Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi wanita berbaring di tempat tidur sambil menggunakan ponsel
ilustrasi wanita berbaring di tempat tidur sambil menggunakan ponsel (pexels.com/Produksi SHVETS)

Intinya sih...

  • Membuka media sosial saat ada jeda singkat

  • Mengaktifkan terlalu banyak notifikasi berita

  • Membaca kolom komentar di topik sensitif

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Doomscrolling sering terjadi tanpa terasa karena terlihat seperti kebiasaan scrolling biasa dalam penggunaan ponsel sehari-hari. Kamu merasa hanya ingin update info, tetapi akhirnya tenggelam di deretan berita buruk yang terus bermunculan di berbagai media digital. Semakin dibaca, semakin sulit berhenti karena otak terus mencari lanjutan, detail tambahan, dan konteks baru yang terasa penting.

Masalahnya, pemicunya sering bukan hal besar, melainkan kebiasaan kecil yang tampak sepele dan dilakukan berulang tanpa disadari. Pola ini dilakukan berulang sampai menjadi refleks otomatis setiap kali memegang ponsel di berbagai situasi santai. Supaya lebih mudah mengenalinya, berikut beberapa kebiasaan kecil yang diam-diam membuat doomscrolling makin parah dan makin sulit dihentikan.


1. Membuka media sosial saat ada jeda singkat

ilustrasi wanita menggunakan ponsel di luar ruangan (pexels.com/Anna Shvets)

Kebiasaan membuka media sosial saat menunggu atau bosan sering dianggap tidak berbahaya dan hanya sekadar pengisi waktu kosong. Padahal, jeda singkat memberi ruang bagi otak mencari rangsangan cepat yang terasa instan dan memicu rasa ingin tahu. Konten bernuansa kuat membuat perhatian langsung terkunci lebih lama dari rencana awal yang tadinya sangat singkat.

Scroll yang awalnya hanya beberapa menit berubah menjadi sesi panjang tanpa arah dan tanpa tujuan yang jelas. Kamu membuka satu topik, lalu berpindah ke topik lain yang lebih berat, dramatis, dan memancing rasa cemas. Tanpa sadar, jeda istirahat berubah menjadi kebiasaan mencari kabar negatif berulang yang menyita energi mental.


2. Mengaktifkan terlalu banyak notifikasi berita

ilustrasi seseorang memegang ponsel pintar (pexels.com/Stanley Ng)

Notifikasi membuat setiap informasi terasa mendesak dan perlu dibuka segera tanpa ditunda sama sekali. Otak merespons bunyi dan tanda muncul sebagai sinyal prioritas yang terasa penting dan harus diperiksa. Akhirnya, kamu membuka aplikasi, bahkan saat sedang fokus bekerja, belajar, atau berbicara dengan orang lain.

Semakin sering notifikasi muncul, semakin sering kamu terdorong mengecek kabar terbaru tanpa pertimbangan yang cukup matang. Banyak notifikasi berisi berita krisis, konflik, dan kejadian darurat karena jenis itu paling menarik perhatian pengguna. Paparan berulang membuat dorongan scroll terus hidup, aktif, dan sulit diputus secara sadar.


3. Membaca kolom komentar di topik sensitif

ilustrasi wanita berkacamata sedang menggunakan ponsel (pexels.com/Karolina Grabowska www.kaboompics.com)

Kolom komentar sering lebih panas daripada isi kontennya dan penuh respons emosional yang tajam. Banyak perdebatan, sindiran, dan opini keras yang memancing reaksi emosional dari para pembaca. Rasa penasaran membuat kamu terus membaca tanggapan demi tanggapan yang semakin panjang.

Saat emosi sudah terlibat, otak sulit berhenti di tengah alur konflik dan perdebatan yang memanas. Kamu ingin tahu siapa yang paling masuk akal dan bagaimana akhir perdebatan tersebut. Semakin lama dibaca, suasana hati makin tegang dan dorongan scroll makin kuat, serta semakin sulit dikendalikan.


4. Mencari update lanjutan dari berita yang sama

ilustrasi seseorang sedang menggunakan ponsel pintar di rumah (pexels.com/Matheus Bertelli)

Setelah membaca satu berita buruk, muncul dorongan mencari perkembangan terbarunya di berbagai sumber berbeda. Kamu merasa perlu mengikuti cerita sampai tuntas agar tidak tertinggal informasi terbaru. Padahal, banyak sumber hanya mengulang inti informasi dengan sudut penulisan yang berbeda.

Perilaku ini menciptakan lingkaran konsumsi topik yang sama secara berulang dan terus-menerus. Otak tetap siaga seolah ada ancaman baru, meski isinya tidak banyak berubah. Energi mental terkuras hanya untuk memastikan kamu sudah membaca semuanya secara lengkap.


5. Scroll saat tubuh sudah lelah

ilustrasi wanita berbaring di tempat tidur sambil menggunakan ponselnya (pexels.com/Ron Lach)

Saat tubuh dan pikiran lelah, kemampuan mengendalikan diri ikut menurun cukup drastis. Kamu cenderung memilih aktivitas pasif yang tidak menuntut banyak usaha berpikir. Scroll terasa paling mudah karena tidak perlu persiapan, tenaga, atau keputusan yang rumit.

Di kondisi lelah, kemampuan menyaring konten juga melemah dan tidak seketat biasanya. Informasi negatif lebih mudah memengaruhi perasaan dan bertahan lebih lama di pikiran. Karena kontrol menurun, durasi scroll jadi lebih panjang dan sering berlanjut tanpa batas jelas.

Doomscrolling jarang dimulai dari keputusan besar yang disengaja. Biasanya, kebiasaan ini tumbuh dari pola kecil yang diulang setiap hari tanpa disadari. Mengenali pemicu sederhana adalah langkah awal untuk memutus siklusnya. Semakin peka pada kebiasaan sendiri, semakin mudah menghentikan scroll sebelum berubah jadi kebiasaan yang menguras mental.


This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorAgsa Tian