ilustrasi penceramah di masjid (pexels.com/Alena Darmel)
Jamaah sekalian,
Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi tentang memperbaiki niat dan menjaga keikhlasan dalam setiap ibadah. Segala amalan yang kita lakukan, baik puasa, salat Tarawih, membaca Al-Qur’an, maupun sedekah, semua itu akan bernilai besar di sisi Allah jika dilandasi iman dan mengharap ridha-Nya.
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa yang melakukan qiyam Ramadan (salat Tarawih) karena iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini mengajarkan bahwa kunci dari ibadah bukan hanya pada pelaksanaannya, tetapi pada niat yang tulus karena Allah SWT. Dengan niat yang benar, ibadah yang kita lakukan dapat menjadi wasilah pengampunan dosa dan jalan untuk kembali suci seperti bayi yang baru dilahirkan.
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa siapa saja yang berpuasa dan melaksanakan qiyam Ramadan dengan penuh keimanan serta mengharap pahala, maka ia akan keluar dari dosa-dosanya sebagaimana hari ia dilahirkan. Ini menunjukkan betapa besarnya keutamaan ibadah di bulan Ramadan.
Salat Tarawih sendiri merupakan sunah muakkadah yang dicontohkan langsung oleh Rasulullah SAW. Beliau pernah melaksanakannya secara berjamaah di masjid hingga para sahabat berbondong-bondong mengikuti. Namun, beliau kemudian tidak melanjutkannya secara terus-menerus karena khawatir akan diwajibkan atas umatnya.
Hal ini menjadi pelajaran bagi kita bahwa meskipun Tarawih hukumnya sunah, ia adalah ibadah yang sangat dianjurkan dan penuh keutamaan. Oleh karena itu, jangan sampai kita menyia-nyiakan kesempatan emas ini.
Mari kita jadikan Ramadan sebagai momentum memperbaiki kualitas ibadah, bukan hanya memperbanyak kuantitasnya. Perkuat niat, jaga keikhlasan, dan hindari riya dalam beramal. Karena sesungguhnya Allah tidak melihat banyaknya amal, tetapi melihat ketulusan hati hamba-Nya.