Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi seseorang berusaha menenangkan teman kerjanya (pexels.com/Yan Krukau)
ilustrasi seseorang berusaha menenangkan teman kerjanya (pexels.com/Yan Krukau)

Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang terjadi di mana-mana belakangan ini memang membuat banyak karyawan merasa resah. Kehilangan kendali atas sesuatu yang sangat penting, seperti pekerjaan tidak hanya menimbulkan kesedihan, tetapi juga kekhawatiran.

“Saat seseorang diberhentikan dari pekerjaan, ia mungkin akan mengalami stres, kesal, bingung, dan cemas tentang pilihan selanjutnya,” kata psikoterapis Matt Lundquist, LCSW, dikutip dari Oprah Daily. “Namun, kamu masih bisa memberikan dukungan lewat cara yang tepat agar beban mereka sedikit berkurang,” imbuh Judith Martin, kolumnis etiket Miss Manners dan penulis buku Miss Manners Minds Your Business, dilansir Money.

Jika kamu belum bisa memberikan bantuan secara signifikan, setidaknya jangan memperburuk keadaan dengan melontarkan kata-kata yang berpotensi menyakiti hati. Sebagai pengingat untuk hari ini, esok, dan seterusnya saat kamu menghadapi situasi serupa, berikut ada sejumlah kalimat yang sebaiknya tidak kamu katakan kepada teman atau seseorang yang di-PHK.

1. “Apa yang kamu lakukan sehingga bisa di-PHK?”

ilustrasi berbicara dengan teman (pexels.com/KATRIN BOLOVTSOVA)

Ketika kamu mendapati seorang teman, kerabat, atau rekan kerja yang terkena PHK, alangkah baiknya jika tidak melontarkan pertanyaan, seperti “Apa yang kamu lakukan sehingga di-PHK?”. Perlu diketahui, Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan dipecat bukanlah sesuatu yang sama.

Dalam konteks ini, kata ‘dipecat’ umumnya mengacu pada pemutusan kerja akibat kesalahan atau pelanggaran karyawan, misalnya kinerja buruk, pelanggaran aturan, dan tindakan yang tidak etis. Sementara itu, PHK adalah istilah resmi dalam ketenagakerjaan yang merujuk pada pemutusan kerja biasanya terjadi karena faktor perusahaan itu sendiri, bukan semata kesalahan karyawan, seperti perusahaan yang merugi, kontrak kerja telah berakhir, dan masih banyak lagi.

Mengucapkan kalimat di atas seolah memberikan konotasi negatif bahwa orang yang di-PHK adalah mereka yang melakukan kesalahan dalam pekerjaannya. Padahal, belum tentu demikian. Kalimat tersebut justru bisa membuat orang yang bersangkutan semakin merasa bersalah dan tidak berdaya.

2. “Apakah sudah ada jadwal wawancara?”

ilustrasi berbicara dengan teman (pexels.com/Monstera Production)

Dilansir Bustle, tak sedikit orang yang mengatakan, “Apakah sudah ada jadwal wawancara?” kepada mereka yang di-PHK. Di satu sisi, menanyakan hal ini mungkin bermaksud baik, yaitu memastikan apakah orang yang terdampak PHK telah memiliki pekerjaan baru atau belum. Namun, tanpa disadari pertanyaan tersebut justru bisa menyinggung perasaan mereka, lho.

Setiap orang berhak memperoleh pesangon akibat pemutusan hubungan kerja. Namun, jumlah pesangon setiap individu mungkin berbeda. Ada yang mencukupi, ada pula yang pas-pasan. Namun, sebagian dari mereka mungkin butuh waktu untuk memproses apa yang terjadi, membuat rencana baru, dan memutuskan langkah apa yang harus ditempuh.

Sebagian orang mungkin bisa langsung tergerak mencari pekerjaan usai di-PHK, tapi sebagian yang lain mungkin lebih memilih meningkatkan skill atau mempelajari keterampilan baru demi mengejar karier yang lebih baik. Pertanyaan di atas bisa terasa seperti meminta seseorang yang sedang berduka untuk segera merasa bahagia.

“Di-PHK adalah pengalaman traumatis,” ujar Martin.

Jadi, alih-alih menanyakan pertanyaan tersebut, ada baiknya bila kamu memberikan ruang dan waktu bagi mereka yang terdampak PHK untuk memproses pengalaman ini dan memulihkan diri.

3. “Kamu akan baik-baik saja.”

ilustrasi mengobrol dengan teman (pexels.com/Christina Morillo)

Mungkin tidak ada satu pun orang yang ingin diberhentikan dari pekerjaan mereka, bahkan jika pekerjaan itu bukanlah pekerjaan impian. Sebab, bekerja bukan hanya soal meniti karier dan kesuksesan, tetapi juga untuk bertahan hidup.

Mengatakan “Kamu akan baik-baik saja” kepada orang yang di-PHK bukanlah ungkapan tepat. Sekali lagi, tidak ada satu orang pun yang ingin diberhentikan dari pekerjaan. Jadi, ungkapan tersebut seolah menyangkal perasaan mereka yang sebenarnya sedang terluka, bingung, cemas, dan khawatir akan masa depan.

“Alternatif yang tepat adalah ubah caramu dalam menunjukkan kepedulian terhadap orang tersebut menjadi sebuah pertanyaan, bukan pernyataan. Misal, ‘Bagaimana perasaanmu tentang situasi ini?’. Mengajukan pertanyaan terbuka setidaknya bisa membantu mereka mengutarakan perasaan yang sebenarnya,” kata Lundquist.

Memberikan dukungan kepada orang yang baru kehilangan pekerjaan bukan sekadar bentuk kebaikan, tetapi juga dapat membawa dampak positif yang luar biasa bagi mereka yang menerimanya. Mungkin bentuk bantuan paling sederhana yang bisa kamu berikan saat ini adalah lewat kata-kata, tapi pastikan ucapkan tersebut tidak melukai perasaan atau membuat orang lain merasa tidak nyaman, ya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team