Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi perempuan mengobrol
ilustrasi perempuan mengobrol (pexels.com/Marcus Aurelius)

Intinya sih...

  • Kenali kebutuhan emosionalmu sendiri

  • Kurasi lingkaran pertemanan secara sadar

  • Tetapkan batasan dengan orang yang toxic

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Di tengah tuntutan hidup yang makin kompleks, punya support system bukan lagi sekadar pelengkap, tapi kebutuhan emosional yang penting. Lingkungan sosial yang sehat bisa membantu kamu bertahan di masa sulit, sekaligus tumbuh menjadi versi diri yang lebih baik. Sayangnya, tidak semua lingkaran pertemanan otomatis memberi dukungan yang kita butuhkan.

Banyak anak muda terjebak bertahan dalam relasi yang melelahkan demi rasa “punya teman”. Padahal, support system yang berkualitas bukan soal jumlah orang di sekelilingmu, melainkan kualitas kehadiran mereka dalam hidupmu. Kalau kamu ingin menjaga kesehatan mental dengan lebih sadar, yuk simak lima cara membangun support system yang benar-benar suportif dan sejalan dengan nilai diri.

1. Kenali dulu kebutuhan emosionalmu sendiri

ilustrasi perempuan merenung (pexels.com/Kevin Malik)

Langkah awal membangun support system adalah memahami apa yang sebenarnya kamu butuhkan. Apakah kamu butuh teman yang bisa mendengarkan tanpa menghakimi, atau sosok yang bisa memberi masukan jujur saat kamu bimbang? Setiap orang punya kebutuhan emosional yang berbeda, dan itu wajar.

Dengan mengenali kebutuhan diri, kamu jadi lebih selektif dalam membangun relasi. Kamu tidak lagi mencari teman hanya untuk mengisi kesepian, tapi untuk saling menguatkan. Kesadaran ini membantu kamu membangun lingkungan sehat yang mendukung kesehatan mental anak muda secara berkelanjutan.

2. Kurasi lingkaran pertemanan secara sadar

ilustrasi berkumpul dengan teman (freepik.com/freepik)

Tidak semua orang yang sudah lama hadir dalam hidupmu masih relevan dengan versi dirimu saat ini. Seiring bertumbuh, nilai, prioritas, dan cara pandang kita pun berubah. Mengkurasi pertemanan berarti berani mengevaluasi relasi yang ada tanpa rasa bersalah berlebihan.

Teman yang suportif biasanya menghargai batasan, mendukung perkembanganmu, dan tidak meremehkan perasaanmu. Sebaliknya, pertemanan yang membuatmu terus merasa lelah secara emosional patut dipertimbangkan ulang. Mengurangi interaksi dengan orang tertentu bukan berarti egois, melainkan bentuk menjaga kesehatan mental.

3. Tetapkan batasan dengan orang yang toxic

ilustrasi orang mengobrol (freepik.com/freepik)

Salah satu cara membangun support system yang sering diabaikan adalah kemampuan menetapkan batasan. Orang toxic tidak selalu terlihat jahat; kadang mereka hadir sebagai teman yang suka meremehkan, memanipulasi, atau mengabaikan perasaanmu. Jika dibiarkan, hubungan seperti ini bisa menggerus kepercayaan diri.

Menetapkan batasan bisa dimulai dari hal sederhana, seperti membatasi topik obrolan atau durasi interaksi. Kamu berhak berkata tidak tanpa harus menjelaskan panjang lebar. Dengan batasan yang jelas, kamu memberi ruang bagi hubungan yang lebih sehat dan suportif untuk tumbuh.

4. Cari komunitas yang sejalan dengan nilai diri

ilustrasi komunitas membaca (freepik.com/freepik)

Selain pertemanan personal, komunitas juga bisa menjadi bagian penting dari support system. Bergabung dengan komunitas yang relevan dengan minat atau nilai hidupmu memberi rasa diterima tanpa harus berpura-pura. Di sana, kamu bisa menemukan teman dengan tujuan dan cara pandang yang sejalan.

Komunitas yang sehat biasanya mendorong pertumbuhan, bukan kompetisi tidak sehat. Entah itu komunitas hobi, profesional, atau isu sosial, kehadiran mereka bisa memperkaya perspektif dan memperkuat rasa memiliki. Ini menjadi tips mencari teman positif yang efektif di era sekarang.

5. Bangun relasi dua arah yang saling mendukung

ilustrasi perempuan berdiskusi (freepik.com/pressfoto)

Support system bukan hubungan satu arah. Selain menerima dukungan, kamu juga perlu hadir untuk orang lain dengan empati dan ketulusan. Hubungan yang sehat tumbuh dari komunikasi yang jujur, saling mendengarkan, dan rasa aman untuk menjadi diri sendiri.

Dengan membangun hubungan dua arah, kamu menciptakan ruang aman yang berkelanjutan. Kamu tidak hanya merasa didukung, tetapi juga bermakna bagi orang lain. Inilah esensi pentingnya lingkungan sehat dalam menjaga keseimbangan emosi dan kesehatan mental anak muda.

Membangun support system yang berkualitas memang butuh proses dan keberanian untuk jujur pada diri sendiri. Namun, setiap langkah kecil untuk memilih lingkungan yang sehat adalah investasi jangka panjang bagi kesejahteraan mentalmu. Kamu pantas dikelilingi oleh orang-orang yang membuatmu bertumbuh, bukan terluka. Yuk, mulai hari ini lebih sadar dalam membangun relasi yang benar-benar mendukung hidupmu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorAgsa Tian