Beberapa waktu lalu, sekumpulan mahasiswa ramai-ramai berkomentar negatif di grup WA karena salah satu rekan mereka bunuh diri. Setelah diserang netizen, barulah para mahasiswa ini kompak minta maaf di media sosial dengan pola klarifikasi yang sama persis. Berkaca dari kasus di atas, berikut ini beberapa ciri khas klarifikasi setelah viral yang sering muncul di media sosial. Berasa ikut geregetan, gak, sih?
5 Ciri Khas Klarifikasi setelah Viral, Pola Pengulangan yang Sama

Intinya sih...
Klarifikasi setelah viral di media sosial cenderung memakai pola templat yang sama, mulai dari pengenalan diri, permintaan maaf, hingga janji tak mengulang kesalahan.
Klarifikasi sering disertai ekspresi memelas, pendampingan orang terdekat, dan pengamanan akun media sosial untuk meredam hujatan netizen.
Alih-alih menunjukkan penyesalan tulus, banyak klarifikasi justru dinilai formalitas belaka dan kadang ditutup dengan pesan moral yang terasa tidak relevan.
1. Urutan klarifikasinya terkesan templat dari sosok-sosok viral sebelumnya
Eh, bosan, gak, sih, ngelihat para pelaku yang gampang banget klarifikasi setelah aksi mereka telanjur viral di media sosial? Belum selesai kasus kemarin, sudah ada lagi berita panas yang ujung-ujungnya ngasih klarifikasi yang terkesan basi. Meski banyak kisah sejenis, mereka tidak belajar bahwa segala tindak-tanduk negatif mereka bakalan diintai oleh netizen di media sosial.
Coba perhatikan urutan klarifikasi mereka udah bisa ditebak dan selalu ngikutin template dari pelaku-pelaku sebelumnya. Dimulai dari perkenalan diri, penjelasan kasus, permintaan maaf, lalu diakhiri dengan penyesalan, konsekuensi, dan janji tidak akan mengulang lagi. Begitu klarifikasi tertunai, pelaku merasa bisa melenggang bebas dan fokus netizen mulai beralih ke kasus-kasus viral lain. Fenomena tersebut seolah gak berhenti dari waktu ke waktu.
2. Pasang muka memelas, sedih, dan gestur yang sengaja dibuat lebih santun
Selain kalimat yang sama persis, klarifikasi berasa kurang afdal kalau gak dibarengi dengan muka memelas, sedih, seolah menyesal, dan sengaja dibuat haru. Gak hanya itu, berbeda saat ngelakuin aksi gak terpuji sebelumnya, gestur saat klarifikasi sengaja dibuat lebih santun dan kalem. Beberapa malah ada yang menangis terisak sambil serius ngeluarin kalimat-kalimat penyesalan biar dapat simpati banyak orang.
Beberapa netizen menyadari bahwa ekspresi memelas mereka bukan merupakan bentuk penyesalan, tapi karena kadung dihujat netizen habis-habisan. Meski ada yang benar-benar menyesal, kebanyakan sekadar "menggugurkan kewajiban" biar gak dirundung balik oleh lingkungan sekitar. Alih-alih bikin netizen terenyuh, sosok viral tersebut biasanya kembali dapat komentar pedas karena klarifikasi terlihat sekadar basa-basi.
3. Ada yang klarifikasi sendiri, tapi ada lebih banyak yang didampingi orang-orang terdekat
Meski ada yang klarifikasi sendirian, kebanyakan sosok viral biasanya ditemani oleh orang-orang terdekat mereka saat klarifikasi. Kalaupun sosok viralnya lebih dari satu orang, biasanya satu demi satu dari mereka klarifikasi masing-masing di tempat yang berbeda, tapi dengan inti kalimat yang sama persis. Yang nekat ingin ditemani biasanya karena takut salah ngomong, jadi harus dibantu oleh orang terdekat untuk klarifikasi.
Anehnya, sosok viral tersebut gak hanya dari kalangan masyarakat biasa, tapi dari kalangan terpelajar, profesi mentereng, atau pejabat penting. Namun, ya, namanya manusia, lidah dan perbuatan kadang memang gak bisa dikontrol. Tetap saja, karena manusia juga punya adat dan adab, ada baiknya segala hal yang sifatnya emosional, aksi nakal, ucapan bengal, harus segera ditahan biar gak jadi kasus besar serta berakhir viral.
4. Akun media sosial diprivat, komentar dibatasi, unggahan dihapus, atau malah sengaja hilang dari dunia maya
Meski media besar dan akun lambe-lambean ramai memberitakan, akun media sosial pelaku biasanya langsung dinonaktifkan. Kalaupun sayang kalau tutup akun, pelaku biasanya ngambil tindakan dengan privat akun, ngebatasin komentar, atau menghapus unggahan lain yang berpotensi nambah hujatan netizen. Satu saja ada unggahan dalam lini masa yang "aneh", serbuan hujatan bakalan menuhin kolom komentar dengan beragam kalimat makian.
Netizen yang kadung geregetan biasanya bakalan mengorek perilaku lain pelaku sampai ke ranah sangat privat. Karena media sosial bukan hanya satu platform, akun-akun lain dari pelaku jadi incaran warganet untuk melampiasin kekesalan. Jadi, sebelum ada niat buat berperilaku di luar kewajaran saat bermedia sosial, ingat dulu dampaknya bagi masa depan, ya.
5. Beberapa orang malah ngasih pesan moral dan kalimat bijak pada akhir klarifikasi
Meski jarang, ternyata ada juga, lho, pelaku yang berlagak jadi motivator ternama saat sibuk klarifikasi di media sosial. Memang, sih, awalnya menyesal dan meminta maaf, tapi pernyataan akhir ada yang malah ngebahas sisi lain manusia yang gak lepas dari kesalahan. Beberapa dari pelaku malah ngaitin aksi tercela mereka dengan petuah-petuah agama dari sudut pandang mereka sendiri.
Namun, namanya kesalahan, sehebat dan sebijak apa pun ngebela diri, tetap aja bakalan dicap sebagai manusia yang dianggap minim empati. Terlebih kalau klarifikasi tersebut sekadar ucapan tanpa niat berbenah, kalimat bijak yang terlontar malah terlihat seperti isapan jempol belaka. Ya, gak?
Di antara sekian banyak kerumitan hidup, masih ada aja orang yang punya waktu luang ngelakuin hal-hal di luar batas yang berpotensi viral. Mulai sekarang, daripada memenuhi berita media sosial dengan kasus viral, mendingan fokus perbaiki diri biar gak jadi bagian dari manusia yang dikit-dikit klarifikasi. Ingat, jejak digital itu kejam!