ilustrasi mengalah (pexels.com/Timur Weber)
Salah satu hal paling melelahkan dari terlalu sering mengalah ialah ketika kebaikan mulai dianggap sesuatu yang wajib dilakukan. Bantuan yang awalnya dihargai perlahan berubah menjadi ekspektasi. Saat biasanya selalu hadir, sekali tidak bisa datang langsung dianggap berubah. Situasi seperti ini sering membuat seseorang merasa serbasalah karena standar orang lain telanjur tinggi terhadap dirinya.
Hal semacam ini banyak terjadi dalam lingkar pertemanan, keluarga, bahkan pekerjaan. Orang yang paling jarang menolak biasanya justru paling sering dicari ketika ada kebutuhan mendadak. Ini bukan karena paling mampu, melainkan karena dianggap pasti mengiyakan. Di titik tertentu, rasa takut dianggap egois justru membuat orang lain lupa bahwa dirimu juga punya batas tenaga, waktu, dan kepentingan sendiri.
Terlalu sering mengalah memang tidak selalu salah, tetapi terus-menerus menekan diri sendiri demi menjaga penilaian orang lain juga bukan sesuatu yang sehat dijalani. Tidak semua keputusan yang mendahulukan diri sendiri otomatis membuat seseorang menjadi egois. Jadi, apakah masih mau terus mengorbankan keinginan pribadi agar terlihat baik di mata semua orang?