Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi memahami diri sendiri
ilustrasi memahami diri sendiri (pexels.com/RDNE Stock project)

Intinya sih...

  • Kesibukan sehari-hari menjauhkan orang dari perasaan sendiri

  • Keinginan sering disangka sebagai perasaan yang sebenarnya

  • Menunda mengakui perasaan membuat hati sulit dipahami

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Dalam drakor yang tayang di Netflix yakni Can This Love Be Translated yang dibintangi Kim Seon Ho dan Go Youn Jung, ada satu pelajaran sederhana tetapi menohok. Bahasa cinta yang paling sulit ternyata bukan soal cara mencintai orang lain, melainkan memahami perasaan sendiri. Ketika hati tidak terbaca dengan jelas, perhatian dari luar kerap terasa membingungkan.

Bukan karena kurang tulus, tetapi karena diri sendiri belum benar-benar paham apa yang dibutuhkan. Dari titik ini, bahasa cinta tidak lagi soal memberi atau menerima, melainkan soal mengenali arah perasaan. Lantas, apa yang menjadi penyebab bahasa cinta tersulit adalah memahami diri sendiri?

1. Kesibukan sehari-hari menjauhkan orang dari perasaan sendiri

ilustrasi kesibukan (pexels.com/fauxels)

Rutinitas yang padat sering membuat perhatian habis untuk menyelesaikan hal-hal teknis. Pikiran fokus pada target, jadwal, dan kewajiban, sementara perasaan dibiarkan lewat begitu saja. Lama-kelamaan, sinyal dari dalam menjadi samar karena jarang disimak. Kondisi ini membuat seseorang sulit menjelaskan apa yang sebenarnya dirasakan.

Ketika bahasa cinta datang dari orang lain, kebingungan pun muncul. Bukan karena bentuk kasihnya salah, tetapi karena diri sendiri belum sempat memahami kebutuhannya. Perhatian terasa kurang pas, meski niatnya baik. Di sinilah jarak antara perasaan dan kesadaran mulai terasa nyata.

2. Keinginan sering disangka sebagai perasaan yang sebenarnya

ilustrasi pasangan (pexels.com/RDNE Stock project)

Banyak orang terbiasa mengejar apa yang diinginkan tanpa sempat bertanya alasannya. Keinginan dianggap mewakili perasaan, padahal keduanya tidak selalu sejalan. Keinginan bisa dipengaruhi lingkungan, sedangkan perasaan lebih personal dan tenang. Saat keduanya tertukar, arah hati menjadi kabur.

Kekeliruan ini membuat seseorang merasa cepat bosan atau tidak puas. Kasih sudah diterima, tetapi rasanya tidak menetap. Hal tersebut sering disalahartikan sebagai kurangnya perhatian, padahal masalahnya ada pada pembacaan diri. Memahami perbedaan ini membantu melihat kebutuhan dengan lebih jernih.

3. Menunda mengakui perasaan membuat hati sulit dipahami

ilustrasi menunda mengakui perasaan (pexels.com/RDNE Stock project)

Sebagian orang memilih menunda mengakui perasaan karena dianggap merepotkan. Perasaan disimpan rapat dengan harapan akan reda sendiri. Kebiasaan ini justru membuat diri sendiri terasa asing. Perasaan yang tidak diakui cenderung muncul dalam bentuk kebingungan.

Saat bahasa cinta hadir, penerimaannya menjadi setengah-setengah. Bukan karena tidak menghargai, tetapi karena hati sendiri belum siap. Kasih terasa membingungkan karena fondasinya belum jelas. Mengakui perasaan sejak awal membantu memahami apa yang sebenarnya dibutuhkan.

4. Kejelasan diri membuat kasih lebih mudah diterima

ilustrasi kejelasan diri (pexels.com/Keira Burton)

Memahami diri bukan berarti harus selalu yakin pada semua hal. Cukup tahu apa yang membuat nyaman dan apa yang tidak. Kejelasan sederhana ini membantu membaca perasaan tanpa berlebihan. Dari sana, arah hati menjadi lebih tenang.

Ketika diri sendiri lebih terbaca, bahasa cinta tidak lagi terasa asing. Perhatian dari orang lain bisa diterima apa adanya. Tidak ada kebingungan berlarut karena kebutuhan sudah dikenali. Kasih pun hadir dengan rasa yang lebih utuh.

Jarang disadari namun penting, rupanya bahasa cinta tersulit adalah memahami diri sendiri. Tanpa kejelasan dari dalam, perhatian dari luar mudah terasa membingungkan. Setelah menyadari bahwa bahasa cinta tersulit adalah memahami diri sendiri, sudahkah perasaanmu benar-benar dibaca dengan jujur?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team