Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Apa Itu Fenomena Visual Match yang Sering Terjadi di Media Sosial?
ilustrasi couple goals (unsplash.com/The Chaffins)
  • Fenomena visual match menggambarkan penilaian terhadap kecocokan pasangan berdasarkan penampilan fisik, seperti wajah, gaya berpakaian, dan bentuk tubuh yang sering muncul di media sosial.
  • Parasocial relationship membuat warganet merasa dekat dengan figur publik sehingga merasa berhak menilai atau menentukan siapa yang pantas menjadi pasangan mereka.
  • Artikel menegaskan bahwa kecantikan sejati berasal dari kepribadian dan sikap positif, bukan semata-mata penampilan luar, serta mengajak pengguna media sosial untuk lebih menghargai privasi dan perbedaan individu.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bagi sebagian orang, membagikan kebahagiaan di media sosial menjadi cara mengabadikan kenangan yang dapat tersimpan sebagai arsip digital. Namun, unggahan tersebut tidak selalu mendapat respons positif. Penilaian buruk bisa saja muncul kepada pasangan dianggap yang tidak memiliki kecocokan secara visual. Penilaian tersebut muncul akibat adanya anggapan penampilan keduanya tidak sesuai standar yang berkembang di masyarakat.

Fenomena ini sering disebut sebagai visual match, yaitu istilah yang populer di media sosial untuk menggambarkan penilaian terhadap kecocokan pasangan berdasarkan penampilan. Pasangan tersebut dinilai hanya dari wajah, gaya berpakaian, warna kulit, hingga bentuk tubuh, tanpa benar-benar mengenal pribadi mereka. Berikut penjelasan selengkapnya.

1. Apa sebenarnya fenomena visual match?

Ilustrasi match couple (pexels.com/Alex Green)

Visual match merupakan istilah yang populer di media sosial untuk menggambarkan penilaian seseorang terhadap kecocokan pasangan berdasarkan penampilan fisik. Penilaian tersebut biasanya didasarkan pada wajah, bentuk tubuh, warna kulit, gaya berpakaian, hingga gaya rambut. Akibatnya, banyak orang lebih berfokus pada penampilan dibandingkan kepribadian yang dimiliki seseorang.

Fenomena ini tidak terlepas dari adanya standar kecantikan yang berkembang di masyarakat. Ketika seseorang dianggap tidak memenuhi standar tersebut, ia berpotensi menerima komentar yang kurang menyenangkan dari warganet.

Fenomena visual match kerap terjadi pada pasangan seleb di Indonesia. Saat salah satu pihak dianggap tidak memenuhi ekspektasi visual masyarakat, mereka sering dinilai tidak pantas bersanding dengan pasangannya. Padahal, penilaian tersebut hanya didasarkan pada penampilan, bukan kualitas hubungan yang sebenarnya.

2. Mengapa orang mudah menilai seseorang dari penampilan?

ilustrasi judgement (pexels.com/Yan Krukau)

Salah satu faktor yang dapat memengaruhi fenomena visual match adalah parasocial relationship. Dalam artikel Parasocial Relationships: The Nature of Celebrity Fascinations di laman Find a Psychologist, dijelaskan, "Parasocial relationship adalah hubungan emosional satu arah saat seseorang mencurahkan perasaannya kepada public figure, seperti artis, influencer, atau idol." Perasaan ingin mencurahkan perasaan tersebut muncul karena warganet terus-menerus mengonsumsi konten yang menampilkan kehidupan sehari-hari sang public figure, mulai dari unggahan media sosial, siaran langsung, hingga vlog.

Akibatnya, sebagian orang merasa mengenal sosok idolanya secara pribadi sehingga muncul anggapan bahwa mereka berhak memberikan penilaian, bahkan menentukan siapa yang dianggap pantas jadi pasangan figur publik tersebut. Perilaku ini tentu dapat mengganggu karena sudah menyentuh ranah personal dan kehidupan pribadi seseorang.

3. Penampilan luar bukan tolak ukur kecocokan suatu hubungan

ilustrasi orang yang bisa memperlihatkan inner beauty yang dimiliki (pexels.com/Los Muertos Crew)

Kecantikan merupakan anugerah yang dimiliki setiap orang dengan versinya masing-masing. Tidak ada satu pun standar yang dapat menentukan nilai seseorang hanya berdasarkan penampilannya. Dikutip dari artikel The Lawyer and Jurists yang berjudul Beauty is Not Necessarily the Outer Appearance but Mostly the Inner Magnificence Illustrate and Explain, dikatakan, "Kecantikan sejati berasal dari dalam diri, seperti kebaikan, ketenangan, dan rasa percaya diri. Kualitas tersebut mampu memancarkan pesona yang lebih berarti dibandingkan kecantikan fisik semata."

Oleh karena itu, kita tidak memiliki hak untuk menghakimi penampilan seseorang ketika tidak mengenal pribadinya secara langsung. Apa yang ditampilkan di media sosial tidak selalu mencerminkan karakter seseorang yang sebenarnya. Setiap individu juga memiliki hak untuk menentukan pasangan terbaik bagi dirinya.

Media sosial memang menjadi ruang yang memberikan kebebasan bagi setiap orang untuk menyampaikan pendapat. Namun, kebebasan tersebut bukan berarti menjadi alasan untuk memberikan komentar negatif yang dapat menyakiti orang lain, terutama mengenai penampilan yang bersifat personal. Sebelum memberikan penilaian, ingatlah bahwa setiap orang memiliki perjalanan dan keunikannya masing-masing. Menghargai kehidupan orang lain bukan hanya menciptakan lingkungan digital yang lebih positif, tetapi juga membantu kita menjadi pribadi yang lebih bijaksana.

Curated For You

Editorial Team

Related Article