Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi anak sedih
ilustrasi anak sedih (unsplash.com/Tadeusz Lakota)

Intinya sih...

  • Mengubah cara pandang anak terhadap kegagalan

  • Memberi dukungan emosional secara konsisten

  • Menghargai proses, bukan hanya hasil

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Rasa takut gagal merupakan hal yang wajar dialami anak, terutama pada saat mereka mulai mengenal tantangan, penilaian, hingga harapan yang berasal dari lingkungan sekitarnya. Jika kondisi ini tidak ditangani dengan cara yang tepat, maka ketakutan tersebut bisa menghambat perkembangan kepercayaan dirinya dan merusak keberanian anak dan mencoba berbagai hal baru.

Peran orangtua ternyata sangat penting untuk membantu anak anak agar tetap memahami bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan proses pembelajaran yang berkelanjutan. Berikut ini merupakan beberapa cara yang bisa orangtua lakukan.Dalam membantu anak untuk menghadapi rasa takut gagal sejak dini.

1. Mengubah cara pandang anak terhadap kegagalan

ilustrasi anak berbicara (unsplash.com/绵 绵)

Orangtua harus menjelaskan pada anak bahwa kegagalan bukan berarti tanda dari ketidakmampuan, melainkan kesempatan untuk anak agar bisa terus belajar dan berusaha memperbaiki diri sendiri. Penjelasan yang ada bukan hanya membantu anak untuk memahami bahwa setiap orang pernah mengalami kegagalan, namun juga agar anak memahami bahwa kegagalan tersebut sebetulnya merupakan bagian alami dari proses kehidupan.

Dengan cara pandang yang lebih positif, maka anak pun akan lebih berani untuk mencoba berbagai hal baru tanpa dibayangi oleh rasa takut secara berlebih. Sikap ini juga turut membantu anak untuk bisa membangun mental yang jauh lebih kuat dalam menghadapi berbagai tantangan di masa depan.

2. Memberi dukungan emosional secara konsisten

ilustrasi anak berbicara (unsplash.com/Kelli McClintock)

Pada saat anak mengalami kegagalan, ternyata kehadiran orangtua justru bisa memberikan dukungan secara emosional yang sangat diperlukan olehnya. Mendengarkan keluh kesah tanpa terkesan menghakimi justru akan membuat mereka tetap merasa aman dan dihargai.

Dukungan emosional yang cukup konsisten ternyata dapat membantu anak untuk memahami bahwa dirinya tetap akan diterima, meski melakukan kesalahan atau mengalami kegagalan. Hal ini juga dapat mengurangi potensi kecemasan yang mungkin dialami anak, sehingga dapat meningkatkan kepercayaan diri secara bertahap.

3. Menghargai proses, bukan hanya hasil

ilustrasi anak mewarnai (unsplash.com/Anita Jankovic)

Anak harus diajarkan bahwa usaha dan proses ternyata sama sama penting dengan hasil akhir yang akan diperoleh. Dengan berusaha menghargai kerja keras anak, maka mereka pun akan lebih terfokus pada proses pembelajaran daripada rasa takut akan kegagalan yang mungkin dialami.

Pendekatan yang ada turut mendorong anak untuk terus mencoba berbagai hal baru dan tidak mudah menyerah. Anak juga akan belajar bahwa keberhasilan tidak harus selalu instan, melainkan memerlukan proses yang berkelanjutan kedepannya.

4. Menjadi contoh dalam menghadapi kegagalan

ilustrasi anak (unsplash.com/DICSON)

Orangtua dapat menjadi teladan dengan menunjukkan cara menghadapi kegagalan secara sehat dan bijaksana. Sikap orangtua dalam menyikapi kesalahan juga akan turut ditiru oleh anak, sehingga.perlu diperhatikan dengan seksama.

Pada saat anak melihat orangtuanya tetap tenang dan mau untuk belajar dari kegagalan, maka mereka pun akan lebih yakin untuk bersikap serupa. Contoh nyata ini juga akan membantu anak untuk memahami kegagalan bukanlah hal yang memalukan apabila mereka sampai mengalami hal tersebut. 

Membantu anak untuk menghadapi rasa takut gagal memerlukan kesabaran dan konsistensi dari orangtua. Justru dengan dukungan yang tepat, maka anak akan tumbuh menjadi pribadi yang berani mencoba belajar dari kesalahan dan percaya terhadap kemampuan sendiri. Orangtua harus menjadi sosok penting untuk memastikan anak memiliki kepercayaan diri yang baik setelah mengalami kegagalan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorAgsa Tian