Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
bertelepon
ilustrasi bertelepon (pexels.com/Werner Pfennig)

Intinya sih...

  • Mau buka di rumah saja, sudah ditunggu keluarga

  • Aku mau masak sendiri mumpung pulang cepat

  • Mungkin lain kali, ya

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Buka puasa bersama atau bukber selalu mewarnai bulan Ramadan. Ada bukber kantor, warga, keluarga besar, wali murid, teman-teman semasa kuliah, SMA, dan sebagainya. Kalau kamu punya circle pertemanan yang besar, ajakan bukber dalam seminggu bisa lebih dari sekali.

Sampai-sampai jika semuanya dipenuhi, dirimu bakal jarang sekali berbuka di rumah. Bila kamu sekadar diundang kemudian dijamu oleh seseorang, tentu menyenangkan. Bukannya dirimu keluar duit, piulang-pulang malah kenyang.

Bahkan tuan rumah acara barangkali membawakan oleh-oleh. Akan tetapi, ajakan buka puasa bersama yang setiap orang bayar sendiri-sendiri akan sangat memberatkan. Jangan ragu untuk menolaknya apabila mengancam anggaranmu buat bukber. Kamu bisa menggunakan tujuh cara menolak ajakan bukber berikut ini jika diajak oleh teman atau kerabat. Meski begitu, jangan berbohong, ya!

1. Mau buka di rumah saja, sudah ditunggu keluarga

ilustrasi percakapan (pexels.com/Thirdman)

Jika kamu tinggal bersama keluarga, sudah pasti momen buka bersama di rumah selalu seru. Begitu semua orang pulang, aktivitas memasak langsung dimulai. Atau, masih ada orangtua di rumah yang lebih awal mempersiapkan menu berbuka.

Supaya anak-anak yang beraktivitas di luar ketika pulang tinggal mandi dan menunggu azan Magrib. Momen hangat bersama keluarga begini memang sayang sekali bila dilewatkan. Utamakan kamu berbuka bersama mereka. Bukber bareng teman-teman sesekali saja.

2. Aku mau masak sendiri mumpung pulang cepat

ilustrasi percakapan (pexels.com/Monstera Production)

Lalu bagaimana denganmu yang tinggal sendirian, tapi juga malas ikut bukber? Tenang, dirimu gak harus memenuhi ajakan itu. Kamu tinggal bilang bahwa hendak memasak sendiri di rumah atau kos-kosan.

Mumpung saat bulan puasa dirimu pulang lebih awal. Ada waktu 1 hingga 2 jam buatmu memasak sesuai selera. Di bulan-bulan lain kamu sudah bosan makan di luar terus. Terlebih jika pada dasarnya memasak bagimu menyenangkan. Menolak ajakan bukber demi masak sendiri sama sekali bukan situasi yang menyedihkan.

3. Mungkin lain kali, ya

ilustrasi percakapan (pexels.com/Mikhail Nilov)

Kamu gak menjanjikan apa-apa karena kalimat sudah diawali dengan kata mungkin. Pesan utamanya adalah untuk saat ini dirimu tidak dapat ikut buka puasa bersama. Next time ada ajakan bukber lagi oleh orang yang sama, kamu juga bisa datang atau kembali izin.

Kalimat di atas lebih sopan dibandingkan dirimu langsung menolak tegas ajakan buka puasa bersama. Seolah-olah acara itu sama sekali gak menarik atau tak ada sisi positifnya di matamu. Mungkin teman akan berusaha membujukmu. Jangan khawatir, kamu cukup mengulang kalimat tersebut.

4. Kemarin baru bukber

ilustrasi percakapan (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Kalau baru-baru ini dirimu memang baru pergi buka puasa bersama, tak ada salahnya mengatakannya pada kawan. Ini menjadi alasan yang cukup masuk akal untukmu gak ikut bukber dulu. Walaupun kemarin kamu buka bersama orang lain, tentu ingin gantian makan di rumah.

Lawan bicara pun paham bahwa terlalu sering bukber di luar memberatkan keuangan. Dia bakal mengajak orang lain yang bisa. Atau, ia tetap mau bukber denganmu, tetapi waktunya diundur sampai agak lama. Biar dompetmu bernapas dulu.

5. Tempatnya jauh, nanti aku pulang kemalaman

ilustrasi percakapan (pexels.com/Monstera Production)

Lokasi buka bersama juga mesti menjadi pertimbangan. Contoh, rumahmu di sisi utara. Kantor di sebelah barat. Sementara itu, tempat bukber yang disepakati mayoritas teman di sisi selatan. Ketika kamu berangkat dari kantor memang tidak terlalu jauh.

Akan tetapi, nanti pulangnya jauh sekali dari rumahmu. Menolak ikut bukber dengan alasan jarak sangat masuk akal. Apalagi kamu mau salat Isya dan Tarawih berjemaah di rumah atau masjid dekat rumah. Waktunya dapat tak terkejar kalau dirimu ikut bukber yang jauh.

6. Gak dulu deh, lagi kudu irit banyak kebutuhan

ilustrasi percakapan (pexels.com/Edmond Dantès)

Menolak ikut bukber dengan alasan keuangan juga tidak memalukan. Semua orang dewasa tahu bahwa kebutuhan menuju Idulfitri biasanya banyak. Apalagi bagi orang yang sudah berkeluarga dan mesti mudik.

Walaupun nanti ada THR, penghematan tetap diperlukan supaya banyak rencana berjalan dengan baik. Jangan sampai THR gak cukup dan gaji ikut dipakai buat menambah anggaran hari raya. Kalau kamu terlalu malu buat mengatakan alasan keuangan malah bisa-bisa terus diajak bukber yang bikin kantong jebol.

7. Kapan-kapan kalian buka di rumahku saja

ilustrasi percakapan (pexels.com/Cedric Fauntleroy)

Kamu menolak satu ajakan bukber dengan gantian mengundang mereka ke rumah. Bedanya, bila bukber di rumah makan setiap orang perlu keluar duit. Sementara undangan berbuka puasa di rumahmu gratis.

Sebagai tuan rumah, dirimu siap menjamu mereka. Pokoknya, datang lapar dan pulang kenyang. Siapa yang tak senang kalau begini? Boleh jadi rencana mereka berbuka di rumah makan seketika dibatalkan. Mereka mau menunggumu bikin acara bukber di rumahmu saja.

Rumah yang dipakai buat bukber bakal terasa hangat dan penuh kebaikan. Kamu memberi makan orang yang berpuasa. Sementara buat teman-teman, sajian sederhana pun terasa lebih nikmat lantaran kebaikan hatimu. Mereka juga bisa lebih mengenal keluargamu dan sebaliknya.

Tentu buka bersama kawan-kawan di luar tak selalu buruk. Manfaatnya pun banyak, seperti menjaga tali silaturahmi dan kekompakan. Namun, kalau ajakan bukber banyak sekali, kamu memang perlu selektif. Kamu bisa menggunakan tujuh cara menolak ajakan bukber agar kesannya lebih halus. Meski begitu, tak semua ajakan bukber harus ditolak, ya. Pilih sebagian saja.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team