Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Cara Menjaga Kesehatan Mental saat Momen Kumpul Keluarga
ilustrasi kumpul keluarga (pexels.com/HONG SON)
  • Artikel membahas tantangan menjaga kesehatan mental saat kumpul keluarga, terutama ketika menghadapi saudara atau situasi yang bisa menimbulkan tekanan emosional.
  • Ditekankan pentingnya menjaga jarak dari orang yang membuat tidak nyaman, berani speak up saat merasa tertekan, serta memastikan tubuh dan pikiran mendapat cukup istirahat.
  • Penulis mengingatkan agar tetap bersikap natural tanpa memaksakan keramahan dan tidak perlu meminta maaf duluan pada orang yang kesalahannya terlalu besar demi menjaga keseimbangan mental.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jujur saja, menurutmu momen kumpul keluarga seperti saat Lebaran lebih banyak sisi menyenangkannya atau justru menyebalkan? Gak apa-apa bila dirimu sesungguhnya lebih sering merasa tidak nyaman ketika berada di tengah keluarga besar. Mereka memang beda dengan keluarga kecilmu.

Orangtua serta kakak dan adik kandung sudah mengenalmu dengan baik. Mereka tahu apa yang disukai olehmu atau gak sehingga bisa lebih menjaga sikap. Di luar mereka terkadang ada ucapan saudara yang kurang mengenakkan.

Demikian pula ketika dirimu mudik ke rumah mertua. Mertuamu baik, belum tentu semua saudara iparmu menyenangkan. Tidak berlebihan apabila interaksi selama kumpul keluarga terkadang malah menekan mental. Demi kesehatan mental tetap terjaga, ada lima cara yang bisa dicoba.

1. Jaga jarak dari saudara yang nyebelin

ilustrasi kumpul keluarga (pexels.com/Matheus Bertelli)

Mereka semua saudaramu. Akan tetapi, setiap saudara pasti gak sama. Ada yang sikapnya baik sekali, cukup baik, agak nyebelin, sampai menyebalkannya luar biasa. Dua tipe saudara terakhir mending tidak usah terlalu didekati.

Bahkan ketika kamu seakan-akan terjebak bersamanya, segera pikirkan cara halus buat membebaskan diri. Paling simpel dengan dirimu bilang ingin ke toilet, misalnya. Keluar dari kamar mandi, kamu tak perlu lagi kembali padanya.

Menghindarinya 100 persen sejak awal bertemu memang tidak baik. Bukannya tali silaturahmi terhubung malah jadi terputus. Namun, terlampau dekat dengannya juga berisiko menyebabkan ketidakbahagiaan di pihakmu. Pembatasan jarak serta interaksi perlu dilakukan.

2. Tahu kapan kamu harus speak up daripada dipendam terus

ilustrasi kumpul keluarga (pexels.com/Photography Maghradze PH)

Kamu mungkin mencoba begitu keras untuk bersabar. Dirimu juga tak mau terkesan tidak sopan. Apalagi kalau kamu berhadapan dengan orang yang usianya jauh di atasmu. Hanya saja, sebaiknya dirimu tetap mempertimbangkan tekanan yang disebabkannya.

Kesejahteraan psikismu jangan selalu dinomorduakan. Contoh, paman atau tantemu terus mendesakmu buat segera menikah. Padahal, selama ini jawabanmu sudah jelas. Kamu masih ingin sendiri, punya prioritas lain, dan sebagainya.

Saat desakan buat nikah tak juga berkurang dan malah cenderung mempermalukanmu di depan banyak orang, waktumu untuk speak up. Katakan bahwa inilah yang membuatmu agak malas kumpul keluarga. Statusmu yang masih sendiri selalu dipersoalkan seakan-akan itu kejahatan.

3. Yang pasti kamu juga butuh istirahat

ilustrasi kumpul keluarga (pexels.com/N Sopyan)

Lelah mental juga tidak bisa dilepaskan dari fisik yang kecapekan. Bagaimanapun juga, dirimu baru maraton menunaikan ibadah puasa Ramadan. Kemudian kamu menempuh perjalanan mudik yang panjang.

Sampai kampung halaman, dirimu langsung disambut dengan segudang kesibukan. Dari mempersiapkan rumah dan hidangan hingga menemui tamu yang banyak sekali. Kalau kamu ingin kesehatan mental lebih terjaga, jaga dulu waktu istirahatmu.

Jujurlah pada diri sendiri serta orang-orang bila kamu sudah lelah. Jangan malu menjadi orang pertama di rumah yang tidur pada malam hari. Toh, keesokannya malah dirimu dapat bangun lebih pagi dengan kondisi bugar. Pikiran pun lebih tenang. Perasaan netral bahkan cenderung bahagia.

4. Natural saja, tidak perlu mendadak super ramah dalam beberapa hari

ilustrasi kumpul keluarga (pexels.com/Luis Becerra Fotógrafo)

Berdasarkan pengalaman Lebaran di tahun-tahun lalu, apakah kamu merasa rahang sampai pegal gara-gara terus memaksakan diri tersenyum lebar-lebar? Tenggorokan pun seperti berdebu saking dirimu mencoba berbicara terus. Biar tamu-tamu merasa disambut dengan ramah.

Usaha yang patut diapresiasi sebagai tuan rumah. Akan tetapi, memakai topeng keramahan secara berlebihan juga berdampak pada mentalmu. Itu terlalu menghabiskan energi. Terutama untukmu yang sebenarnya introver dan pemalu.

Tentu kamu gak boleh bersikap judes di hari Lebaran. Namun, keramahanmu biar muncul secara natural saja. Tidak usah dibuat-buat sampai kamu capek sendiri. Bahkan lawan bicara dapat merasakan lho, keramahanmu yang dipaksakan.

Mungkin mereka juga akan lebih nyaman apabila sikapmu cenderung biasa-biasa saja. Mereka menjadi tak terbebani keharusan membalas keramahanmu dengan cara yang sama. Dengan masing-masing tetap menjadi diri sendiri, kalian justru dapat lebih asyik mengobrol.

5. Tak usah minta maaf duluan pada orang yang kesalahannya terlalu besar

ilustrasi kumpul keluarga (pexels.com/Matheus Bertelli)

Sesuai tradisi di tanah air, kamu barangkali juga terdorong buat bermaaf-maafan di hari raya. Namun, tetap lihat-lihat dulu siapa yang akan dimintai maaf. Bukannya kamu gak pernah punya salah sama orang lain.

Namun, jika seseorang yang bikin kesalahan luar biasa besar padamu, kenapa dirimu yang minta maaf? Sikap tidak tepat situasi begini justru dapat membuatnya kian tak tahu diri. Kamu seperti menyuapi egonya dengan meminta maaf duluan.

Tidak minta maaf padanya bukan soal dirimu menyimpan dendam. Ini perihal jangan menjadikan diri sendiri pesakitan. Kamu bakal mencari-cari kesalahan diri untuk punya alasan minta maaf ke dia. Malah kamu menjadi menyalahkan diri, kan?

Gak salah kok, kalau kamu merasa momen kumpul keluarga tidak selalu menyenangkan. Tetap jaga kesehatan mentalmu di hari Lebaran nanti. Dengan lima cara di atas, semoga dirimu bisa lebih banyak menyerap energi positif ketimbang negatif dari orang-orang di sekitarmu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team