Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
mengantar paket
ilustrasi mengantar paket (pexels.com/Gustavo Fring)

Intinya sih...

  • Kalau bisa dialamatkan ke rumah, kenapa harus ke kantor? Pertimbangkan faktor urgensi dalam pemilihan alamat pengiriman.

  • Makin besar kantor makin tidak etis. Kantor besar rawan paket hilang dan merepotkan petugas keamanan.

  • Lebih baik tanya dulu pada atasan boleh atau tidak. Jika pun diperbolehkan, jangan sering-sering menggunakan alamat kantor.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Sekarang belanja online lebih diminati karena kepraktisannya. Makin tinggi kesibukanmu, dirimu makin gak ada waktu untuk berbelanja langsung di toko. Belanja offline dirasa terlalu makan waktu dan tenaga.

Lebih enak belanja di marketplace. Tinggal pilih produk dari mana pun, transfer, dan barang akan diantar sesuai alamat pengiriman. Dirimu cukup menunggunya. Masalahnya, ke mana paket-paketmu dialamatkan selama ini?

Apakah etis kalau kamu menggunakan alamat kantor sebagai alamat pengiriman paket yang sifatnya pribadi? Seperti pakaian, sepatu, atau buku bacaan. Ada atau tidak aturan khusus tentang ini, dirimu harus tetap paham etika. Baca ya, biar kamu dan kebiasaanmu menerima paket pribadi tak jadi bahan gunjingan di kantor.

1. Kalau bisa dialamatkan ke rumah, kenapa harus ke kantor?

ilustrasi menerima paket (pexels.com/saravut vanset)

Artinya, kamu perlu mempertimbangkan faktor urgensi dalam pemilihan suatu alamat. Lantaran produknya akan digunakan secara pribadi, tentu paling tepat alamat pengiriman juga rumah atau kos-kosan. Bukan kantor.

Bila pun dirimu lebih sering di kantor daripada di rumah, itu bukan alasan yang tepat. Kamu tinggal menyiapkan tempat yang aman di teras untuk kurir meletakkan paket-paketmu. Kalau perlu kasih tulisan di mana ia mesti menaruhnya.

2. Makin besar kantor makin tidak etis

ilustrasi paket (pexels.com/Liza Summer)

Ukuran kantor yang besar menandakan lebih banyak karyawan dan kesibukan. Rawan sekali paketmu hilang atau terselip. Kamu juga tidak mungkin merepotkan petugas keamanan buat mengurus paket-paket pribadimu yang diantar satu per satu. Lain dengan apabila kantormu kecil.

Setiap hari hanya ada beberapa orang di kantor. Lebih mudah bagi siapa pun yang menemui kurir mengidentifikasi dirimu. Kalian saling mengenal dengan baik. Pun kasihan kurir kalau mengantar paket pribadi ke kantor besar. Bisa-bisa ia seperti dilempar-lempar oleh petugas sehingga harus ke sana kemari.

3. Apalagi COD dan kamu tidak selalu di tempat

ilustrasi menerima paket (pexels.com/Yan Krukau)

Paket dengan sistem pembayaran COD tidak pantas dialamatkan ke kantor. Bahkan bila paket dialamatkan ke rumah seharusnya kamu sendiri yang menungguinya. Jangan bikin repot orang yang mesti berjaga menantikan paketmu.

Apalagi di kantor yang semua orangnya sibuk. Pada siapa dirimu hendak menitipkan uang? Kalaupun ada orang yang mau dititipi, saat paketmu datang boleh jadi dia tak ada di tempat. Andai terpaksa kamu hendak memakai alamat kantor untuk pengiriman paket, bayar dulu.

4. Lebih baik tanya dulu pada atasan boleh atau tidak

ilustrasi membuka paket (pexels.com/Berna)

Selama atasan bisa ditemui atau dihubungi, lebih sopan kamu bertanya dulu padanya. Apakah boleh paket pribadi dikirimkan ke kantor? Walaupun atasanmu bukan pemilik perusahaan, setidaknya ia lebih mewakili kantor daripada kamu.

Apa pun jawabannya nanti, dirimu tidak perlu mendebat atau meminta pengecualian. Bila karyawan lain dilarang menerima paket pribadi di kantor, kamu pun mesti taat. Jangan malah dirimu main kucing-kucingan dengan mengatur agar barang sampai ketika atasan biasanya tidak di kantor.

5. Jika pun diperbolehkan jangan sering-sering

ilustrasi menerima paket (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Andai pun atasan memperbolehkan alamat kantor digunakan sebagai tujuan pengiriman paket pribadi, kamu kudu tetap tahu diri. Jangan dirimu lantas seperti membanjiri kantor dengan paket-paketmu. Karyawan wajib tetap tahu batasan.

Misal, gunakan alamat kantor hanya ketika rumah benar-benar kosong. Atau, barangnya masih ada kaitannya dengan pekerjaan. Seperti dirimu memesan laptop baru buat menggantikan laptop lama yang mulai rewel untuk bekerja. Dengan barang dikirim ke kantor, kamu dapat langsung mencobanya.

6. Kamu juga bisa kasih tip ke satpam yang menyimpankan paketmu

ilustrasi menerima paket (pexels.com/Yan Krukau)

Meski satpam tidak meminta bayaran sepeser pun atas kesediaannya menerima paketmu lalu mengantar ke ruangan, alangkah baiknya kalau kamu bisa kasih tip. Bukan soal paketmu besar atau kecil. Namun, buat menghargai sifatnya yang dapat dipercaya.

Berkat kesediaannya menerima paketmu, barangmu aman dan sampai ke tanganmu. Gak mudah lho, memperhatikan detail paket yang mana untuk siapa. Boleh jadi bukan cuma dirimu yang sesekali memakai alamat kantor untuk pengiriman paket pribadi. Bila tak dalam bentuk uang, kopi dan camilan juga boleh.

7. Kalau barang terlalu pribadi jangan sekali-kali dikirim ke kantor

ilustrasi membuka paket (pexels.com/ArtHouse Studio)

Semua paketmu tentu sifatnya pribadi. Namun, ada barang yang sangat pribadi dan tidak boleh dikirimkan dengan alamat kantor. Contohnya, pakaian dalam atau perlengkapan hubungan suami istri seperti alat kontrasepsi dan mainan seks. Tidak ada jaminan nama produk tak tercantum di label paket.

Bahkan bila dirimu sudah meminta penjual untuk menutup tulisan tersebut, ia bisa lupa. Kurir pasti membacanya. Ia dapat berpikir karyawan di perusahaanmu cabul. Nama kantor menjadi jelek. Kamu sendiri juga malu karena siapa pun yang menerimanya menjadi tahu isi paketmu.

Di tengah kemudahan berbelanja online, kamu memang perlu memperhatikan beberapa hal. Salah satunya, alamat pengiriman paket. Jangan sembarangan memakai alamat kantor apalagi berulang-ulang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team