Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Alasan Kamu Sering Merasa Cemas setelah Resmi Resign
ilustrasi laki-laki overthinking (pexels.com/cottonbro studio)
  • Setelah resign, banyak orang merasa cemas karena kehilangan rutinitas harian dan harus beradaptasi dengan ritme hidup baru yang belum terbentuk.
  • Keraguan terhadap keputusan resign muncul karena otak lebih mudah mengingat rasa aman dari pekerjaan lama dibanding alasan untuk pergi.
  • Perubahan identitas, tekanan untuk tetap produktif, dan ketidakpastian masa depan menjadi pemicu utama kecemasan setelah meninggalkan pekerjaan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Rasa cemas setelah resign sering muncul justru ketika keputusan yang selama ini kamu tunggu akhirnya benar-benar terjadi. Hari terakhir kerja sudah lewat, laptop kantor sudah dikembalikan, tetapi kepala malah dipenuhi pertanyaan yang sebelumnya gak begitu terasa. Rasanya seperti beban lama hilang, lalu berganti beban baru yang belum punya bentuk jelas.

Perasaan setelah resign memang gak selalu langsung terasa melegakan. Ada ruang kosong yang tiba-tiba muncul karena rutinitas harian ikut berubah, sementara masa depan masih terasa samar. Berikut ini lima alasan kenapa rasa cemas itu sering datang setelah kamu resmi mengundurkan diri.

1. Rutinitas yang biasanya mengatur harimu tiba-tiba hilang

ilustrasi perempuan cemas (freepik.com/stockking)

Hari Senin yang biasanya dimulai dengan buru-buru mandi sekarang terasa begitu panjang. Kamu membuka mata lebih siang, mengecek jam, lalu baru sadar kalau gak ada rapat, pesan dari atasan, atau perjalanan menuju kantor yang harus dikejar. Anehnya, kebebasan itu malah terasa membingungkan.

Otak terbiasa mencari pola yang sama setiap hari. Saat pola itu hilang mendadak, muncul ruang kosong yang sering diterjemahkan sebagai anxiety kerja. Bukan karena kamu salah resign, tetapi karena tubuh dan pikiran masih beradaptasi dengan ritme hidup yang baru.

2. Kamu mulai mempertanyakan keputusan yang sebelumnya terasa yakin

ilustrasi laki-laki overthinking (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Beberapa hari setelah resign, kamu mungkin tanpa sadar membuka lagi lowongan pekerjaan yang dulu membuatmu ingin keluar. Lalu muncul pikiran, "Apa aku terlalu cepat mengambil keputusan?" Pertanyaan itu datang berulang, terutama saat melihat teman kantor masih menjalani rutinitas seperti biasa.

Keraguan seperti ini sangat manusiawi. Otak memang lebih mudah mengingat hal-hal yang terasa aman dibanding alasan kenapa kamu dulu memilih pergi. Itulah sebabnya cemas setelah resign sering terdengar seperti penyesalan, padahal sebenarnya itu proses mengevaluasi perubahan besar.

3. Identitasmu terasa ikut berubah bersama status pekerjaan

ilustrasi laki-laki mengobrol dengan ayah (freepik.com/freepik)

Setiap kali ada yang menanyakan pekerjaanmu sekarang, kamu spontan terdiam beberapa saat sebelum menjawab. Jawaban yang dulu otomatis keluar sekarang terasa canggung. Bahkan kamu sempat menghindari pertanyaan itu karena belum tahu harus menjelaskan apa.

Pekerjaan sering menjadi bagian dari cara kita mengenali diri sendiri. Ketika status itu berubah, muncul rasa kehilangan yang sulit dijelaskan. Hal ini berkaitan dengan kesehatan mental, karena identitas yang sedang bertransisi memang bisa memunculkan rasa tidak stabil untuk sementara waktu.

4. Kamu merasa harus segera produktif lagi

ilustrasi laki-laki menggunakan laptop (freepik.com/freepik)

Baru dua atau tiga hari di rumah, kamu mulai gelisah karena merasa belum menghasilkan apa pun. Padahal tubuhmu sebenarnya masih lelah setelah berbulan-bulan bekerja tanpa benar-benar berhenti. Istirahat malah terasa seperti kesalahan yang harus segera ditebus.

Banyak orang tanpa sadar mengukur nilai dirinya dari seberapa sibuk mereka setiap hari. Saat kesibukan itu hilang, rasa bersalah ikut muncul. Perasaan ini sering membuat anxiety kerja terbawa sampai setelah resign, meski sumber tekanannya sudah gak ada lagi.

5. Masa depan masih dipenuhi tanda tanya

ilustrasi laki-laki overthinking (pexels.com/Alena Darmel)

Kamu mungkin sudah punya rencana, tetapi tetap sering membuka aplikasi perbankan hanya untuk memastikan saldo masih aman. Setiap pengeluaran kecil terasa lebih besar dari biasanya. Bahkan membeli kopi favorit pun sempat membuatmu berpikir dua kali.

Ketidakpastian memang menjadi pemicu utama kecemasan. Pikiran berusaha menyiapkan berbagai kemungkinan agar kamu tetap merasa aman, meski akhirnya justru membuat kepala semakin penuh. Karena itu, perasaan setelah resign sering terasa campur aduk antara lega, takut, dan penasaran terhadap bab berikutnya.

Merasa cemas setelah resign bukan berarti keputusanmu keliru. Perubahan besar memang memberi ruang bagi banyak emosi untuk muncul sebelum semuanya terasa lebih stabil. Beri dirimu waktu beradaptasi, karena gak semua jawaban harus ditemukan dalam beberapa hari pertama setelah meninggalkan pekerjaan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorAgsa Tian

Related Article