Hayu Hamemayu, penulis buk uanak Dimdum Mau Mandi. (instagram.com/toko.gumi)
Koleksi buku anak karya Hayu "Dimdum Mau Tidur" dan terbaru, "Dimdum Mau Mandi" merupakan karya fiksi yang mengangkat tema kebiasaan dasar anak, yakni tidur dan mandi. Karya ini dituturkan dari sudut pandangan anak serta digambarkan melalui ilustrasi yang imajinatif. Tujuannya adalah mendorong kemandirian anak untuk belajar melakukan kebutuhannya sendiri.
Dimdum akan menjadi karakter yang menjawab masalah sehari-hari bagi buah hati. Sosok ceria namun punya banyak pertanyaan kritis ini, sering kali penasaran, mengapa orang harus melakukan aktivitas seperti tidur dan mandi. Melalui petualangan Dimdum, anak-anak juga akan mengetahui mengapa perlu mandi dengan cara tertentu. Menariknya, koleksi fiksi ini akan menggali rasa ingin tahu anak, namun juga memberi pencerahan terkait kegiatan yang dilakukannya sehari-hari.
"Kalau misi utama saya, saya hanya ingin buku yang saya tulis itu bisa membantu anak-anak menemukan jawabannya sendiri dan mungkin membantu orangtua menjelaskan ke anak juga jawaban atas pertanyaannya. Karena menurut saya, it's part of the learning process dan ketika orangtua kadang sudah overwhelmed dengan pekerjaan atau sudah capek untuk menjawab, bukunya itu bisa jadi solusi," tutur Hayu.
Hayu menambahkan, narasi dalam buku koleksi Dimdum dikreasikan agar saat dibaca, anak-anak itu mengalami moment revelation. Artinya, ketika mengikuti petualangan Dimdum, anak akan mendapat pengalaman krusial yang membentuk presepsinya terhadap sesuatu.
Misalnya masalah mandi. Anak mungkin berpikir, bisa saja mandi pakai pasir. Akan tetapi, kok kotor ya? Atau, bisa saja mandi pakai bunga. Wangi, tapi kelopaknya menempel di mana-mana. Hal itu berarti ada logika yang coba dibangun buat anak dengan umurnya yang masih kecil untuk kemudian menyadari bahwa memang mandi itu harus pakai air.
Selain tujuan personal tersebut, Hayu menyampaikan, "Kenapa saya selalu berusaha untuk melibatkan perspektif anak-anak di dalam cerita-cerita yang saya tulis? Karena banyak buku itu kan sudut pandangnya orangtua. Kamu harus gini, kamu harus gitu. Kenapa gini? Karena memang ya harusnya gitu. Nah, logika-logika semacam itu kan menurut saya memang belum dimiliki anak karena perkembangan otaknya belum sampai di situ. Jadi, ingin sekali bisa punya buku yang sudut pandangnya pada anak."
Oleh karenanya, Hayu menyoroti kegiatan atau aktivitas sehari-hari anak seperti mandi dan tidur sebagai bagian penting dalam kehidupan mereka. Melalui aktivitas tersebut, Hayu juga berupaya memupuk curiosity dan critical thinking.
Proses kreatif yang dilakukan kurang lebih berlangsung selama 1 tahun untuk sejak proses submit naskah hingga ilustrasi dan pengembangan naskah. Namun, cerita ini sudah digarap sejak masa pandemik COVID-19. Artinya, naskah yang ditulis untuk sebuah bacaan anak, telah memlalui proses kreatif yang panjang.