Everything is Tuberculosis karya John Green (dok. Penguin Random House)
Dikenal sebagai penulis novel, beberapa tahun ini John Green merambah nonfiksi. Dimulai dengan The Anthropocene Reviewed yang populer, ia kembali dengan Everything Is Tuberculosis. Buku ini mengupas pengalamannya jadi bagian dari sebuah organisasi nirlaba di Sierra Leone. Di negara itu, Tuberkulosis (TBC) masih jadi momok buat banyak warga. Mirisnya, setelah ia perhatikan, penyakit ini hanya ada di negara-negara yang masih berperang melawan kemiskinan. Sebuah fakta yang membuatnya kembali merenungkan soal ketimpangan global.
Kelima buku nonfiksi provokatif yang gak bahas pengembangan diri bisa jadi bukti kalau nonfiksi itu luas dan beragam. Kamu yang alergi sama buku-buku pengembangan diri (self-help) boleh meliriknya. Ini bisa jadi salah satu cara menutrisi otak dan memperkaya pengetahuan dari berbagai topik. Bahasa kekinian ala genre sains-populer bakal bikin pengalamanmu membaca jadi lebih nyaman dan menyenangkan. Buktikan, deh.