecapekan kemudian jatuh sakit. Penentunya ialah porsi yang pas sesuai dengan keadaan setiap lansia. Jika aktivitas yang dipilih, durasi, serta frekuensinya cocok dengan kondisi masing-masing tentu bakal bermanfaat.

Misalnya, dalam kegiatan olahraga. Lansia yang keseimbangannya sudah kurang bagus atau mengalami nyeri sendi lutut tentu tidak cocok untuk berolahraga lari. Mereka dapat memilih berjalan-jalan saja dengan bantuan tongkat kalau perlu. Sementara itu, lansia yang masih sanggup berlari bisa melakukannya meski hanya jarak dekat.

Adanya kegiatan apa pun membantu lansia mempertahankan kebugarannya. Juga ingatannya karena setiap hari ada yang jadwal yang dipikirkan. Apa lagi yang perlu mereka lakukan selepas satu kegiatan selesai? Apa saja persiapan sebelum pergi ke suatu tempat? Jika lansia setiap hari hanya duduk-duduk atau berbaring tanpa melakukan apa pun, kesehatannya akan menurun dengan cepat.

4. Menumbuhkan perasaan mampu dan berguna

ilustrasi lansia bahagia (pexels.com/Mikhail Nilov)

Beberapa kemampuan lansia, terutama yang berkaitan dengan fisik memang mengalami penurunan yang cukup signifikan dibandingkan ketika usia mereka lebih muda. Namun, ini tidak berarti mereka gak bisa melakukan apa-apa lagi. Meski gerakan lebih lambat, mereka punya banyak pengetahuan.

Semua kemampuan yang masih bertahan dalam diri ini perlu disalurkan dalam kegiatan-kegiatan yang positif serta sesuai dengan kondisi lansia. Ini penting supaya mereka tidak merasa masa tua merampas kegunaan mereka di dunia ini. Mereka perlu tetap merasa bangga pada diri sendiri.

Lansia perlu yakin bahwa diri serta perannya masih dibutuhkan dalam kehidupan. Misalnya, meski mereka gak kuat lagi untuk mengikuti kerja bakti di lingkungan, mereka masih dapat mengambil peran sebagai pemberi pertimbangan mengenai kegiatan-kegiatan warga. Lansia perlu dilibatkan serta melibatkan diri dalam aktivitas agar tidak merasa tersisihkan dari generasi muda.

5. Mengurangi mudahnya mereka emosi pada anak dan cucu

ilustrasi sepasang lansia (pexels.com/RDNE Stock project)

Bahkan lansia yang dulunya bersifat sabar pun bisa berubah menjadi lebih sensitif seiring bertambahnya usia serta tidak lagi bekerja. Penyebab logisnya adalah rasa bosan tak ada aktivitas serta merasa gak berguna lagi. Bahkan ada kecemasan kalau-kalau mereka mulai dianggap sebagai beban oleh anak-anak.

Semua itu membuat emosi lansia mudah tersulut dan bikin anak cucu kena getahnya. Saat kamu masih dapat bersabar serta memahami kondisi psikis lansia, anak-anakmu barangkali langsung ketakutan dan gak mau dekat-dekat lagi dengan kakek serta neneknya. Ini bikin lansia tambah kesal sebab merasa tidak dihormati serta diinginkan di rumah.

Untuk mengurangi potensi kejadian tak menyenangkan seperti di atas, penting bagi lansia tetap memiliki kegiatannya sendiri. Jadi, bukan sekadar mengasuh cucu atau bersih-bersih rumah kecuali mereka yang menginginkannya. Aktivitas lain yang penting bagi lansia misalnya, mengikuti seminar dan senam kesehatan secara rutin serta pertemuan sesama mantan karyawan di tempatnya bekerja dulu.

6. Mempertahankan keteraturan dalam keseharian

ilustrasi menulis (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Apabila lansia gak punya kegiatan apa-apa di rumah, hari-hari mereka hanya berisi makan dan tidur. Itu pun waktunya kian berantakan. Lansia dapat tidur pada menjelang siang sampai melewatkan jam makan.

Waktu makan siang menjadi bergeser agak sore kemudian mereka tidur lagi. Maka waktu makan malam pun mundur beberapa jam karena perut masih terasa kenyang. Mereka juga kesulitan tidur malam sebab sepanjang hari sudah banyak tidur.

Pola hidup yang berantakan ini cenderung membuat lansia tidak sehat, mudah stres, serta uring-uringan. Keteraturan dalam keseharian mereka tetap penting dipertahankan, tetapi gak usah terlalu kaku. Caranya dengan memberi mereka kegiatan sehingga tak tidur sebelum waktunya.

Lansia tetap perlu diberdayakan melalui beragam aktivitas yang memungkinkan bagi mereka. Hindari selalu melarangnya melakukan apa pun sekalipun maksudmu baik. Ingatkan saja orangtua yang sudah sepuh supaya gak memforsir diri, menjaga pantangan makanan, serta minum obat dan vitamin yang diberikan dokter.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team