Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi work from home
Ilustrasi work from home (freepik.com/freepik)

Intinya sih...

  • Tentukan jam kerja yang jelas, lalu patuhi untuk menjaga energi dan work life balance.

  • Pisahkan ruang kerja dan ruang istirahat agar otak dapat membedakan waktu produktif dan waktu santai.

  • Buat ritual mulai dan selesai kerja serta jadwalkan waktu pribadi seperti meeting penting untuk mencegah burnout.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

WFH terdengar fleksibel dan nyaman di awal. Tidak perlu bermacet-macetan, bisa kerja pakai baju santai, dan kopi selalu dekat. Namun makin lama, batas antara ruang kerja dan ruang pribadi mulai kabur. Notifikasi masuk saat makan malam, revisi datang ketika kamu sudah rebahan.

Situasi ini sering bikin kamu merasa selalu “siaga”. Badan ada di rumah, tapi pikiran tetap di kantor. Kalau dibiarkan, pola seperti ini bisa menggerus work life balance dan memicu burnout pelan-pelan. Yuk simak lima cara membangun batasan kerja rumah yang lebih tegas dan realistis.

1. Tentukan jam kerja yang jelas, lalu patuhi

ilustrasi work from home (pexels.com/olia danilevich)

Banyak orang merasa WFH berarti bisa bekerja kapan saja. Akibatnya, pekerjaan melebar ke pagi terlalu dini atau malam terlalu larut. Kamu mungkin berpikir ini bentuk dedikasi. Padahal, tanpa jam yang jelas, energi terkuras tanpa terasa.

Coba tentukan jam mulai dan selesai yang konsisten. Komunikasikan ke tim agar mereka tahu kapan kamu bisa dihubungi. Setelah jam kerja berakhir, berhenti membuka email kantor. Disiplin kecil ini penting untuk menjaga work life balance tetap waras.

2. Pisahkan ruang kerja dan ruang istirahat

ilustrasi perempuan work from home (freepik.com/pikisuperstar)

Kerja dari kasur memang terasa nyaman. Tapi lama-lama, otak sulit membedakan mana waktu produktif dan mana waktu istirahat. Akhirnya, kamu merasa lelah bahkan saat sedang santai. Ini tanda batasan kerja rumah belum terbentuk dengan baik.

Buat sudut khusus sebagai area kerja, meski hanya meja kecil. Saat duduk di sana, fokus pada tugas. Ketika selesai, tinggalkan area itu secara fisik. Perpindahan ruang sederhana membantu otak memahami kapan harus aktif dan kapan boleh rileks.

3. Buat ritual mulai dan selesai kerja

ilustrasi perempuan menyeduh teh hangat (freepik.com/freepik)

Di kantor, perjalanan berangkat dan pulang jadi transisi alami. Saat WFH, transisi itu hilang begitu saja. Kamu bisa langsung buka laptop beberapa menit setelah bangun tidur. Pola ini membuat hari terasa datar dan melelahkan.

Ciptakan ritual kecil sebelum mulai bekerja, seperti merapikan meja atau menyeduh kopi. Lalu buat juga ritual penutup, misalnya menulis to-do list untuk besok. Tindakan sederhana ini memberi sinyal jelas bahwa pekerjaan sudah selesai. Batas jadi lebih terasa, bukan sekadar konsep.

4. Belajar berkata “nanti” dengan tegas

ilustrasi mengaktifkan mode senyap handphone (freepik.com/lifeforstock)

Tidak semua pesan harus dibalas saat itu juga. Namun sering kali kamu merasa tidak enak jika menunda respons. Apalagi kalau atasan atau klien menghubungi di luar jam kerja. Perasaan sungkan ini sering jadi jebakan WFH.

Kamu berhak menjaga waktu pribadi. Balas pesan di jam kerja kecuali memang mendesak. Sampaikan dengan sopan bahwa kamu akan menindaklanjuti esok hari. Sikap tegas seperti ini bukan berarti tidak profesional, justru menunjukkan kamu paham batas.

5. Jadwalkan waktu pribadi seperti meeting penting

ilustrasi perempuan me time (freepik.com/freepik)

Lucunya, kita mudah menjadwalkan rapat berjam-jam. Namun, waktu untuk diri sendiri sering dianggap fleksibel. Akhirnya olahraga ditunda, makan terburu-buru, dan waktu bersama keluarga terganggu. Padahal semua itu bagian dari work life balance.

Coba blok waktu pribadi di kalender seperti jadwal kerja. Anggap itu komitmen yang tidak bisa digeser sembarangan. Gunakan untuk olahraga ringan, ngobrol santai, atau sekadar istirahat tanpa layar. Kamu butuh ruang itu agar tidak burnout.

Membangun batasan kerja rumah memang butuh latihan dan konsistensi. Tidak selalu mudah, apalagi jika budaya kerja masih menuntut respons cepat. Namun kamu tetap punya kendali atas ritme harianmu sendiri. Yuk mulai bangun work life boundary yang lebih sehat sebelum lelah berubah jadi penyesalan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorAgsa Tian