ilustrasi percakapan (pexels.com/Gustavo Fring)
Memahami karakter lawan bicaramu adalah separuh jalan menuju keberhasilan menasihatinya. Mengapa demikian? Sebab dengan mengerti sifat-sifatnya, kamu dapat menyesuaikan cara dalam menasihatinya.
Isi nasihat yang hendak kamu berikan sebenarnya sama untuk semua orang dengan masalah dan kondisi serupa. Akan tetapi, perbedaan karakter menjadi pertimbangan lain dalam dirimu menasihati. Contohnya, kamu berhadapan dengan orang yang keras kepala.
Wataknya adalah sukar dinasihati oleh siapa pun. Percuma kamu berbicara panjang lebar dengannya karena ia hanya akan mendebatmu. Lebih efektif dan efisien kalau kamu berbicara sedikit lalu membiarkannya tersandung jika masih saja keras kepala.
Orang yang keras kepala lebih mudah diingatkan dengan pengalaman langsung. Peristiwa tersandung gara-gara melawan nasihatmu akan membuatnya seketika ingat dan mengamini perkataanmu dahulu. Nasihatmu mungkin cuma singkat dan disampaikan sekali, tetapi akhirnya ia mengingatnya seumur hidup.
Jika menasihati orang lain diartikan sebagai asal bicara berdasarkan pengalaman pribadi, tentu ini sangat mudah. Namun, manfaatnya biasanya sedikit dan jarang diikuti orang karena rasa tidak percaya.
Nasihat harus diiringi dengan kebijaksanaan ketika kamu menyampaikannya supaya lebih mengena di hati serta pikiran orang yang mendengarnya.