Jakarta, IDN Times - Industri fashion lokal sedang berada pada momentumnya. Di berbagai kota, brand-brand baru tumbuh seperti jamur setelah hujan. Tentunya, didorong kreativitas anak muda, dukungan komunitas, dan kemudahan membangun identitas melalui media sosial. Setiap koleksi terasa seperti perayaan: penuh warna, penuh karakter, dan penuh keberanian untuk tampil berbeda.
Namun di balik semarak itu, ada cerita lain yang sering luput dari sorotan. Cerita tentang proses panjang di balik sehelai pakaian. Dari tangan penjahit yang bekerja lembur, bahan yang menempuh ribuan kilometer, hingga limbah tekstil yang akhirnya menumpuk dalam diam. Kita merayakan pertumbuhan, tetapi jarang bertanya apakah yang tumbuh bersamaan dengannya, berdampak positif atau justru beban baru bagi lingkungan?
Pada titik inilah, pertanyaan penting muncul. Jika fashion lokal sedang berkembang pesat, seberapa sustainable sebenarnya kita? Sebab, di era ketika segala hal bergerak cepat, keberlanjutan bukan lagi sekadar jargon, melainkan ukuran kedewasaan industri. Bertha Puspita, seorang Fashion Designer serta Founder dan Creative Director YOUNGWOONG, membahas diskursus ini lebih lanjut secara eksklusif bersama IDN Times pada Jumat (21/11/2025). Yuk, ikuti bagaimana perkembangan fashion lokal dan sejauh mana masyarakat Indonesia sudah mulai menumbuhkan awareness dalam berbusana!
