Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
7 Godaan Belanja Akhir Ramadan yang Memicu Impulsive Buying
ilustrasi belanja banyak barang (pexels.com/Max Fischer)
  • Menjelang akhir Ramadan, suasana euforia dan banjir promo membuat banyak orang tergoda melakukan impulsive buying tanpa perencanaan matang.
  • Diskon besar, flash sale, serta pengaruh media sosial dan tren memperkuat dorongan emosional untuk membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan.
  • THR dan atmosfer lebaran sering dianggap alasan berbelanja bebas, padahal bisa mengacaukan keuangan jika tidak disertai kesadaran membedakan kebutuhan dan keinginan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Menjelang akhir Ramadan, suasana euforia mulai terasa semakin kuat. Pusat perbelanjaan ramai, marketplace penuh promo, dan timeline media sosial dipadati berbagai penawaran menggiurkan. Niat awal untuk berhemat sering kali goyah, tergantikan oleh keinginan sesaat yang sulit dikendalikan.

Inilah yang disebut impulsive buying, perilaku membeli tanpa perencanaan yang matang. Tanpa saudara kita kerap terseret dalam situasi ini. Berikut tujuh godaan belanja akhir Ramadan yang paling sering bikin orang kalap tanpa sadar.

1. Diskon besar-besaran yang terlihat sayang jika dilewatkan

ilustrasi belanja (pexels.com/Karolina Grabowska)

Akhir Ramadan identik dengan potongan harga besar. Label seperti “Diskon hingga 70%” atau “Cuci Gudang” seolah memanggil siapa saja untuk segera membeli. Padahal, tidak semua barang yang didiskon benar-benar dibutuhkan.

Banyak dari kita akhirnya membeli hanya karena tergiur harga murah, bukan karena kebutuhan. Diskon ini secara otomatis memicu ilusi hemat. Padahal justru bisa membuat pengeluaran membengkak sehingga kondisi finansial tidak stabil pasca lebaran.

2. Flash sale dengan waktu yang terbatas

ilustrasi diskon (pexels.com/Max Fischer)

Promo kilat atau flash sale menjadi strategi ampuh untuk menciptakan rasa urgensi. Hitungan mundur yang muncul di layar membuat pembeli merasa harus segera bertindak sebelum kehabisan. Seolah ini menjadi kompetisi yang harus dimenangkan dalam waktu singkat.

Dalam kondisi ini, logika sering kalah oleh emosi. Tanpa berpikir panjang, kita cenderung langsung checkout demi tidak ketinggalan kesempatan emas. Bahkan keputusan diambil secara instan tanpa memperhatikan prioritas dalam jangka panjang.

3. Tuntutan untuk selalu tampil maksimal di saat lebaran

ilustrasi perempuan glamour (pexels.com/Denys Gromov)

Tentu kita sudah tidak asing dengan tradisi yang mendominasi selama lebaran. Contohnya saja tradisi memakai baju baru saat. Bahkan ini kerap menjadi alasan kuat untuk berbelanja.

Banyak orang merasa harus tampil sempurna, mulai dari outfit, sepatu, hingga aksesoris. Akibatnya, pembelian yang awalnya direncanakan sederhana bisa melebar. Kita memborong berbagai item tambahan yang sebenarnya tidak terlalu penting.

4. Pengaruh media sosial dan tren

ilustrasi belanja online (pexels.com/Cottonbro studio)

Di era digital seperti sekarang, media sosial sangat mendominasi. Tidak terkecuali dalam momentum seperti bulan Ramadan dan lebaran. Media sosial seperti etalase besar yang memamerkan berbagai produk menarik.

Influencer, selebgram, hingga teman sendiri kerap membagikan rekomendasi barang atau outfit lebaran. Tanpa disadari, hal ini menumbuhkan keinginan untuk ikut memiliki barang yang sama agar tidak merasa tertinggal tren. Rasa ingin sama inilah yang sering memicu pembelian impulsif.

5. Keberadaan promo bundling dan paket hemat

ilustrasi belanja (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Akhir Ramadan seperti sekarang ini tentu kita sudah tidak asing dengan banyaknya promo bertebaran. Penawaran seperti “beli 2 gratis 1” atau paket bundling sering kali terlihat lebih menguntungkan. Namun, justru di sinilah jebakannya.

Orang jadi membeli lebih banyak dari yang sebenarnya dibutuhkan hanya demi mendapatkan bonus. Pada akhirnya, pengeluaran jadi lebih besar dibandingkan jika membeli satuan sesuai kebutuhan. Akan kita mengorbankan kebutuhan yang lebih utama hanya untuk tren sesaat.

6. THR yang terasa seperti uang tambahan

ilustrasi menghitung uang (pexels.com/Photo by : Kaboompics.com)

Jika membahas tentang hari raya, tentu kita sudah tidak asing dengan pendapatan tambahan. Tunjangan Hari Raya (THR) sering dianggap sebagai uang ekstra. Terdapat mindset boleh dihabiskan tanpa perhitungan.

Perasaan punya dana lebih membuat seseorang lebih permisif dalam berbelanja. Padahal, jika tidak dikelola dengan bijak, THR bisa habis dalam waktu singkat tanpa memberikan manfaat jangka panjang. Bahkan pendapatan utama selain THR turut terkuras karena pengeluaran tidak terkontrol.

7. Atmosfer Ramadan yang penuh euforia

ilustrasi pernak-pernik ramadan (pexels.com/RODNAE Productions)

Momentum akhir Ramadan memang identik dengan euforia dan keseruan. Terutama mengenai kecenderungan berbelanja outfit atau segala macam pernak-pernik. Tapi di satu sisi di sinilah kita perlu mengenali godaan belanja akhir Ramadan yang memicu impulsive buying.

Suasana menjelang lebaran memang penuh kebahagiaan. Dekorasi mall, lagu-lagu khas, hingga keramaian pasar menciptakan dorongan emosional untuk ikut merayakan dengan cara berbelanja. Dalam kondisi emosional yang tinggi, seseorang cenderung lebih mudah mengambil keputusan spontan tanpa pertimbangan rasional.

Godaan belanja di akhir Ramadan memang sulit dihindari. Apalagi dengan banyaknya promo dan tekanan sosial yang ada. Namun, bukan berarti tidak bisa dikendalikan. Kunci utamanya adalah kesadaran diri membedakan antara kebutuhan dan keinginan, serta tetap berpegang pada rencana keuangan yang sudah dibuat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorAgsa Tian