Ilustrasi berkumpul (pexels.com/ds rexy)
Tradisi halal bihalal paling terasa di lingkungan keluarga. Biasanya dimulai dengan sungkeman dan saling memaafkan, sederhana tapi menyentuh. Dari momen ini, ada niat tulus untuk merapikan kembali hubungan dan memulai hari-hari setelah Lebaran dengan hati yang lebih lapang.
Di luar keluarga, halal bihalal juga hidup di kantor, sekolah, dan berbagai komunitas. Suasananya santai, ada makan bersama, obrolan ringan, dan doa penutup. Tanpa terasa, pertemuan seperti ini membuat hubungan yang sempat renggang jadi lebih dekat dan hangat.
Para cendekiawan menilai kekuatan halal bihalal justru terletak pada kesederhanaannya. Quraish Shihab pernah menyampaikan bahwa memaafkan bukan hanya tentang orang lain, tetapi juga tentang membebaskan diri dari beban emosi. Sementara itu, Hasyim Muzadi melihat halal bihalal sebagai tradisi khas Indonesia yang efektif menjaga persaudaraan sosial. Itulah sebabnya tradisi ini tetap hidup dan terasa relevan setiap Lebaran.
Halal bihalal adalah cara sederhana untuk saling memaafkan dan menjaga kebersamaan di momen Lebaran. Tradisi ini tetap relevan karena lahir dari nilai keikhlasan dan silaturahmi.