Media sosial selalu dipenuhi dengan "racun” produk. Mulai dari skincare, fashion, gadget, sampai barang-barang random yang tiba-tiba muncul di FYP. Influencer berlomba merekomendasikan produk, sementara audiens perlahan terbiasa membeli sesuatu bukan karena butuh, tapi karena takut ketinggalan tren.
Di tengah budaya konsumtif seperti itu, muncul tren baru yang cukup menarik perhatian, yakni de-influencing. Berbeda dari konten influencer pada umumnya, tren ini justru mengajak orang untuk berpikir dua kali sebelum membeli sesuatu. Apa sih sebenarnya tren yang melawan budaya konsumtif ini?
