Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ekspektasi Sosial Memaksa Kamu Berpura-Pura, Pahami Dampaknya
Event BCA Syariah Dari Sahabat untuk Sahabat (IDN Times/Bima Prakasa)
  • Acara Live Intimate Podcast Experience BCA Syariah menyoroti tekanan sosial yang membuat banyak orang berpura-pura demi citra sempurna di media sosial.
  • Ivan Gunawan dan Ustaz Jojo berbagi kisah perjalanan spiritual mereka, menekankan pentingnya menjadi baik di mata Tuhan meski sering disalahpahami lingkungan sekitar.
  • Pesan utama acara ini mengajak generasi muda untuk jujur pada diri sendiri, dikelilingi sahabat yang mendukung, serta fokus pada kebaikan dan keberkahan hidup.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Ada yang bilang, “Hidup adalah panggung sandiwara”. Pernyataan itu makin benar, saat kamu terekspos konten-konten FYP di media sosial yang tanpa sadar membuat kamu ingin memenuhi ‘standar’ sosial.    

Kamu mulai bangun citra, timeline rapi, foto selalu estetik, hingga mencari validasi dengan berburu likes, semata-mata biar kamu terlihat ‘baik’. Tapi, capek gak sih nurutin tuntutan sosial mulu? 

Iya sih mungkin kamu dicap ‘keren’, ‘bahagia’, bahkan ‘sempurna’. Tapi ternyata, menurut American Psychological Association, banyak Millennial dan Gen Z mengidap masalah kesepian, kecemasan, atau rasa kosong yang sulit diungkapkan. Bahaya? Tentu. Ini dampaknya serius. Lalu gimana? Simak terus di bawah, ya!     

1. Lelahnya berpura-pura itu nyata

Event BCA Syariah Dari Sahabat untuk Sahabat (IDN Times/Bima Prakasa)

Di sebuah intimate talk, kemarin Selasa (19/5), di XXI Lounge Plaza Senayan yang diinisiasi oleh BCA Syariah lewat program "Dari Sahabat untuk Sahabat", sebuah Live Intimate Podcast Experience, satu hal yang langsung kena: ternyata banyak banget orang yang lagi capek berpura-pura. 

Ustaz Jojo dan Ivan Gunawan, Igun panggilan akrabnya, yang menjadi bintang tamu juga bercerita tentang pengalaman mereka menghempas kepura-puraan dan menuju jalan ‘pulang’ menjadi baik tapi menurut Tuhan. Kenapa begitu? Karena menjadi baik menurut orang lain itu melelahkan. 

“Dulu ada yang menganggap aku tuh hidupnya liar, jauh dari agama, dan segala macem. Seiring berjalannya waktu, ternyata dia liat aku lagi di masjid dan akhirnya minta maaf. Makanya, kita gak boleh menghakimi hidup orang lain. Liat aja hidup kita sendiri apakah kita ini sempurna banget di mata Allah. Apa yang kita lihat, belum tentu jadi realita yang terjadi. Start today, kita fokus sama diri sendiri,” cerita Igun.

Selain itu, Igun juga berterima kasih pada Tuhan karena menurut dia, Tuhan memilihnya untuk ‘pulang’ ke arah kebaikan di saat dirinya masih sehat, masih bisa menjalankan bisnis, dan lain sebagainya.

Ternyata langkah itu membawa keberkahan yang mengalir bagi Igun. Yang akhirnya bisa membawa kebermanfaatan lebih banyak tidak hanya ke customer, tapi juga masyarakat luas yang membutuhkan. 

Tapi, ada salah satu pertanyaan menarik: kalau kita mau menjadi baik di mata Tuhan terkadang teman-teman kita ‘nyinyir’. Betul gak? Terus gimana? Keep scrolling!  

2. Percayalah, ‘baik’ di mata Tuhan jauh lebih indah

Event BCA Syariah Sahabat Berkahmu (IDN Times/Bima Prakasa)

Semakin malam, semua pertanyaan semakin terjawab. Teman atau sahabat pasti punya pandangannya sendiri ketika kamu berubah. Bahkan ada sampai yang bilang “Alah, mungkin cuma pencitraan.”

Ustaz Jojo yang memiliki masa kelam dan pernah mencicipi jeruji besi bercerita kalau tantangan utama untuk menjadi baik di mata Tuhan adalah godaan-godaan dari teman-teman kita sendiri.

Pandangan ‘baik’ di mata teman kadang beda di mata Tuhan. Makanya Ustaz Jojo bilang kalau, “Sebenarnya kalau mau menjadi baik di mata Tuhan tuh sebenernya perang dengan diri sendiri. Mau teman kayak gimana pun kita gas aja. Bodo amat!”   

Sebab, ketika kita sudah jadi ‘baik’ di mata Tuhan sebenarnya akan terlihat baik juga di mata sesama manusia. Karena, good karma will come back eventually. Setuju ‘kan?

3. Kelilingi dirimu dengan sahabat yang membawa berkah

Event BCA Syariah Dari Sahabat untuk Sahabat (IDN Times/Bima Prakasa)

Itulah kenapa memiliki sahabat yang mengerti dan mendukung perjalanan ‘pulang’-mu menjadi lebih baik di mata Tuhan jadi penting banget. Mungkin gak perlu banyak, satu atau dua orang yang sering mengingatkan juga sudah oke. Meski, emang kadang sepi sih jalannya. Tapi, gak apa-apa. Kamu pasti bisa kok! 

Meski kamu bakal dibilang pencitraan dan sering dibilang “tumben”, slow aja. Kalau kata Ustaz Jojo, “Gas aja!”. Lagipula saat ini dengan kekuatan teknologi dan media sosial kamu bisa bertemu dengan orang-orang baru yang mendukung perjalanan ‘pulang’-mu. Betul?

4. Sekarang giliran kamu melangkah, coba deh lihat video ini

Ada momen di mana obrolan malam itu yang bertajuk “Aku Ingin Menjadi Siapa yang Baik Menurut Tuhan” berubah jadi lebih hangat. Lebih, manusiawi.

Tentang gimana rasanya akhirnya berani melangkah, walaupun kecil. Tentang lega yang muncul ketika kita berhenti pura-pura, dan mulai jujur kalau itu berarti terlihat belum sempurna.

Seperti misalnya Igun berani meninggalkan dunia malam dan entertainment yang dikelilingi mudharat. Ustaz Jojo berani melangkah dan belajar dari masa lalunya untuk menjadi lebih baik hari demi hari dengan belajar agama. Mereka semua tentu memiliki sahabat yang sama-sama mendukung perjalanannya. Maka, memilih sahabat itu penting banget.

Seperti kata Presiden Direktur BCA Syariah Yuli Melati Suryaningrum mengatakan “Selama 16 tahun, kami telah menemani perjalanan finansial masyarakat Indonesia. ‘Sahabat Berkahmu’ adalah penegasan bahwa BCA Syariah ingin hadir lebih dalam, berjalan bersama, bukan di depan atau malah di belakang. Kemudian, tidak hanya urusan transaksi semata, tetapi di setiap ikhtiar nasabah dalam mencapai kehidupan yang lebih baik dan penuh berkah”.

Setelah nonton video di atas. Apa yang kamu rasakan? Semua terasa lebih indah saat kamu jujur pada diri sendiri dan menjadi baik di mata-Nya ‘kan? (WEB/BAP)

Editorial Team