Lukisan karya Branwell Brontë (biography.com)
Awal mula Emily dan kedua saudarinya, Charlotte dan Anna Brontë menerbitkan buku kumpulan puisi mereka merupakan kisah yang menarik tentang keberanian tiga penulis perempuan di abad ke-19. Di mana pada masa itu, banyak stigma negatif pada perempuan yang berkarya melalui tulisan.
Sejak kecil, Emily, Charlotte, dan Anna Brontë memang gemar menulis cerita dan puisi. Mereka tumbuh dengan banyak buku bacaan di sekitarnya. Bahkan dikutip dari Britannica, saat kecil, bersama Anna, Emily menciptakan kerjaaan khayalan bernama Gondal dan mereka menulis prosa serta puisi tentang kerajaan tersebut. Kebiasaan ini secara perlahan mengasah kemampuan mereka dalam menulis karya sastra.
Pada tahun 1845, tanpa sengaja, Charlotte menemukan buku catatan yang berisi kumpulan puisi milik Emily. Ia membacanya dan langsung terkesan dengan kekuatan serta ketajaman puisi-puisi tersebut. Awalnya Emily tidak suka tulisannya dibaca tanpa izin, tapi pada akhirnya Charlotte bisa meyakinkannya kalau karya ini layak untuk dipublikasikan.
Akhirnya, di tahun 1846, ketiganya sepakat menerbitkan buku kumpulan pusisi mereka. Mereka sadar, bahwa pada masa itu penulis perempuan terlalu diawasi ketat, sehingga mereka memilih menggunakan nama pena laki-laki. Buku mereka yang berjudul "Poems of Currer, Ellis, and Acton Bell' dicetak dengan biaya pribadi melalui sebuah penerbit di London.
Ide menerbitkan karya puisi bersama ini dianggap sebagai titik awal munculnya rasa percaya diri pada diri ketiga bersaudara Brontë. Meskipun buku pertama mereka tidak sukses di pasaran, karena cuma terjual dua dari sekitar 1000 eksemplar. Setelahnya, Emily, Charlotte, dan Anna Brontë, melahirkan karya sastra mereka masing-masing dan menerbitkannya, hingga dikenal sebagai karya sastra Inggris yang berkualitas.
Charlotte Brontë menulis empat judul buku, yakni Jane Eyre (1847), Shirley (1849), Villette (1853), dan The Professor (1857). Anna Brontë menulis dua judul buku, yakni Agnes Grey (1847) dan The Tenant of Wildfell Hall (1848). Sementara Wuthering Heights (1847) menjadi satu-satunya novel yang ditulis Emily Brontë, yang kemudian menjadi salah satu karya klasik paling terkenal dalam dunia sastra Inggris.