Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
6 Alasan Jangan Terlalu Baik Jadi Orang, Tahu Batas Cegah Terluka
ilustrasi pertemanan (pexels.com/xomidov Photo)
  • Artikel menyoroti bahaya menjadi terlalu baik, karena bisa membuat seseorang kehilangan keseimbangan antara memberi dan menjaga diri sendiri.
  • Kebaikan berlebihan sering membuat orang lain tidak menghargai usaha kita, bahkan memanfaatkan kebaikan itu hanya saat mereka butuh.
  • Penulis menekankan pentingnya batas dalam berbuat baik agar tidak lelah mental dan tetap menghormati diri sendiri.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bagaimana pandanganmu tentang kebaikan? Semoga kamu tidak berpikir bahwa hidup cuma kasih dua pilihan yang sangat bertolak belakang. Kalau dirimu gak baik sekali, berarti jahat.

Persepsi seperti di atas bakal mendorongmu menjadi orang yang terlalu baik. Bukannya positif, ini justru negatif. Semua yang berlebihan tidak bagus. Tak terkecuali dalam hal-hal yang menurutmu baik. Menjadi orang baik juga tetap harus pilah-pilah.

Jangan langsung mengiyakan setiap hal yang diajukan padamu. Malah kamu merasa bersalah sekali apabila menolak keinginan orang lain. Lain kali jangan terlalu baik jadi orang karena penting buat siapa pun untuk tetap menjadi dermawan, namun secukupnya saja. Baca alasannya supaya kebaikan yang dilakukan tidak berubah menjadi beban, bahkan penderitaan.

1. Habis-habisan buat orang lain, gak tersisa apa pun untuk diri sendiri

ilustrasi pertemanan (pexels.com/Nowrin Sanjana)

Kamu bahkan gak seharusnya cuma mendapatkan sisa-sisa dari apa pun yang diusahakan olehmu sendiri. Misal, kamu baru saja gajian sebesar 3 juta rupiah. Dirimu langsung membagi uang itu untuk orangtua dan saudara-saudara.

Total uang yang dikirim ke mereka banyak sekali. Lebih dari separuh pendapatanmu. Setelahnya kamu kudu berjuang hidup sebulan ke depan hanya dengan uang 1 juta atau bahkan ratusan ribu rupiah saja.

Padahal, kebutuhanmu juga banyak. Orang lain boleh ikut mencicipi apa pun yang dimiliki olehmu. Terlebih orang-orang terdekat seperti keluarga. Namun, mencicipi berarti cuma sebagian kecil. Bukan hampir seluruhnya dan ujung-ujungnya kamu susah sendiri.

2. Kebaikan bahkan sosokmu malah cenderung gak dihargai

ilustrasi pertemanan (pexels.com/Vitaly Gariev)

Sampai hari ini kamu barangkali berpikir bahwa dengan menjadi manusia yang sangat baik hati, orang-orang akan amat menghargaimu. Seharusnya memang begitu. Hubungan timbal balik yang telah sepantasnya. Sayangnya, fakta di lapangan sering berbeda.

Ketika kebaikanmu sudah kebablasan, bukan respek yang diperoleh dari orang lain. Dirimu malah bakal diremehkan. Kamu menempatkan dirimu seakan-akan selalu available untuk siapa pun.

Kebaikanmu terus membanjiri mereka dan itu membuatnya terasa sebagai sesuatu yang murah. Tidak berharga. Seakan-akan dirimu gak melakukan usaha yang luar biasa guna memenuhi keinginan orang-orang. Respek butuh jarak. Tak terkecuali dengan cara membatasi kebaikanmu pada siapa pun.

3. Kamu akan sakit hati jika orang mendekatimu cuma pas butuh

ilustrasi pertemanan (pexels.com/Fadhilah Shaleh)

Kamu hanya manusia biasa. Perasaanmu gak kebal. Justru kebaikanmu yang luar biasa menjadi pertanda bahwa hatimu begitu peka. Makanya dirimu sangat peduli pada orang lain.

