Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
7 Etika Dagang di Depan Rumah Orang, Jangan Asal Pasang Tenda
ilustrasi pedagang (pexels.com/Thach Tran)
  • Artikel membahas pentingnya memahami etika berdagang di depan rumah orang agar tidak menimbulkan gangguan bagi pemilik rumah maupun lingkungan sekitar.
  • Ditekankan kewajiban meminta izin, menjaga kebersihan, tidak menghalangi akses, serta menghormati kenyamanan pemilik rumah selama berjualan.
  • Pedagang juga disarankan menawarkan bagi hasil, membongkar tenda setiap hari bila perlu, dan membayar penggunaan listrik atau air dengan sikap tahu diri.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Berdagang secara offline memerlukan lokasi yang strategis. Ini yang menjadi kendala bagi banyak orang yang ingin berjualan. Sering kali titik-titik strategis dimiliki oleh segelintir orang karena harga tanah dan bangunannya mahal.

Atau mereka orang lama yang sudah tinggal di sana jauh sebelum lingkungannya makin ramai. Tidak sedikit pedagang yang akhirnya cuma pinjam tempat biar dagangannya laku. Bila kamu juga ingin memanfaatkan area depan pagar orang buat berjualan, pahami betul etikanya.

Sekalipun di luar pagar, gak termasuk properti miliknya, keberadaanmu dapat sangat mengganggu. Terapkan tujuh etika dagang di depan rumah orang berikut ini agar dirimu tak terlibat dalam ketegangan. Bila maksudmu ditolak mentah-mentah juga gak usah marah.

1. Wajib minta izin dulu pada pemilik rumah

ilustrasi jual beli (pexels.com/zhang kaiyv)

Seperti disebutkan di awal. Bagian depan pagar bisa masih tanah pemilik rumah atau bukan. Kalau masih miliknya, biasanya pagar sengaja dimundurkan supaya ketika mobil diparkir di luar tidak mengambil hak pengguna jalan yang lain.

Bila pun area itu bukan miliknya, dirimu tetap harus minta izin dulu. Keberadaanmu di depan pagarnya saja telah mengganggu pemandangan serta keleluasaan pemilik rumah. Tanpa izinnya, jangan pernah asal berdagang di depan rumah tersebut. Bahkan meski tidak persis di depan pintu pagar.

2. Tawarkan bagi keuntungan

ilustrasi pedagang (pexels.com/Minh Tri)

Kamu berjualan di depan rumah orang atau di mana pun untuk mendapatkan penghasilan. Itu bukan kegiatan sosial. Telah sepantasnya pemilik rumah juga memperoleh bagian dari keuntunganmu berdagang.

Soal dia benar-benar menginginkannya atau tidak bukan hal utama. Terpenting, pihakmu sudah menunjukkan niat baik dengan menawarkan bagi hasil. Bisa dengan cara sekian persen laba bersih untuknya atau kasih uang dengan nominal tetap per bulannya. Misal, 500 ribu rupiah. Itu sudah jauh lebih murah daripada menyewa satu bangunan untuk berdagang.

3. Jangan bikin kumuh

ilustrasi pedagang (pexels.com/Tan Danh)

Masalah yang kerap ditinggalkan pedagang ialah berbagai kotoran. Termasuk bagian bawah tempat berdagang menjadi becek, berbau, dan licin karena air cucian peralatan makan dan memasak dibuang ke situ. Ingat, tempat ini bukan milikmu.

Sudah baik pemilik rumah mengizinkanmu mencari nafkah di situ. Jaga betul kebersihannya. Selagi ada got di sekitar rumah, buang langsung air kotor ke sana. Jangan ada yang mengalir ke sekitar pagar atau jalan.

Sapu tempatmu berdagang lebih sering. Bukan hanya ketika dirimu hendak membuka dan menutup lapak. Juga gunakan tenda, meja, bangku, atau gerobak yang selalu terlihat bersih. Jangan lupa, semua sampahnya tanggung jawabmu.

4. Jangan mengganggu akses keluar masuk

ilustrasi pedagang (pexels.com/Duc Nguyen)

Kamu memang tidak berdagang persis di depan pagar. Akan tetapi, kalau tenda atau gerobakmu besar, pemilik rumah tetap sulit ketika hendak memasukkan atau mengeluarkan mobil. Belum lagi saat ada banyak pengunjung yang memakai motor atau mobil.

Dirimu harus bisa mengarahkan dan mengatur parkir kendaraan agar pemilik rumah sama sekali tidak terganggu. Jangan kamu cuma mementingkan para pelangganmu. Namun, kepentingan dan kenyamanan pemilik rumah malah diabaikan.

5. Atau, suara berisik sampai malam hari

ilustrasi menikmati kuliner kaki lima (pexels.com/Studio Dreamview)

Bila usahamu baru buka sore dan akan berlangsung sampai malam, sudah konsekuensimu untuk menjaga situasi. Kalau kamu gak punya tempat sendiri atau membayar sewa penuh, pilih usaha yang risiko berisiknya minimal. Bukan jenis usaha yang mengundang anak muda buat nongkrong.

Contoh, alih-alih kamu buka usaha warung kopi, lebih baik jual buah. Pembeli buah umumnya cuma berhenti sebentar, belanja, langsung pulang. Sementara warung kopi malah kerap dipakai anak muda nongkrong hingga dini hari.

6. Bongkar pasang tenda tiap hari

ilustrasi pedagang (pexels.com/Markus Winkler)

Kamu cuma boleh meninggalkan perlengkapanmu berdagang di depan rumah orang apabila sudah ada kesepakatan. Termasuk di dalamnya dirimu membayar sewa sesuai permintaan pemilik rumah. Dirimu mendapatkan kelonggaran dalam menggunakan tempat sehingga tak perlu setiap hari membongkar tenda secara total serta memasangnya kembali.

Bila kamu bahkan hanya mendapatkan kebaikan hati pemilik rumah, bersikaplah tahu diri. Begitu jam berjualan habis, kemaslah perlengkapanmu sampai tak tersisa apa pun dan bawa pulang. Kalau ini diabaikan, kasihan pemilik rumah. Ia pasti muak melihat tenda atau gerobakmu terus di sana. Bukan salahnya jika suatu saat dia membongkar dan membuangnya.

7. Jika butuh air dan listrik bukan minta, tapi bayar

ilustrasi pedagang (pexels.com/Tony Wu)

Terutama untukmu yang berdagang di malam hari, tentu memerlukan penerangan. Bahkan jika dirimu berjualan nasi dari pagi sampai siang hari, juga butuh listrik agar nasi tetap hangat. Satu-satunya sumber listrik ialah dari rumah di belakang tempatmu berdagang.

Begitu juga air untuk membersihkan peralatan makan, minum, dan memasak. Bila rumahmu dekat, air masih bisa diambil dari rumah. Jika jauh, jangan asal minta listrik serta air gratisan. Sampaikan kepada pemilik rumah bahwa kamu harus membayarnya karena listrik serta air terus dibutuhkan dalam usahamu.

Memakai bagian depan rumah orang untuk berdagang menuntutmu untuk tahu diri serta batasan. Tak ketinggalan, tahu terima kasih. Jangan sampai etika dagang di depan rumah orang tidak kamu terapkan lalu bikin jengkel pemilik rumah karena usahamu mengganggu kesehariannya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team