Media sosial saat ini bukan hanya tempat berbagi momen santai, tetapi juga menjadi panggung untuk menunjukkan pencapaian karier. Mulai dari unggahan ruang kerja estetik, jabatan baru, perjalanan dinas, hingga gaya hidup setelah menerima gaji besar sering muncul di linimasa setiap hari. Di satu sisi hal tersebut terlihat memotivasi, tetapi di sisi lain ada dampak psikologis dan sosial yang sering luput dari perhatian.
Fenomena flexing karier perlahan membentuk budaya validasi yang cukup melelahkan. Banyak orang akhirnya merasa harus selalu terlihat sukses agar dianggap berkembang oleh lingkungan sekitar. Padahal, terlalu sering memamerkan pencapaian justru dapat memunculkan efek negatif yang berbalik merugikan diri sendiri. Supaya lebih bijak menggunakan media sosial, yuk pahami beberapa dampak negatif flexing karier berikut ini!