Oleh sebab itu, jangan ceroboh dalam berbuat baik tanpa memikirkan seandainya orang lain gak membalas kebaikanmu. Bahkan bukan hanya kebaikanmu tak berbalas, melainkan mereka mendekatimu cuma pas butuh. Di luar itu, mereka justru dapat bersikap seolah-olah tak mengenalmu.

Tidak ada orang yang senang diperlakukan seperti itu. Namun, kamu pun jangan membuka kesempatan buat orang lain memperlakukanmu demikian. Dirimu memang tetap harus menjadi orang baik. Hanya saja, kebaikanmu kudu terukur bila gak ingin sakit hati di kemudian hari.

4. Sesuatu yang diminta gak benar-benar dibutuhkannya dan menjadi mubazir

ilustrasi pertemanan (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Terkadang orang yang datang padamu untuk meminta sesuatu belum tentu benar-benar membutuhkannya. Misal, kamu setiap hari membawa bekal masakan sendiri. Teman berkomentar, "Kayaknya enak, nih. Mau juga dong."

Lalu dirimu berbaik hati membagi bekal dengan wadah lain untuknya. Namun, apakah benar makanan itu disantapnya sampai habis? Dirimu sudah menyisihkan bekal, yang berarti makananmu berkurang.

Namun, orang lain boleh jadi cuma memasukkannya ke dalam tas dan tak pernah menyantapnya kecuali sangat sedikit. Di rumahnya, makanan itu diletakkan begitu saja di meja hingga basi dan harus dibuang. Begitu pula hal-hal lain yang diberikan olehmu sepenuh hati, tapi tersia-siakan di tangan orang lain.

5. Usahamu maksimal, effort orang minimal

ilustrasi pertemanan (pexels.com/Charlotte May)

Tidak ada kata mudah untukmu memperoleh atau mencapai sesuatu. Contoh simpel, kamu mati-matian mengerjakan tugas-tugas kuliah sebaik mungkin. Dirimu mencari buku-buku referensi di berbagai perpustakaan.

Setiap kata dalam hasil pengerjaan tugas itu merupakan buah pikirmu. Lalu teman dengan gampangnya hendak meminjam hasil kerjamu buat disalin. Satu tugas dikerjakan olehmu berhari-hari. Kawan yang berniat copas cuma butuh sekian detik buat menikmati nilai yang sama.

Jangan mau memuluskan jalan orang dengan cara yang bikin perjuanganmu sendiri terasa gak berharga. Apalagi kamu betul-betul akan dirugikan bila memenuhinya. Inilah waktunya buat bersikap pelit di saat yang tepat.

6. Terlalu diandalkan bikin lelah mental

ilustrasi pertemanan (pexels.com/Syifa Aulia)

Awalnya kamu mungkin bangga karena diandalkan oleh orang lain. Itu membuatmu merasa keberadaan dan kemampuanmu diakui oleh mereka. Dirimu merasa tersanjung karena dinilai sebagai satu-satunya orang yang dapat melakukan sesuatu untuk mereka.

Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, apabila ini terus terjadi, maka dirimu bakal kelelahan secara mental. Kamu juga butuh waktu dan ruang buat diri sendiri. Namun, sikap orang lain yang terlampau mengandalkanmu seperti gak kenal waktu.

Bila pun secara tenaga masih ada, pikiran dan emosi sudah sangat terkuras. Hidup menjadi tidak tenang. Pikiran gak bisa fokus ke urusan-urusan pribadimu saja. Lelah karena keperluan sendiri tentu tak apa-apa. Namun, tidak perlu kamu capek psikis karena ketergantungan orang padamu.

Saran untuk jangan terlalu baik jadi orang bukan berarti mengajakmu berubah jadi jahat. Malah, baik berlebihan pada siapa saja bisa membuatmu dijahati oleh mereka. Juga sama dengan kamu yang kejam kepada diri sendiri. Sewajarnya saja dalam berbuat baik. Bukan apa-apa dilakukan atau diberikan kepada orang lain.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team