ilustrasi sabar (pexels.com/MART PRODUCTION)
Sabar yang sehat selalu menyisakan ruang untuk memilih, bukan mengikat seseorang pada satu posisi. Sikap ini memberi kesempatan untuk mengevaluasi keadaan tanpa rasa bersalah berlebihan. Ketika pilihan berhenti sabar diambil, itu berarti ada kesadaran akan kebutuhan baru. Kesadaran ini penting agar hidup tidak berjalan secara otomatis.
Dalam praktiknya, sabar yang memberi ruang memilih membantu seseorang tetap waras dalam menghadapi perubahan. Keputusan bisa diambil tanpa drama dan tanpa keinginan menyakiti. Hidup pun berjalan lebih jujur karena didasari pertimbangan yang nyata. Di titik ini, sabar kembali menjadi alat, bukan beban.
Berhenti sabar tidak otomatis mengubah seseorang menjadi orang jahat, karena hidup bukan perlombaan menahan diri paling lama. Sabar yang dipilih dengan sadar akan selalu lebih bermakna daripada sabar yang dipaksakan. Jika sabar adalah pilihan, bukankah wajar ketika suatu hari pilihan itu berubah?