Konflik keluarga bukan sekadar peristiwa sesaat yang berlalu tanpa bekas. Bagi anak, situasi penuh ketegangan di rumah bisa menjadi pengalaman emosional yang membentuk cara berpikir, merasa, dan bersikap. Lingkungan yang seharusnya menjadi ruang aman justru berubah menjadi sumber tekanan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Dalam jangka panjang, konflik yang terus berulang dapat meninggalkan jejak emosional yang kompleks. Anak sering menyerap suasana tanpa benar-benar memahami penyebabnya, tapi merasakan dampaknya secara utuh. Kondisi ini membuat emosi berkembang dalam situasi yang penuh ketidakpastian dan rasa waswas. Yuk, pahami dampak emosional ini supaya lebih peka terhadap kebutuhan anak di tengah konflik keluarga!
