Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Filosofi THR, Kebahagiaan Menjelang Idul Fitri
Ilustrasi THR untuk pekerja. (pexels.com/Defrino Maasy)
  • THR berawal dari tradisi berbagi di masa kolonial dan kini menjadi kewajiban perusahaan sebagai bentuk apresiasi atas kerja karyawan menjelang Idul Fitri.
  • Pemberian THR mencerminkan nilai solidaritas dan kepedulian sosial, mempererat hubungan antara pemberi dan penerima dalam suasana Lebaran yang penuh kebahagiaan.
  • Makna THR tidak hanya soal materi, tetapi juga simbol penghargaan, persaudaraan, serta wujud nyata nilai kebersamaan dalam budaya masyarakat Indonesia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Tunjangan Hari Raya (THR) menjadi salah satu momen yang paling dinantikan menjelang Idul Fitri. Bagi banyak orang, THR tidak hanya sekadar tambahan penghasilan, tetapi juga simbol kebahagiaan dan keberkahan setelah menjalani ibadah selama bulan Ramadan.

Di balik tradisi yang sudah melekat ini, THR juga memiliki filosofi tentang berbagi dan mempererat hubungan dengan sesama. Melalui pemberian THR, seseorang dapat merasakan kebahagiaan. Yuk, simak lebih lengkapnya filosofi THR dan makna di baliknya!

1. Sejarah THR

Ilustrasi THR (freepik.com/jcomp)

Tradisi pemberian THR di Indonesia tidak muncul begitu saja, tetapi memiliki akar dari nilai berbagi dalam ajaran Islam, terutama saat bulan Ramadan. Semangat berbagi ini kemudian berkembang dalam kehidupan masyarakat sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama agar semua orang bisa merayakan Idul Fitri dengan penuh kebahagiaan.

Secara historis, praktik THR mulai dikenal sejak masa kolonial Belanda ketika beberapa perusahaan memberikan uang atau barang kepada pekerja menjelang Lebaran. Setelah Indonesia merdeka, kebiasaan ini semakin meluas dan akhirnya diatur secara resmi dalam peraturan ketenagakerjaan, sehingga perusahaan diwajibkan memberikan THR kepada karyawan sebagai bentuk apresiasi atas kerja mereka sepanjang tahun.

2. Menjadi simbol kebahagiaan dan kebersamaan

ilustrasi mendapatkan uang tunjangan hari raya (freepik.com/lifeforstock)

Tradisi pemberian THR tidak hanya berkaitan dengan aspek ekonomi, tetapi juga mencerminkan nilai solidaritas dan kepedulian sosial dalam masyarakat. Melalui THR, pihak yang memiliki lebih (seperti pengusaha atau majikan) berbagi dengan karyawan sebagai bentuk penghargaan sekaligus kepedulian terhadap kesejahteraan bersama.

Seiring waktu, tradisi ini berkembang menjadi bagian dari budaya Lebaran di Indonesia. Banyak orang memberikan THR kepada keluarga, kerabat, hingga orang-orang di sekitar mereka sebagai cara berbagi kebahagiaan di hari kemenangan. Meski demikian, praktik pemberian THR juga sering memunculkan diskusi mengenai besaran dan pelaksanaannya, sehingga penting bagi semua pihak untuk tetap menjaga nilai keadilan dan semangat kebersamaan yang menjadi inti dari tradisi ini.

3. Mengandung nilai kepedulian sosial dan persaudaraan

ilustrasi tunjangan hari raya (pexels.com/bangunstockproduction)

Tradisi THR di Indonesia juga mencerminkan nilai kepedulian sosial dan persaudaraan yang kuat dalam masyarakat. Melalui pemberian THR, seseorang tidak hanya berbagi materi, tetapi juga menunjukkan perhatian serta rasa saling menghargai terhadap orang lain, terutama menjelang perayaan Idul Fitri.

Tradisi seperti THR juga dapat dipahami sebagai bentuk tindakan simbolis yang mencerminkan nilai-nilai sosial dalam masyarakat. Pemberian THR bukan sekadar kebiasaan tahunan, tetapi juga simbol penghargaan atas kerja keras. Sekaligus cara masyarakat mengekspresikan nilai kebersamaan dan penghormatan terhadap tradisi yang telah lama hidup di Indonesia.

Itu dia penjelasan mengenai filosofi THR. Kalau menurutmu, makna THR itu seperti apa?

Editorial Team