ilustrasi mahasiswa yang kepepet ngekos di tempat angker (pexels.com/Jack Krzysik)
Alasan terakhir ini juga jadi penyebab beberapa orang akhirnya rela memilih kos yang dirumorkan angker dan penuh gangguan makhluk halus. Karena kepepet, entah sudah mendekati masa orientasi mahasiswa, sulit menemukan kos yang sesuai bujet, malas keliling mencari karena sudah lelah, atau alasan lainnya, akhirnya mereka memilih tempat tinggal yang tersedia saja, bahkan meskipun terkenal angker. Ada juga yang memang sekalian ingin mengetes keberanian, penasaran apakah benar tempat itu seseram dan seburuk yang sering diceritakan orang-orang.
Pada akhirnya, dari rasa kepepet atau sekadar uji nyali itu, banyak yang justru merasa setelah dicoba, tempat tersebut tidak semenakutkan yang dibayangkan. Kalaupun ada gangguan, biasanya hanya hal-hal kecil yang masih bisa ditoleransi, seperti bau busuk yang gak jelas asalnya, suara aneh yang sulit dijelaskan, atau suara ketokan pintu tanpa ada siapa pun. Hal-hal seperti tadi lama-lama dianggap biasa dan bisa diabaikan begitu saja, sampai akhirnya mereka tetap betah dan nyaman tinggal di sana. Adakah dari kamu yang seperti ini juga?
Nah, setelah menyimak artikelnya, kamu sudah gak bingung lagi, kan, dengan alasan sebagian orang tetap memilih ngekos di tempat yang katanya angker? Memang, ada kalanya tekanan hidup justru terasa jauh lebih menakutkan, sehingga hal-hal seperti gangguan makhluk halus atau suasana kos yang menyeramkan jadi terasa biasa saja dan gak terlalu mengusik.
Kalau dipikir-pikir, selama masih bisa ditoleransi dan tidak sampai mengganggu secara berlebihan, sebagian orang akan rela tetap bertahan. Apalagi kalau sudah merasa cocok dari segi biaya atau kebutuhan lainnya. Nah, kalau kamu sendiri, pernah punya pengalaman ngekos di tempat angker tidak? Apakah benar-benar seseram itu atau justru gak seburuk yang sering digosipkan orang-orang?